Opini
Opini: Para Pencinta dan Pembenci
Jarak dan waktu menjadi semakin pendek dan dalam hitungan detik kita bisa terhubung dengan orang lain di belahan dunia lain.
Oleh: Herman Musakabe
Gubernur Nusa Tenggara Timur periode 1993-1998
POS-KUPANG.COM - “Jangan persulit hidupmu dengan membenci orang lain, karena waktu semakin singkat, umur semakin berkurang dan ajal semakin dekat. Lebih baik sibukkan dirimu untuk berbuat baik pada sesama, tapi bukan merasa dirimu yang paling baik”.
Saat ini kita sedang hidup dalam era teknologi informasi dan komunikasi yang luar biasa cepat akibat kemajuan teknologi.
Jarak dan waktu menjadi semakin pendek dan dalam hitungan detik kita bisa terhubung dengan orang lain di belahan dunia lain.
Perkembangan teknologi dan komunikasi telah membawa dampak yang signifikan dalam memperlancar komunikasi antarbudaya.
Teknologi internet dan media sosial telah menghubungkan manusia dari berbagai latar belakang budaya yang memungkinkan manusia berinteraksi tanpa batasan geografi, baik antar daerah maupun negara.
Teknologi ciptaan manusia itu sesungguhnya hanyalah sarana yang bersifat netral tetapi di tangan manusia ia bisa dipergunakan untuk hal-hal yang positif dan negatif, untuk kebaikan dan kejahatan, konstruktif dan destruktif.
Pikiran manusia yang positif atau negatif ikut menentukan ke arah mana teknologi itu digunakan, apakah untuk hal-hal positif membangun kehidupan yang lebih baik atau sebaliknya untuk hal-hal negatif yang merusak kehidupan manusia.
Contoh teknologi yang digunakan untuk hal-hal positif, misalnya membantu teknologi bidang pertanian, ramalan cuaca, membantu siswa belajar atau pegawai bekerja secara online, mempermudah transaksi perbankan, menyebarkan firman Tuhan, menyiarkan dakwah dan khotbah yang menciptakan cinta kasih dan perdamaian, informasi bidang kesehatan, dan lain sebagainya.
Sebaliknya, teknologi informasi bisa dipakai untuk hal-hal negatif misalnya menyebarkan berita bohong atau hoax, fitnah, ujaran kebencian, mencemarkan nama baik orang lain, pornografi, perjudian online, melakukan penipuan atau pencurian dengan cara meretas data pribadi;
Membobol rekening orang lain, menciptakan keresahan di tengah masyarakat, menebar teror, psy war, mengadu-domba masyarakat, menurunkan wibawa pemerintah bahkan usaha menjatuhkan pemerintah melalui gangguan keamanan dan kekacauan dengan atau tanpa campur tangan pihak asing.
Tanpa disadari opini masyarakat terbelah dua dalam menyikapi kejadian-kejadian diseputar kehidupan sehari-hari terutama opini terhadap para pejabat publik yang kebijakannya mempengaruhi kehidupan masyarakat luas.
Ada kelompok pencinta, pengagum atau pembela (lovers) dan kelompok pembenci, pemfitnah, penghasut (haters) dan sisanya kelompok yang apatis, masa bodoh, netral, moderat, kritis dan kelompok yang tidak memberikan pendapat.
Kasus Ijazah Joko Widodo
Salah satu kasus yang ramai dibicarakan pada akhir-akhir ini adalah kasus Ijazah Ir. Joko Widodo (Jokowi), Presiden ke-7 RI yang oleh sekelompok orang tertentu menyatakan ijazah itu palsu.
Sebenarnya kasus ini merupakan kasus biasa tetapi karena menyangkut seorang tokoh penting mantan Presiden RI maka menjadi ramai dibicarakan.
Kelompok tersebut dimotori oleh Roy Suryo (mantan Menpora), dr Tifauzia Tyassuma (Tifa) dan Rismon Sianipar serta pimpinan Ormas TPUA.
Roy Suryo dkk melalui penelitian yang mereka lakukan meyakini bahwa ijazah Jokowi palsu dan menyebarluaskan hal itu melalui media sosial.
Narasi-narasi yang disampaikan tidak hanya sebatas tuduhan ijazah palsu tetapi sudah menjurus menghakimi dan mengadili Jokowi.
Isu ijazah palsu yang dituduhkan kepada Jokowi terus bergulir di ruang publik. Ia mencuat dalam pemberitaan televisi, talkshow, podcast, hingga media sosial setiap hari.
Karena tidak tahan dengan tuduhan Roy Suryo dkk maka Jokowi secara resmi menempuh jalur hukum dengan gugatan pencemaran nama baik ke pihak Polri.
Pihak Polri sudah mengadakan uji forensik dan menyatakan ijazah Jokowi asli. Polri sudah memproses serta menyatakan kasus ini telah beralih dari penyelidikan menjadi penyidikan.
Pihak Universitas Gadjah Mada ( UGM) melalui Rektornya telah menyatakan bahwa Jokowi sebagai mahasiswa kuliah di UGM dan lulusan Fakultas Kehutanan tahun 1985.
Teman-teman kuliah seangkatan Jokowi juga telah memberi kesaksian dan Jokowi terdaftar sebagai Alumni UGM.
Sebenarnya kasus ijazah palsu Jokowi ini tidak berdiri sendiri tetapi merupakan kelanjutan dan akumulasi dari perkembangan situasi politik yang kontra terhadap kebijakan Presiden Jokowi sejak tahun 2024.
Setidaknya ada lima kelompok yang diduga “menyerang” Jokowi. Kelompok pertama, mereka yang kecewa atau sakit hati karena dipecat atau diberhentikan dari jabatannya oleh Presiden Jokowi.
Kedua, pengurus dan anggota Ormas yang dibubarkan (FPI, HTI) semasa pemerintahan Jokowi.
Ketiga, kelompok lawan politik yang kalah dalam Pilpres 2024 dan tidak bisa menerima kekalahannya.
Keempat, pihak asing yang tidak suka pada Presiden Jokowi karena merasa dirugikan dengan kebijakan di bidang pertambangan, pengambilalihan Freeport dn hilirisasi pertambangan.
Kelima, kelompok masyarakat yang tidak setuju Gibran Rakabuming Raka, putera sulung Jokowi, menjadi Wapres, dan ingin memakzulkannya. Kelompok ini muncul belakangan dengan kelompok purnawirawan TNI.
Di pihak lain, ada kelompok masyarakat pengagum dan pencinta Jokowi karena menganggap Jokowi sebagai pemimpin yang berhasil memimpin Indonesia selama dua periode dengan membangun berbagai fasilitas untuk kepentingan rakyat seperti infrastruktur, jalan tol, bandara, pelabuhan, kereta api cepat, bendungan, memberi berbagai bantuan sosial untuk rakyat miskin, serta menyukai gaya kepemimpinannya yang dekat dengan rakyat.
Terlepas dari kekurangan Jokowi sebagai manusia, sebagian masyarakat masih mengenang kebaikan yang dilakukannya.
Alih-alih beristirahat menikmati masa pensiun, Jokowi setiap hari masih harus menerima tamu-tamu yang berkunjung ke kediamannya di Solo.
Ada kelompok-kelompok masyarakat yang datang dari Pulau Jawa dan luar Jawa bahkan dari luar negeri, hanya untuk bersilaturahmi, berfoto selfi dengan Jokowi atau sekedar mengucapkan terima kasih pada Jokowi.
Ada kelompok siswa-siswi dari Singapura yang datang dengan 3 bus, para siswa dari Lemdik Polri, ibu-ibu kelompok pengajian, sampai turis dari Belanda yang ingin berfoto dengan Jokowi.
Ini fenomena baru dari mantan Presiden yang tidak terjadi sebelumnya. Mereka datang dengan sukarela untuk bertemu Jokowi.
Kelompok pencinta dan pembenci ini hampir setiap hari tampil di talkshow, podcast, televisi dan media sosial memasalahkan keaslian Ijazah Jokowi.
Berbagai argumentasi dikemukakan untuk mempertahankan pendapatnya masing-masing dan untuk meyakinkan publik.
Tidak jarang terjadi adu mulut bersitegang, saling tuding bahkan hampir adu jotos karena emosi.
Pihak Roy Suryo dkk meyakini bahwa ijazah Jokowi palsu dan meminta Jokowi memperlihatkan ijzahnya kepada publik.
Sementara pihak pembela Jokowi meyakini ijazah Jokowi asli melalui bukti dan saksi-saksi yang ada, serta menyerahkan semua pada proses hukum yang berlaku.
Pelajaran Yang Bisa Dipetik
Apa pelajaran yang bisa dipetik dari kasus ijazah Jokowi ini? Beberapa hal yang mungkin berguna untuk diambil pelajaran dari kasus ijazah Jokowi ini adalah sebagai berikut.
Pertama, kasus ijazah Jokowi ini tidak ada manfaatnya dan tidak memberi kontribusi bagi kehidupan masyarakat dan bangsa Indonesia. Hanya membuang-buang waktu, pikiran dan tenaga untuk hal yang sia-sia.
Ia hanya memumpuk kebencian dalam perdebatan di media sosial, podcast, televisi dan grup-grup WA yang pada akhirnya bisa memecah belah persaudaraan.
Melalui kasus ini pihak sponsor atau sutradara di belakang layar ingin menciptakan suasana yang gaduh di masyarakat dan menimbulkan ketidakpercayaan kepada pemerintah.
Jokowi dan ijazahnya hanyalah sasaran antara, sasaran sesungguhnya adalah menggoyang pemerintahan dengan menciptakan instabiltas.
Kedua, kita perlu mengetahui kondisi obyektif di masyarakat, siapa saja dan berapa prosentase yang percaya Ijazah Jokowi asli atau palsu.
Survei Nasional LSI Denny JA mengungkapkan 74,6 persen publik menyatakan tidak percaya bahwa ijazah Jokowi palsu. Hanya 12,2 persen yang percaya pada tuduhan ijazah Jokowi palsu.
Survei ini dilakukan melalui tatap muka di seluruh provinsi pada 12 Mei - 12 Juni 2025 dengan 1.200 responden, margin of error sekitar 2,9 persen dan metode multistage random samplimg.
Temuan penting lainnya, ketidakpercayaan terhadap isu ini merata di semua segmen demografi, dari kalangan berpendidikan rendah hingga terpelajar, dari akar rumput hingga kelompok mapan, dari pedesaan hingga perkotaan, dari Gen Z hingga baby boomer, serta dari seluruh konsultan partai politik.
Melalui survei nasional LSI Denny JA ini paling sedikit kita bisa mengetahui bahwa silent mayority kelompok yang tidak percaya bahwa Ijazah Jokowi palsu berbanding terbalik dengan kelompok minority yang gaduh berbicara menuduh Ijazah Jokowi palsu.
Kelompok mayoritas yang tidak percaya bahwa Ijazah Jokowi palsu tidak banyak bersuara, mereka sibuk bekerja, cari makan untuk menafkahi keluarga.
Sementara kelompok yang percaya ijazah Jokowi palsu lebih aktif berkoar-koar menuntut Jokowi diadili, menghakimi sebelum proses hukum di pengadilan.
Menebar kebencian melalui narasi-narasi yang destruktif, mencari panggung untuk menaikkan status sosial, atau mungkin menjalankan pesan titipan sang sponsor yang ingin mengacaukan suasana.
Kita meragukan apakah kasus ini murni aspirasi masyarakat mencari kebenaran. Dalam politik tidak ada makan siang gratis.
Ketiga, bagaimana kita menyikapi polemik ijazah palsu Jokowi? Sebaiknya kita serahkan semua pada proses hukum yang sedang berlaku dan biarlah pengadilan yang akan memutuskan siapa yang benar dan siapa yang salah.
Tidak perlu kita ikut-ikutan larut dalam arus kebencian yang disebar oleh kelompok orang tertentu.
Biarlah pengadilan yang memutuskan asli atau palsunya ijazah Jokowi tersebut. Kalau ternyata ijazah itu asli dan otentik biarlah Roy Suryo dkk menanggung akibat perbuatan mereka.
Sebaliknya, kalau ijazah itu terbukti palsu biarlah Jokowi mempertanggungjawabkan di depan hukum.
Asli atau palsunya ijazah itu tidak akan banyak berpengaruh banyak dalam kehidupan kita sehari-hari. Hidup di masa ini sudah cukup sulit, jangan menambah beban yang tidak perlu.
Jangan persulit hidupmu dengan membenci orang lain, karena waktu semakin singkat, umur semakin berkurang dan ajal semakin dekat.
Lebih baik sibukkan dirimu untuk berbuat baik pada sesama, tapi bukan merasa dirimu yang paling baik. (*)
Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Gubernur-Musakabe-Herman.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.