NTT Terkini
Ambuga Lamawuran: Satu-satunya Motivasi Adalah Berkarya Sebaik-baiknya
Untuk mulai menulis seseorang tidak harus terbeban dengan kesempurnaan karena menurut dia, tulisan pertamanya sendiri pun jauh dari kata sempurna.
Penulis: Michaella Uzurasi | Editor: Oby Lewanmeru
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Michaella Uzurasi
POS-KUPANG.COM, KUPANG - Salah satu novelis Nusa Tenggara Timur (NTT) Kopong Bunga Lamawuran atau yang dikenal dengan nama Ambuga membagikan motivasi dalam Podcast Pos Kupang, Jumat, (18/7/2025).
Menurut dia, motivasi dalam berkarya jangan sampai untuk mendapatkan sesuatu, penghargaan, uang, ataupun menjadi yang terbaik dari yang lain.
"Akhirnya saya menyadari bahwa seharusnya tidak ada motivasi dalam berkarya.
Kalaupun ada motivasi, satu-satunya motivasi adalah berkarya sebaik-baiknya, berkarya sebanyak-banyaknya. Dalam menulis, menulis sebaik-baiknya, menulis sebanyak-banyaknya. Hanya itu motivasi kita. Jadi jangan pernah jadikan uang sebagai motivasi utama ataupun ketenaran sebagai motivasi utama atau saya menulis supaya saya jadi lebih baik dari orang lain. Itu seharusnya jangan menjadi motivasi kita karena itu bisa membuat kita menjadi penulis yang penuh dengan penderitaan," kata Ambuga.
Mantan jurnalis ini mengatakan, baginya, menulis adalah membagikan kepenuhan dari dalam diri bukan mencari sesuatu untuk mengisi kekosongan yang ada dalam diri.
Baca juga: PODCAST: FPK NTT Akan Sumbang 150 Tong Sampah dalam Gebyar Peduli Sampah
Sebagai penulis yang memilih profesi ini dengan sadar, Ambuga mengungkapkan dia harus bisa menciptakan lingkungan yang mendukung tanpa harus terpengaruh dengan lingkungan luar.
"Untuk kita yang menulis kita harus bisa menciptakan lingkungan terutama kesiapan kita untuk terus menulis setiap hari karena persoalannya bukan kita menjadi yang terbaik atau tidak tetapi apakah kita konsisten atau tidak," ujarnya.
Untuk mulai menulis seseorang tidak harus terbeban dengan kesempurnaan karena menurut dia, tulisan pertamanya sendiri pun jauh dari kata sempurna.
Namun karena ketidaksempurnaan itulah yang memacunya untuk menulis lebih banyak dan lebih baik lagi.
"Saya menulis sejak masuk kuliah awal tetapi saya tidak tahu kenapa punya bakat itu. Saya berpikir bahwa hampir semua orang yang berbakat itu pasti dia tidak tahu kenapa dia punya bakat itu.
Dulu SMP saya pikir saya akan jadi pemain voli tetapi kemudian mungkin karena tidak latihan lagi maka saya punya bakat yang baru yaitu menulis. Tetapi saya tidak pernah tahu bahwa saya punya bakat ini.
Mungkin kita tidak secara sadar memilih sebuah bakat, mungkin dia yang memilih kita.
Saya kemarin diskusi dengan kawan seorang pemeran film, dia diberi tahu bahwa tokou atau karakter yang kita perankan itu sebenarnya memilih kita bukan kita yang memilih jadi ada kecocokan disitu dan ini mungkin agak absrak tetapi saya merasakan betul bahwa saya itu tidak secara sadar tahu, mungkin sebagian besar orang tidak secara sadar tahu bahwa dia punya bakat itu apa. Sesuatu yang muncul begitu saja dan tiba-tiba merasa sangat terikat dengan hal itu. Di bidang musik, bidang yang lain juga mungkin sama. Dulu kita kecil juga tidak pernah berpikir bahwa nanti besar jadi begini," jelasnya.
Lanjut dia, kualitas paling mendasar yang harus dimiliki oleh seorang penulis adalah membaca karena dengan membaca seseorang mungkin bisa menyadari punya bakat menulis.
"Tanpa membaca mungkin saya tidak punya bakat ke arah situ (menulis, red).
Dulu SMP ada satu perpustakaan tapi di Gereja jadi saya senang ke Gereja karena di situ ada perpustakaan jadi kita bisa masuk membaca novel, membaca karya yang lain
Ketertarikan awal itu karena membaca novel tadi sehingga pada akhirnya saya pikir kalau mereka menulis begini berarti kita juga bisa menulis seperti itu. Hal ini yang akhirnya membuat saya bisa menulis," katanya. uzu)
Ikuti Berita POS-KUPANG.COM lainnya di GOOGLE NEWS
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Ambuga-Lamawuran-Podcast.jpg)