Konflik Iran vs Israel
3 Skenario jika Pemimpin Iran Ali Khamenei Tumbang, Reza Pahlavi Naik Takhta?
Israel kian menunjukkan ambisinya untuk menjatuhkan pemerintahan Iran di bawah kepemimpinan Ayatollah Ali Khamenei.
POS-KUPANG.COM – Israel kian menunjukkan ambisinya untuk menjatuhkan pemerintahan Iran di bawah kepemimpinan Ayatollah Ali Khamenei.
Sejumlah serangan Israel menyasar tempat-tempat strategis iran, termasuk fasilitas nuklir dan kantor penyiar nasional Iran (IRIB).
“Serangan Israel tampaknya lebih ditujukan untuk perubahan rezim dibanding sekadar pencegahan proliferasi nuklir,” ujar Nicole Grajewski, peneliti di Carnegie Endowment.
Namun, para analis memperingatkan, jatuhnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayotollah Ali Khamenei itu justru dapat membuka babak baru ketidakpastian dan kekacauan di kawasan Timur Tengah.
1. Kudeta Militer oleh IRGC
Skenario pertama yang paling mungkin terjadi saat rezim Khamenei jatuh adalah pengambilalihan kekuasaan oleh Korps Garda Revolusi Iran (IRGC).
“Kalau rezim jatuh, tentu harapannya adalah muncul pemerintahan liberal dan demokratis. Namun, besar kemungkinan bahwa entitas kuat lain seperti IRGC justru akan mengambil alih,” ujar Nicole Grajewski, peneliti di Carnegie Endowment.
Thomas Juneau, profesor di Universitas Ottawa, juga memperingatkan bahwa tanpa oposisi demokratis yang terorganisir, satu-satunya alternatif yang tersedia adalah kudeta oleh IRGC atau transisi dari teokrasi ke kediktatoran militer.
Skenario ini dinilai sangat berisiko karena IRGC dianggap merupakan kelompok garis keras, sehingga akan memperburuk hubungan Iran dengan dunia luar.
2. Reza Pahlavi Naik Takhta
Skenario kedua adalah kembalinya monarki di Iran di bawah Reza Pahlavi, putra mendiang Shah Mohammad Reza Pahlavi yang digulingkan pada 1979.
Saat ini, Reza Pahlavi tinggal di Amerika Serikat dan menjadi salah satu tokoh oposisi paling dikenal di luar negeri.
Ia secara terbuka menunjukkan sikap berseberangan dengan rezim saat ini hingga menyebut Republik Iran berada di ambang kehancuran.
Tak hanya itu, Pahlavi juga menuding Ali Khamenei “bersembunyi di bawah tanah seperti tikus ketakutan” atas serangan Israel baru-baru ini.
Dalam beberapa pernyataannya, pria berusia 64 tahun itu menyerukan pemulihan hubungan dengan Israel, sebagaimana terjalin erat pada masa ayahnya.
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.