Konflik Iran vs Israel
3 Skenario jika Pemimpin Iran Ali Khamenei Tumbang, Reza Pahlavi Naik Takhta?
Israel kian menunjukkan ambisinya untuk menjatuhkan pemerintahan Iran di bawah kepemimpinan Ayatollah Ali Khamenei.
Para pendukungnya bahkan mengusulkan istilah “Perjanjian Cyrus” sebagai simbol rekonsiliasi sejarah antara Iran dan Israel, merujuk pada Raja Persia kuno yang membebaskan orang Yahudi dari penawanan Babilonia.
Namun, Pahlavi tidak mendapat dukungan menyeluruh, baik di dalam Iran maupun di kalangan pengasingan. Nasionalisme para pendukungnya serta kedekatannya dengan Israel memicu perpecahan, terutama setelah ia menolak mengecam serangan udara Israel ke Iran.
Pakar Thomas Juneau menambahkan, meskipun Reza Pahlavi adalah sosok oposisi paling dikenal, baik di dalam maupun luar Iran, para pendukungnya cenderung melebih-lebihkan tingkat dukungan di dalam negeri.
Selain Pahlavi, kelompok oposisi lain Mujahidin Rakyat Iran (MEK), yang dipimpin Maryam Rajavi, juga mendukung penggulingan rezim.
Dalam pidatonya di Parlemen Eropa pada Rabu, Rajavi bahkan menyatakan, “Rakyat Iran menginginkan penggulingan rezim ini.”
Akan tetapi, MEK dibenci oleh banyak faksi oposisi lain dan dicurigai oleh sebagian besar rakyat Iran karena pernah mendukung Saddam Hussein dalam Perang Iran-Irak.
“Masalah terbesar dalam memikirkan alternatif jika Republik Islam tumbang adalah bahwa tidak ada oposisi demokratis yang terorganisir,” kata Juneau.
3. Pecahnya Konflik Etnis Internal
Skenario ketiga yang tak kalah mengkhawatirkan jika rezim jatuh adalah meletusnya konflik etnis di dalam Iran. Sebagai informasi, Iran dihuni oleh berbagai kelompok minoritas seperti Kurdi, Arab, Baluch, dan Turkiye, yang hidup berdampingan dengan mayoritas Persia.
Jika pemerintahan Iran saat ini digulingkan, akan ada upaya dari negara-negara bermusuhan untuk memanfaatkan perpecahan etnis inetrnal.
Pelajaran dari Irak dan Libya Diketahui, dampak invasi Amerika Serikat ke Irak pada 2003 dan intervensi NATO di Libya pada 2011 bisa menjadi bayangan kekacauan jika rezim Iran tumbang.
Kedua operasi itu memang menggulingkan para diktator, Saddam Hussein dan Moamer Kadhafi, namun juga memicu pertumpahan darah selama bertahun-tahun.
Oleh sebab itu, Presiden Perancis Emmanuel Macron mengingatkan agar tidak mengulangi kesalahan yang sama.
"Kesalahan terbesar saat ini adalah mencoba mengganti rezim Iran lewat cara militer, karena itu akan membawa kekacauan," kata Macron.
"Apakah ada yang berpikir bahwa apa yang terjadi di Irak tahun 2003 atau di Libya sebelumnya adalah ide bagus? Tidak!" tegas Macron.
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.