Opini

Opini: Duo Monteiro

Sebuah arti simbolis. Sekitar 185 ribu umat Keuskupan Larantuka berada di lembah, berkutat sebagai petani,  ternak, dan nelayan. 

|
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI ROBERT BALA
Robert Bala 

Narasi Uskup Monteiro: Gregorius dan Hans 

Oleh: Robert Bala
Penulis buku Homili yang Membumi. Penerbit Kanisius Yogyakarta, Cetakan ketiga.

POS-KUPANG.COM - Sejak Pastor Paulus Budi Kleden, SVD menjadi  Uskup Agung Ende, semakin banyak orang tahu bahwa apa yang dijabat Budi sekarang tidak bisa dilepaskan dari ‘bapa besarnya’, Mgr Paulus Sani Kleden, SVD yang menjadi Uskup Denpasar. Julukan ‘duo kleden’ tentu tepat.

Istilah ini kemudian dimunculkan kembali saat Romo Yohanes Hans Monteiro, Pr diangkat jadi Uskup Larantuka. 

Baca juga: Uskup Larantuka Terpilih Romo Hans Monteiro Menyapa Umat: Malam Bae Semua

Ingatan pada Uskup Gregorius Monteiro, SVD yang terkenal lemah lembut, sederhana mencuat. Lagi-lagi ‘duo monteiro’. 

Namun penggunaan ‘duo monteiro’ dalam tulisan ini tidak sekadar menyanjung satu klan keluarga yang telah memiliki dua figur sentral sebagai uskup. 

‘Duo monteiro’ lebih dilihat secara simbolis sebagai kekuatan (sekaligus harapan) dan kekompakan  karena kini bukan hanya satu monteiro tetapi sudah jadi dua. 

Bukan Asal Nama 

Di NTT, nama Monteiro tentu tidak sekadar nama. Pengangkatan Rm Yohanes Hans Monteiro, SVD menjasi Uskup Larantuka sebenarnya mengingatkan sekaligus memperkuat nama yang sudah ada di Keuskupan Agung Kupang, Mgr Gregorius Monteiro, SVD. 

Sejak menjadi uskup 13 April 1967, ia tidak menjadi pemimpin yang menggebu-gebu menghadirkan kekatolikan. Yang ia lakukan hanyalah menjiwai motonya: Opus Justitiae Pax”, yang berarti “Karya Keadilan Adalah Damai.” 

Itu berarti sebelum mewartakan ajaran (apalagi di level ibu kota provinsi Nusa Tenggara Timur), yang perlu diwujudkan adalah perdamaian tidak saja secara rohani tetapi benar-benar dirasakan dalam kehidupan sosial. 

Setelah  30 tahun menjabat, ia buktikan,  keadilan telah dia tunjukkan. Keuskupan Agung Kupang (KAK) yang awalnya hanya  keuskupan diaspora berubah wajar menjadi keuskupan yang menyebar, dan bersifat multikultural. 

Keberanian mendirikan Seminari Menengah St. Rafael Oepoi Kupang (1984) maupun Seminari Tinggi St. Mikael Penfui (1991) hanyalah merupakan tuaian dari benih keadilan yang telah ditanamkan.

Di barisan rohaniwan, cucu dan cece Monteiro tidak sedikit. Jadinya tidak sekadar duo (2), tetap telah menjadi quinque (5, decem (10), malah bisa duodecim (12), bahkan 20 (viginti) hingga 50 (quīnquāgintā quīnque) dan mungkin 100 (centum).

Di level kepemimpinan duniawi, deretan Monteiro turunan Paulo Monteiro yang menikah dengan Dona Boko DVG juga melahirkan birokrat ulung.  

Cyprianus Yoseph Monteiro (saudara kandung Uskup Gregorius Monteiro) bupati Flotim (1967-1973), dari turunan Matheus Monteiro salah satunya. 

Sebelumnya, saudara sepupunya, Lodovius Emanuel Monteiro bahkan telah menjabat sebagai Kepala Daerah Flores (1952-1959). 

Felix Fernandez, Bupati Flotim 2000-2005 juga adalah anak darii Maria Fatima Monteiro. 

Bila ditambahkan dengan anak mantu bupati Sumba Barat Daya 2016-2021 (Agustinus Niga Dapawole) dan Wakil bupati Sumba Bara Daya (Ndara Tanggu Kaha), maka ‘pasukan monteiro’ tidak hanya dua tetapi malah lebih dari itu. 

Turun Gunung 

Sejarah Monteiro yang terpateri di Larantuka dan menyebar ke NTT malah seluruh Indonesia, membuka kesadaran bahwa terpilihnya Yohanes Hans Monteiro, Pr sebagai Uskup Larantuka tidak membuatnya lebih tinggi.  

Putera Paulo Monteiro, Emanuel Monteiro, bahkan telah menjadi salah satu dari  Triumvirat di  Kerajaan Larantuka. Artinya, meski tidak menjadi uskup pun, Hans dan keluarga besarnya sudah berada di sana. 

Lebih lagi melalui 7 putera dan puteri dari Emanuel Monteiro dan Sarlota King da Costa yakni Gregorius (kakek Uskup Gregorius), Philomena, Yakobus, Hubertus (buyutnya Uskup Hans), Yoseph, Paulus, Maria Fatima telah melahirkan anak, cucu, cece, bahkan buyut  (lapisan 3), dan cangga (4)  dan wareng (5) dengan jangkauan pengaruh yang tidak sedikit. 

Secara pribadi, Yohanes Hans Monteiro juga tidak kalah prestasi. Berada di Austria selama 13 tahun (2005-2018) menunjukkan bahwa ia bisa berkiprah di Eropa. 

Atau juga berada begitu lama di benua biru bisa juga menjadi godaan untuk terus berada di sana karena untuk apa kembali ke Larantuka yang sudah diketahui kondisinya. 

Tidak hanya itu. Sekembali dari Eopa, kini sudah 7 tahun di STFK dan kemudian IFTK Ledalero dengan jabatan sebagai wakil rektor. Terbayang, Hans  sudah mulai merasakan kenyamanan. 

Minimal ia  mulai meretas jenjang akademik yang bagi teman seumuran, mereka sudah lebih jauh.  Penelitian dan Pengabadian kepada Masyarakat tengah ‘sengit-sengitnya’ dilakukan dengan sejumlah impian yang tentu tidak sedikit. 

Bila dianalogkan,  dua posisi terakhir memberikan kenyamanan bak berada di atas bukit (monte). Di sana ada ketenangan, tempat perlindungan, dan tempat yang aman. Kini Hans harus turun bukit (monte). 

Tetapi keberanian untuk turun akan menjadikan Hans dikenal sebagai ‘monte’ (bukit) ‘eiro’ (pekerjaan). Bila dijuluki ‘Monte-eiro’ (Monteiro), maka itu berarti dianggap sebagai pekerjaan dari bukit atau orang bukit. 

Sebuah arti simbolis. Sekitar 185 ribu umat Keuskupan Larantuka berada di lembah, berkutat sebagai petani,  ternak, dan nelayan. 

Selama 51 tahun terakhir bersama Uskup Darius Nggawa SVD dan Uskup Frans Kopong Kung, umat telah menanamkan fondasi Komunitas Basis Gerejani (KBG). Ada hasil berupa partisipasi liturgis yang sangat aktif. 

Tetapi apakah model umat basis seperti di Amerika Latin sebagai pusat gerakan ekonomis dan sosial sudah terwujud? Banyak orang masih ragu-ragu menjawabnya dan Uskup Hans pasti lebih tahu. 

Namun bagi Uskup Hans yang dari 26 tahun imamat hanya 5 tahun bekerja di Keuskupan Larantuka bisa menjadi sebuah keuntungan.  

Sebagai orang baru, kadang lebih mudah mendeteksi faktor penyebab yang mungkin bagi yang terlalu lama sudah menganggapnya ‘begitu sudah’. 

Selain itu dengan pengalaman sebagai ilmuwan, mestinya tidak butuh waktu lama untuk mendeteksi faktor utama sepeti Uskup Gregorius telah melakukan dengan keadilan dan perdamaian di KAK. Di situlah harapan itu berada di pundak Ama Hans. 

Sebagai seorang yang mengenal Hans sebagai adik kelas, saya yakin ketulusan dan kebijaksanaan merupakan keunggulan dari dalam dan tidak sekadar tempelen dari luar. 

Dengan itu saya yakin, Keuskupan Larantuka di tangan Ama Hans akan lebih membumi (dengan petani, peternak, dan nelayan) dan begitu, membuat Keuskupan Larantuka lebih bersinar. (*)

Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News 

 

Sumber: Pos Kupang
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved