Breaking News

Opini

Opini: Akar Kelelahan Eksistensial

Kelelahan eksistensial menimbulkan luka eksistensial. Keberadaan masyarakat modern dikepung kelelahan demi kelelahan mulai dari bangun pagi sampai

Editor: Dion DB Putra
DOK PRIBADI
Melki Deni, S. Fil 

Oleh: Melki Deni, S.Fil
Mahasiswa Teologi di Universidad Pontificia Comillas, Madrid, Spanyol.

POS-KUPANG.COM -  Masyarakat kontemporer menghadapi fenomena yang telah memengaruhi sebagian besar penduduknya yakni kelelahan kronis: tidak hanya tubuh fisik, psikologis, mental, emosi, spritual, tetapi juga kelelahan eksistensial. 

Kelelahan eksistensial menimbulkan luka eksistensial. Keberadaan masyarakat modern dikepung kelelahan demi kelelahan mulai dari bangun pagi sampai tidur malam.

Kelelahan berlebihan tampak dalam pengalaman akan peperangan yang berkepanjangan, kelaparan, kemiskinan (pemiskinan struktural), pekerjaan, profesi, relasi dalam keluarga, politik peralihan secara sistemik, kebudayaan yang menekan masyarakat adat, tuntutan administratif dari agama, ongkos mahal persekolahan/perkuliahan, dan juga ketidakmampuan mengatur, mengendalikan, merekonstruksi proyek teknologi diri.

Kelelahan berlebihan disebabkan oleh obat-obatan, psikis, kehilangan gambaran diri, penolakan, hidup bertolak belakang dengan ritme yang normal, pola hidup tidak teratur, kehilangan harapan dan gambaran masa depan;

Perubahan dan ketidakpastian yang sengaja diciptakan secara sistemik oleh rezim penguasa dan investor multinasional, terjebak dalam pemahaman hidup dikendalikan oleh nasib, pragmatisme dan relativisme, dan darurat kontrol sosial yang berlebihan.

Byung-Chul Han, dalam karyanya La Sociedad del Cansancio (2010) menjelaskan bagaimana akselerasi pengejaran produktivitas dan tuntutan secara konstan untuk merealisasikan diri, yang didorong oleh teknologi dan kapitalisme, telah menciptakan masyarakat di mana hiperaktivitas dan multitasking menjadi norma baru.

Byung-Chul Han mengatakan bahwa meskipun masyarakat modern tampak bebas, kita mendapati diri kita terjebak dalam siklus kinerja, yang menyebabkan kelelahan yang memengaruhi kesehatan mental, hubungan sosial kita dan cara kita berada.

Michel Foucault memandang teknologi diri sebagai cara seorang individu bertindak atas dirinya sendiri, menentukan dirinya sendiri secara etis, dan dengan demikian membebaskan dirinya dari teknik dominasi asing. 

Teknologi diri tersebut merupakan “Praktik-praktik yang masuk akal dan sukarela yang dengannya manusia tidak hanya menetapkan aturan-aturan perilaku, tetapi juga berusaha untuk mengubah diri mereka sendiri, untuk memodifikasi keberadaan mereka yang tunggal dan menjadikan hidup mereka sebuah karya yang menyajikan nilai-nilai estetika tertentu dan menanggapi kriteria gaya tertentu.

Foucault gagal melihat bahwa teknologi diri mengandaikan rasa kebebasan, dan dengan demikian tertanam dalam teknik kekuasaan neoliberal. Manusia yang bebas memutuskan, bertindak dan menentukan dirinya sendiri, menjadikan kebebasannya sebagai sarana untuk “eksploitasi diri”. 

“Pengusaha dirinya sendiri” Foucault bertepatan dengan “Subjek eksploitasi diri” Byung-Chul Han

Kebebasan yang melekat dalam teknologi diri adalah dukungan kaku bagi reproduksi kekuasaan neoliberal. 

Mereka menjadi pengusaha mereka sendiri. Bagi Byung-Chul Han (2017,13) “Pemaksaan yang dilakukan oleh diri sendiri lebih fatal daripada pemaksaan yang dilakukan oleh orang lain, karena tidak ada perlawanan terhadap diri sendiri yang mungkin dilakukan”.

Menurut Byung-Chul Han (2014, 31), menentukan diri sendiri merupakan sebuah “paksaan diri”, kebebasan menentukan diri sendiri mengurung subyek dalam eksploitasi diri, subyek tidak bebas dari dirinya sendiri, ia tentu saja tunduk pada dirinya sendiri, dan dengan demikian setiap penundukan eksternal menghilang. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved