Paus Fransiskus Wafat

In Memoriam Paus Fransiskus, Warisannya Tak Pernah Mati

Oleh karena itu kita perlu merawat dan menjaga keseimbangan, kelestarian demi kepentingan generasi mendatang.

Editor: Dion DB Putra
DOK PRIBADI
Gabriel Ola 

Oleh: Gabriel Ola
Umat Katolik,  tinggal di Keuskupan Maumere

POS-KUPANG.COM - Kabut duka menyelimuti Vatikan. Ar mata berderai menetes di setiap kelopak mata umat Katolik sejagat. 

Dunia menangis ketika mendengar pemimpim umat Katolik  Paus Fransiskus meninggal pada Senin, 21 April 2025 di Vatikan. Lonceng berdentang di Basilika St. Petrus sebagai penanda telah berpulangnya sang pemimpin.

Gema lonceng membahana ke seluruh telinga, menembus sukma insan. Terdengar oleh semua suku,agama, golongan, ras dan bangsa; kerena ia bukan sekadar gembala Katolik. Dia  adalah imam dunia. Ia adalah penabur dan pemerkokoh nilai-nilai kemanusiaan universal.

Untuk mengenang kepergiannya (17 Desember 1936-21  April 2025) sepantasnya kita melihat dan mengenang kembali pemikiran (nilai) yang diwariskannya teritimewa tentang pentingnya merawat bumi yang telah dirumuskan dalam ensiklik Laudato Si

Bumi adalah ibu; menggambarkan bumi sebagai sumber kehidupan dan tempat yang memelihara semua makhluk hidup. 

Oleh karena itu kita perlu merawat dan menjaga keseimbangan, kelestarian demi kepentingan generasi mendatang.

Tentang merawat bumi adalah ibu menjadi tanggung jawab bersama seluruh umat manusia dan diletakan dalam sebuah kesadaran bahwa merupakan panggilan kolektif  dan sebagai perwujudan iman tentang mencintai ciptaan Tuhan.

Bagi Jorge Mario Bergoglio, nama asli Paus Fransiskus,  dalam buku Laudato Si,  bumi saat ini sedang terluka akibat dari ulah kaum kapitalis yang mengeruk demi kepentingan penguasaan ekonomi. 

Keprihatinan Paus Fransiskus diungkapkan melalui ensiklik Laudato Si. Ia mengkritik kapitalisme sebagai, “penyembahan terhadap pasar dan mengejar keuntungan di atas segalanya dapat mengakibatkan pengabaian akan martabat manusia dan lingkungannya”.

Beliau menegaskan bahwa  “pasar sendiri tidak  dapat menjamin pembangunan manusia yang inklusif dan berkelanjutan (LS.109). Paus Fransiskus juga menegaskan bahwa kapitalisme sebagai bentuk “kolonialisme baru.”

Pandangan ini menunjukkan bahwa penguasaan terhadap sumber daya alam oleh kaum kapitalis  telah memarjinalkan kaum miskin yang tidak memiliki daya akses terhadap persaingan ekonomi yang begitu pesat dan kuat dari kaum kapitalis. 

Menghadapi situasi ini Paus Fransiskus menyuarakan dengan lantang “dampak dari pelanggaran terhadap lingkungan hidup terutama dirasakan oleh kaum miskin paling rentan,  mereka tidak memiliki sumber daya untuk beradaptasi terhadap perubahan iklim atau untuk menghadapi bencana alam yang sring terjadi (LS.25).

Manusia, teristimewa kaum kapitalis, saat ini cendrung melihat bumi dan isinya merupakan sumber daya yang mesti dikelola umtuk menguatkan daya ekonomi mereka. 

Mereka saling berlomba uutuk penguasaan terhadap berbagai kekayaaan yang ada dalam perut bumi dengan tidak memperhatikan keseimbangan ekosistim lingkungan. 

Halaman
123
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved