Kirim Siswa ke Barak Militer

Lemhannas Khawatir, Keluar Barak Militer Anak Bisa Petantang-petenteng

Gubernur Lemhannas Ace Hasan Syadzily menyoroti perlunya evaluasi serius terhadap program pendidikan karakter bagi siswa nakal yang dilakukan di barak

Kompas.com/ Ruby Rachmadina
ACE HASAN - Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas) Ace Hasan Syadzily 

POS-KUPANG.COM, JAKARTA - Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas), Ace Hasan Syadzily menyoroti perlunya evaluasi serius terhadap program pendidikan karakter untuk siswa nakal yang dilakukan di barak militer.

Dikutip dari Antara, Minggu (18/5/2025) Ace Hasan Syadzily mengingatkan bahwa pendidikan semacam itu berpotensi membentuk pribadi yang justru semakin menyimpang, salah satunya menjadi sosok yang petantang-petenteng.

Baca juga: Wamensos Agus Jabo Priyono Tanggapi Kebijakan Dedi Mulyadi Seperti Ini

“Misalnya kalau dia sudah keluar dari barak militer, apakah dijamin bahwa dia tidak akan lepas dari kenakalannya? Atau jangan-jangan karena dia sudah pernah mendapatkan pendidikan militer, lalu karena mungkin mental emosionalnya tidak pernah ditempa, akhirnya menjadi petantang-petenteng dan bisa melakukan hal yang di luar dari yang sesuai dengan perkembangan anak,” ujar Ace Hasan Syadzily, di Gedung DPRD Jabar Bandung, Sabtu (17/5/2025).

Pentingnya kajian lebih lanjut Ace Hasan Syadzily mengatakan, Lemhannas akan melakukan pengkajian mendalam terhadap program tersebut.

Ace Hasan Syadzily menekankan bahwa segala bentuk intervensi terhadap anak harus mengedepankan aspek perlindungan anak.

Ace Hasan Syadzily  1
ACE HASAN - Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas) Ace Hasan Syadzily

Ace Hasan Syadzily juga menyoroti perlunya pendekatan yang lebih menyeluruh terhadap perilaku anak. Menurutnya, karakter anak terbentuk dari banyak faktor seperti keluarga, lingkungan, hingga pengalaman hidup, dan tidak bisa diselesaikan hanya dengan pelatihan militer.

“Jadi karena itu bagi kami di Lemhannas, kami harus mengkajinya secara mendalam. Karena, anak menjadi sesuatu pasti ada faktor yang melatarbelakanginya, terutama faktor lingkungan, faktor keluarga dan lain sebagainya itu yang harus didalami,” kata Ace Hasan Syadzily. 

Baca juga: KPAI Desak Dedi Mulyadi Setop Program Kirim Siswa ke Barak Militer  

Ace Hasan Syadzily juga mengingatkan bahwa istilah “nakal” harus digunakan dengan sangat hati-hati. Label tersebut bisa berujung pada stigmatisasi terhadap anak yang justru menghambat tumbuh kembangnya.

“Bahkan istilah nakal itu juga harus hati-hati menggunakan term-nya, karena itu menyangkut dengan stigmatisasi yang diberikan kepada anak. Ingat bahwa prinsip anak itu dilindungi,” ujar Ace Hasan Syadzily

Ace Hasan Syadzily menegaskan bahwa tugas negara bukan hanya mendidik, tetapi juga memastikan bahwa anak tumbuh dalam lingkungan yang sehat secara emosional dan sosial.

Baca juga: Guru Honor Matematika di Sumtim Lakukan Pelecehan terhadap Siswi Kelas 1 dengan Modus Baru

"Dalam konteks kenapa anak disebut "nakal" kan harus dilihat dulu akar persoalannya. Apakah disebabkan karena misalnya hak asuhnya, pola pengasuhannya, di dalam keluarga, di dalam lingkungan, itu yang harus didalami terlebih dahulu. Jangan sampai juga gara-gara hal (program pembentukan karakter di barak militer) tersebut, membuat anak jadi terstigmatisasi," pungkas Ace Hasan Syadzily(kompas)

Ikuti Berita POS-KUPANG.COM lainnya di GOOGLE NEWS

Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved