Malaka Terkini

Puisi Semanis Mimpi di Siang Bolong Dilantunkan Orator Perempuan Saat Demo di Malaka

Puisi semanis mimpi di siang bolong dilantunkan seorang orator perempuan dalam aksi demonstrasi yang dilakukan Persatuan Mahasiswa Perbatasan

Editor: Sipri Seko
POS-KUPANG.COM/KRISTOFORUS BOTA
MELANTUNKAN PUISI - Seorang orator perempian sedang melantunkan puisi semanis mimpi di siang bolong di depan Kantor Bupati Malaka pada Kamis, (8/5/2025). 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Kristoforus Bota

POS-KUPANG.COM, BETUN - Puisi semanis mimpi di siang bolong dilantunkan seorang orator perempuan dalam aksi demonstrasi yang dilakukan Persatuan Mahasiswa Perbatasan (Permaper) Kefamenanu di depan Kantor Bupati Kabupaten Malaka

https://news.google.com/publications/CAAqMggKIixDQklTR3dnTWFoY0tGV3QxY0dGdVp5NTBjbWxpZFc1dVpYZHpMbU52YlNnQVAB?hl=id&ceid=ID:id≷=IDPuisi itu dilantunkan Ronisia Febronia Mira Dao, anggota aktif Permaper Kefamenanu untuk menggambarkan isi hati mereka pada Kamis, (8/5/2025) terkait bangunan Rumah Sakit Pratama di Kecamatan Wewiku, Kabupaten Malaka, diketahui hingga saat ini belum dimanfaatkan sebagai fasilitas kesehatan bagi masyarakat.

Terpantau POS-KUPANG.COM, Puisi semanis mimpi di siang bolong itu dilantunkan dari atas mobil pikap hitam didepan kantor Bupati Malaka sebagai berikut. Dihadapan para elit politik Kabupaten Malaka yang terhormat, hari ini kami hadir untuk menyuarakan suara- suara rakyat, atas janji-janji manis yang telah di ucapkan pada saat peresmian Rumah Saki Pratama.

Peresmiannya bagai sandiwara, megah di permukaan namun hampa di dalamnya.  Janji manis tentang akses kesehatan yang lebih mudah dan terjangkau, membawakan harapan besar bagi masyarakat. Namun kini hanya menjadi angan-angan belaka. 

Seperti kapal yang kandas di pantai, diresmikan dengan megah dan meriah namun tak pernah berlayar untuk menghantarkan harapan.  Rumah Sakit Pratama yang telah diresmikan pada tahun 2024, seharusnya menjadi simbol komitmen Pemerintah Kabupaten Malaka dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat khusus dalam hal akses layanan kesehatan. 

Namun mirisnya, bagunan megah bagai istana itu, hanya menjadi monumen sia-sia tanpa fungsi dan manfaat bagi masyarakat yang membutuhkan.  Ibarat janji yang tidak ditepati, peresmian hanya ucapan simbolis tanpa wujud nyata layanan kesehatan. 

Sebuah gedung mewah yang tertidur panjang, terbuang sia-sia padahal masyarakatnya sangat membutuhkan.  Rumah Sakit Pratama bagai istana kosong yang megah. Indah di pandang mata, namun hampa dari jiwa pelayanan. 

Ada apa, mengapa Rumah Sakit Pratama belum beroperasi sampai sekarang walaupun sudah di resmikan.  Seperti tunas yang masih terpendam, semoga segera tumbuh dan berbuah manis bagi masyarakat. 

Janji-janji manis yang diucapkan seperti sebuah mimpi yang kandas sebelum terwujud, hanya meninggal kekecewaan yang mendalam.  Rumah Sakit Pratama, layaknya kue pengantin yang indah namun tak bisa dimakan, hanyalah pajangan semata. 

Sebuah Proyek monumental yang hanya menghasilkan bangunan, bukan solusi kesehatan. Pada saat peresmian Rumah Sakit Pratama, janjinya seperti angin surga, terdengar indah namun tak pernah sampai. 

Janji manisnya seperti mimpi disiang bolong, indah namun tak nyata.  Janji mereka, layaknya bintang jatuh, indah dipandang namun hanya sesaat. 

Sayang sekali, janji- janji manis itu hanya seperti bunga yang layu sebelum mekar. Bagaikan busur yang tak pernah meleset, panah yang tak pernah sampai sasaran. (ito)

 

 


 Baca berita POS-KUPANG.COM lainnya di GOOGLE.NEWS

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved