Opini

Opini: Pariwisata, Leading Sector Pembangunan NTT

Disinyalir masih ada empat tantangan perlu ditangani untuk membantu mendorong pariwisata menjadi leading sector pembangunan NTT.

Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI ALBERT NOVENA
Albert Novena 

Oleh: Albert Novena, SVD
Tinggal di Seminari Tinggi Ledalero, Maumere, Nusa Tenggara Timur

POS-KUPANG.COM - Provinsi Nusa Tenggara Timur ( NTT) dengan penduduknya lebih dari lima juta jiwa memiliki beragam potensi aset wisata pada alam, laut, budaya, kesenian, kearifan lokal,etnis dan agama.

Tentu saja semua potensi ini merupakan kekayaan terberi dari Sang Pencipta untuk diolah lebih lanjut dalam pembangunan pariwisata demi kesejahteraan hidup masyarakatnya.

Ada 21 kabupaten dan 1 kota, dan tiap kabupaten dan kota itu dapat mengembangkan pembangunan pariwisata daerahnya menurut Undang-Undang No.10 Tahun 2009 mengenai Kepariwistaan RI. 

Ada kabupaten dalam program pembangunan daerahnya mau menjadikan pariwisata  sebagai leading sector.

Pada umumnya, bila suatu sektor pembangunan dipilih menjadi leading sector atau juga disebut sebagai lokomotif pembangunan, misalnya pembangunan pariwisata, maka sektor tersebut harus diusahakan memenuhi empat persyaratan dasar berikut ini. (Rachbini Didik J, 2001,p. 11-13),

Baca juga: Gubernur Bali, NTB dan NTT Bertemu, Bahas Kerja Sama Regional di Bidang Pariwisata dan Perdagangan

Pertama, sektor yang memimpin itu harus menghasilkan produk berkualitas tinggi agar dapat menarik banyak permintaan dari banyak konsumen atau pembeli. 

Dalam pembangunan pariwisata, kualitas tinggi produk itu mengenai kualitas performance 4A yakni attraction atau daya tarik (alam dan budaya, situs bersejarah atau buatan).

Amenities (seperti perhotelan, restoran, sarana hiburan), accessibility (seperti moda transportasi, mutu jalan raya dan bandara, pelabuhan), ancillary services atau layanan pendukung (seperti biro perjalanan, pemandu wisata, bank, pusat perbelanjaan). 

Tujuan menyediakan produk 4A berkualitas tinggi tentu saja untuk memberi kepuasan berwisata bagi wisatawan dan menarik banyak wisatawan berkunjung. 

Bila salah satu dari produk itu kurang bermutu maka wisatawan tidak berminat datang.

Misalnya di banyak daerah mutu jalan ke detinasi wisata masih jelek, sampah berserakan di tempat destinasi, tata kelola destinasi dan obyek wisata masih semrawutan, jadwal penerbangan berubah-ubah, pemandu yang memeras, harga tiket masuk destinasi yang melangit dll.

Kedua, pemanfaatan teknologi secara kreatif untuk meningkatkan kapasitas produksi. 

Misalnya pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi digital yang sangat memudahkan promosi dan pemasaran produk.

Ketiga, meningkatkan investasi modal usaha dari keuntungan jualan produk baik kualitas maupun kuantitas. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved