Opini

Opini: Ziarah Pengharapan Digital

Dulu ziarah selalu berkaitan dengan pengorbanan, askese, pantang demi pencapai pemulihan, penyembuhan dan penebusan. 

|
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI MELKI DENI
Melki Deni, S. Fil 

Oleh: Melki Deni, S.Fil
Mahasiswa Teologi di Universidad Pontificia Comillas, Madrid, Spanyol.

POS-KUPANG.COM - Pada malam 31 Juli 2025, setelah berziarah melewat Pintu Suci Basilica Papale di San Paolo fuori le Mura, dan mengikuti misa di dalamnya bersama ribuan peziarah dari berbagai negara, Corinna Oiß dan saya berjalan-jalan sambil diskusi tentang banyak hal.

Karena waktu menunjukkan pukul 23:47, kami hanya berjalan di sekitar jalan Silvestro Gherardi, Roma, Italia, tidak jauh dari tempat karantina. 

Kami bertemu beberapa kelompok peziarah lain yang sedang makan dan minum di pinggiran restauran.

Saya bertanya kepada Corinna terkait dengan rencana tempat liburan atau ziarah musim panas yang akan dikunjunginya tahun depan—orang-orang Eropa biasanya mempunyai program hidup yang tetap baik yang jangka pendek maupun jangka panjang: Mungkin itulah sebabnya hidup mereka teratur, disiplin, dan pandai mengatur keuangan! 

Baca juga: Seminari St. Fransiskus Asisi Sinar Buana Sumba Barat Daya Adakan Ziarah Porta Sancta

Corinna menjawab bahwa liburan musim panasnya belum pasti karena ia harus kerja dengan UNICEF Jerman di Republik Kamerun, Afrika Tengah.

Kami mulai berbicara tentang kesukaan manusia zaman sekarang melakukan ziarah. 

Ziarah kini tidak seperti yang dibuat oleh nenek moyang pada zaman sebelumnya: berziarah ke padang gurun, tempat rohani atau situs-situs bersejarah yang antik. 

Dulu ziarah selalu berkaitan dengan pengorbanan, askese, pantang demi pencapai pemulihan, penyembuhan dan penebusan. 

Ziarah dipahami sebagai kegiatan rohani: peziarah melakukan ziarah keluar dari sini kini, menuju satu tujuan (tempat, suasana dan kondisi).

Ziarah saat ini tidak membentangkan jarak antara di sini dan di sana. Tidak ada batas antara peziarah yang berziarah dan rumah, pekerjaan, dan kesibukan lainnya.

Alih-alih sedang keluar dari sini kini menuju ke sana, peziarah justru membawa “yang ada di dalam” di sini kini yaitu pekerjaan, kecemasan, kekhawatiran, dan ketakutan akan kebebasan. 

Tidak ada garis batas yang jelas antara rumah, tempat kerja, universitas, tempat ibadat dan tempat tujuan ziarah. 

Tidak sedikit peziarah masih harus berkomunikasi dengan teman kerja, keluarga, dan sahabat lewat media sosial. 

Ziarah zaman ini tidak berliku-liku, melewati curam yang dalam, dan tidak memiliki daya gaib lagi spiritual seperti sebelumnya, karena peziarah sudah diprogramkan, dikondisikan dan diatur: jalur, waktu, dan batas tempat.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved