Opini

Opini: Memahami Teori John Effect

Singkatnya, nasihat untuk tidak pamer telah usang. Di dunia yang default-nya adalah digital, keheningan setara dengan ketiadaan.

Editor: Dion DB Putra
POS-KUPANG.COM/HO-DOK PRIBADI
Inosensius Enryco Mokos 

Oleh: Inosensius Enryco Mokos
Dosen Ilmu Komunikasi dan Filsafat ISBI Bandung

POS-KUPANG.COM - Di tengah pusaran informasi digital, sebuah tindakan yang dulunya dicap sebagai kesombongan, memamerkan keberhasilan, kini bertransformasi menjadi mata uang sosial dan ekonomi. 

Pandangan ini bertolak belakang dengan nasihat bijak yang pernah saya terima. 

Saya ingat betul tahun 2019, setelah memutuskan untuk mengundurkan diri dari seminari St. Paulus Ledalero, seorang teman menyarankan agar saya berhati-hati saat memasuki "dunia luar." 

"Jangan terlalu suka memamerkan keberhasilan, nanti kamu dicap sombong dan iri hati orang lain," katanya dengan tulus. 

Pada konteks saat itu, saran tersebut sangat relevan. Budaya kita menjunjung tinggi kerendahan hati dan melihat pujian diri sebagai keangkuhan. 

Baca juga: Opini: Mitos Standarisasi dan Wabah GERM dalam Pendidikan Kita

Namun, di era koneksi global dan ekonomi kreatif saat ini, saran yang sama justru terasa tidak tepat lagi. Membatasi diri dalam berbagi keberhasilan sama saja dengan mematikan peluang. 

Inilah yang melahirkan sebuah perspektif baru ilmu komunikasi, yang saya sebut sebagai Teori Efek Yohanes.

Teori Efek Yohanes mengambil inspirasi dari kutipan Alkitab yang mendalam, Yohanes 16:24: "Mintalah maka kamu akan menerima, supaya penuhlah sukacitamu” (Tunjukan supaya orang melihat, maka penuhlah sukacitamu). 

Secara tradisional, ayat ini ditafsirkan dalam konteks spiritual, menekankan pentingnya doa dan ketergantungan pada Tuhan untuk mencapai kepenuhan sukacita. 

Namun, Teori Efek Yohanes menafsirkannya ulang dalam konteks sosial dan ekonomi digital: Keberhasilan (yang didapatkan melalui upaya/permintaan) harus diwujudkan dan dibagikan (diterima orang lain) agar sukacita (peluang baru dan pengakuan) menjadi penuh. 

Memamerkan keberhasilan di media sosial bukanlah narsisme kosong, melainkan sebuah ritual "meminta" pengakuan, validasi, dan yang paling penting, katalis untuk peluang profesional yang lebih besar. 

Fenomena ini, jika dianalisis secara mendalam, mengungkapkan bagaimana tindakan berbagi yang terlihat "dangkal" ternyata menjadi mesin penggerak dalam ekonomi kreator modern.

Dari Keangkuhan Moral Menuju Investasi Identitas (Self-Branding)

Pergeseran nilai dari menahan diri menjadi manifestasi diri adalah inti dari Teori Efek Yohanes. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved