Opini
Opini: FOMO Versus FRUGAL
Dari data yang ditampilkan menunjukkan bahwa 76,9 persen dari konten frugal living bernada positif.
Oleh: RD. Milin Kowa
Rohaniwan dan Staf Pengajar di Seminari Pius XII Kisol, Manggarai Timur
POS-KUPANG.COM - Kompas (14/4/025) menampilkan hasil olahan data oleh Tim Jurnalisme Data Harian Kompas terkait sentimen gaya hidup hemat dan FOMO (Fear of Missing Out) dari Monitoring Media Litbang Kompas sepanjang November 2024 hingga pertengahan Februari 2025.
Dari data yang ditampilkan menunjukkan bahwa 76,9 persen dari konten frugal living bernada positif.
Artinya mayoritas tertarik dengan gaya hidup frugal. Gaya hidup frugal ini menjadi pilihan karena di tengah arus modernisasi, ada begitu banyak tawaran hidup yang mampu menguras kantong.
Tawaran-tawaran itu hadir melalui media sosial dan konsumennya adalah netizen itu sendiri.
FOMO (Fear of Missing Out) dan Konsumeristik
Globalisasi membawa perubahan sosial yang sangat signifikan bagi kehidupan manusia.
Baca juga: Opini: In Illo Uno Unum
Hal ini nampak pada modernisasi aspek kehidupan manusia bahkan sampai pada konsep tentang kebutuhan.
Di tengah arus globalisasi, kebutuhan mengalami pergeseran makna melalui salah satu fenomena yakni fomo atau takut ketinggalan zaman.
Fenomena fomo terkesan memaksa siapapun untuk menikmati ataupun mengkonsumsi berbagai produk baru agar terlihat keren.
Konsekuensinya, fomo akan menghantar orang untuk menjadi pribadi yang konsumeristik.
Orang tidak lagi memenuhi seleranya berdasarkan kebutuhan, melainkan berdasarkan keinginan. Akibatnya, segala sesuatu yang baru mesti dirasakan dan dimiliki.
Konsumerisme itu erat kaitannya dengan keinginan manusia untuk memiliki lebih.
Hal itu bisa dijelaskan melalui konsep Erick Formm, seorang filsuf dan psikolog Jerman-Amerika, tentang Having more dan Being more dalam bukunya “Mempunyai atau Mengada? To Have or To Be?”
Menurutnya orang yang memiliki orientasi having more cenderung memprioritaskan materi, status dan kekayaan dalam hidupnya (Aquarina Kharisma Sari: IRCiSoD, 115).
Mereka berpikir bahwa memiliki lebih banyak barang, uang, dan sumber daya akan membawa kebahagiaan dan kepuasan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Milin-Kowa2.jpg)