Opini

Opini: Fallacy of Composition di Negeri Konoha

Kesalahan bertindak menyebabkan hasil yang diperoleh tidak sesuai harapan; hasilnya adalah kerugian dan atau penderitaan. 

Editor: Dion DB Putra
POS KUPANG/FRANS KROWIN
Dr. Thomas Ola Langoday. 

Oleh: Dr. Thomas Ola Langoday, SE.,M.Si.
Dosen Global Economic Institute STIE OEmathonis Kupang

POS-KUPANG.COM - Dalam ilmu ekonomi, fallacy of composition diartikan sebagai kesalahan berpikir secara sistemik.  

Kesalahan Berpikir menyebabkan kesalahan berbicara. Kesalahan berbicara menyebabkan kesalahan bertindak. 

Kesalahan bertindak menyebabkan hasil yang diperoleh tidak sesuai harapan; hasilnya adalah kerugian dan atau penderitaan. 

Contoh sukses: Ketika seseorang menjalankan usaha ojek online dan mendapatkan penghasilan yang lebih baik dari sebelumnya; dari penghasilan berojek, dia mampu membeli motor baru untuk usaha ojek online lainnya. 

Usahanya berkembang dan kemudian bisa membangun rumah layak huni dan dapat memenuhi kebutuhan dasar lainnya secara layak. 

Contoh fallacy of composition, para tetangga melihat perubahan kehidupan ekonomi tukang ojek yang sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. 

Tetangga dan sahabat kenalan ramai-ramai menjual sawah, meminjam uang di lembaga keuangan bank dan non-bank dengan jaminan sertifikat tanah kapling dan bahkan menggadaikan emasnya untuk membeli motor untuk ojek online. 

Ketika ojek online bertambah banyak, penghasilan yang diharapkan tidak lebih baik dari ojek terdahulu. 

Semua kembali berpikir, ternyata pikiran mereka salah, keputusan mereka salah, bukan kehidupan yang lebih baik yang didapatkan melainkan penderitaan yang diperoleh. 

Sawah sudah terjual dan tidak akan pernah tergantikan; sertifikat tanah kapling dan emas yang digadaikan tidak bisa ditebus dan bunganya terus ditagih sepanjang belum terlunasi. Mereka masuk katogori fallacy of composition.

Dalam pengambilan kebijakan publik, terutama dalam bidang ekonomi, dikenal juga fallacy of composition

Kesalahan berpikir secara mikro dapat memberi dampak negatif secara makro. Yang terjadi hari ini di negeri Konoha adalah kesalahan berpikir menyebabkan kesalahan berbicara, kesalahan berbicara menyebabkan kesalahan mengambil kebijakan, kesalahan mengambil kebijakan menyebabkan kinerja perekonomian melemah. 

Menelusuri pernyataan beberapa menteri di negeri Konoha, mereka sudah tergolong fallacy of composition.

Salah satu contoh kesalahan berpikir dan kesalahan mengambil kebijakan secara mikro yang berdampak negatif secara makro di negeri Konoha adalah soal kebijakan efisiensi anggaran. 

Kebijakan efisiensi anggaran di negeri Konoha mungkin menguntungkan secara mikro (penghematan pada berbagai aspek) tetapi merugikan secara makro. 

Gara-gara efisiensi anggaran, banyak hotel, restauran dan biro perjalanan terancam bankrut dan memberhentikan para pekerjanya. 

Terjadilah pengangguran di mana-mana, daya beli menurun, terjadi deflasi, produksi barang dan jasa terhenti. 

Pada situasi seperti ini, tiga penyakit makro jangka pendek tampil sekaligus yaitu deflasi, pengangguran dan ketidakseimbangan neraca perdagangan. 

LPEM FEB UI melaporkan bahwa inflasi bulan Februari 2025 menurun sebesar 0,76 persen dari bulan Januari 2025 atau terjadi deflasi. 

PHK pada beberapa perusahaan industri ( sritex dan beberapa lainnya) memberi efek PHK juga pada matarantai sebelummya dan juga sesudahnya baik sebagai supply bahan baku dan setengah jadi maupun supply barang jadi dan konsumsi akhir. 

Jika sektor produksi primer, sekunder dan tersier terhenti maka akan mempengaruhi posisi neraca perdagangan. 

Gara-gara efisiensi anggaran untuk sebuah badan pengelola investasi, yang manajemennya dihuni oleh oknum-oknum dengan integritas masa lalu yang gelap sehingga tidak mendapatkan kepercayaan pasar, akhirnya memberi gambaran gelap kepada melemahnya nilai tukar rupiah dan indeks harga saham gabungan (IHSG). Kuat lemahnya IHSG adalah soal kepercayaan investor. 

Walaupun masalah  penurunan IHSG ini dijadikan lelucon oleh presiden negara Konoha (tidak ada pengaruh penurunan IHSG bagi negara Konoha, yang penting rakyat kenyang, diberi BLT, PKH, THR), hal ini akan menjadi bahan pertimbangan para investor dalam bursa efek. 

Jika mereka percaya maka IHSG akan menguat, jika mereka tidak percaya maka IHSG akan melemah. 

Dengan demikian siapapun pemimpin di negeri Konoha, jangan main-main dengan pikiran, perkataan dan perbuatan, terutama dalam mengambil kebijakan. 

Apapun yang dikatakan pemimpin  negeri Konoha  ini, sudah masuk kategori fallacy of composition jangka pendek yang mempunyai dampak buruk dalam jangka panjang. 

Anak-anak diinabobokan dengan makan kenyang supaya kurang berpikir kreatif dan inofatif, dan suatu waktu negara ini akan kalah bersaing dan dijajah oleh negara lain dalam banyak aspek seperti ekonomi, pendidikan dan kesehatan. 

Informasi terbaru, seorang menteri yang mengurus perencanaan pembangunan di negara Konoha  mengatakan bahwa MBG itu jauh lebih penting dari pada memberi lapangan kerja kepada masyarakat. 

Kalau cara berpikir seperti ini secara makro jangka Panjang mungkin benar (kalau hari ini tidak terjadi pengangguran, inflasi/deflasi dan posisi keseimbangan neraca perdagangan), tetapi secara mikro jangka pendek, menurut penulis masuk dalam kategori fallacy of composition

Sekali lagi, yang menjadi masalah makro ekonomi jangka pendek dan jangka panjang adalah pengangguran, inflasi dan atau deflasi serta ketidakseimbangan neraca perdagangan. 

Ketiga penyakit makro ini mesti diobati dalam jangka pendek untuk memberi dampak positif dalam jangka panjang. 

Jika tidak diobati dalam jangka pendek maka dia menjadi menahun untuk jangka panjang dan sulit untuk diobati dan dapat membawa dampak sebagai negara gagal. 

Negara gagal mengatasi inflasi, pengangguran dan ketidakseimbangan neraca perdagangan; negara gagal dalam menciptakan pertumbuhan ekonomi yang tinggi (8 persen  misalnya); negara gagal dalam menciptakan kesejahteraan bagi rakyatnya (midle and hight income level/MHIL), kecuali sukses untuk pemimpinnya bersama keluarga dan kerabatnya serta oligarki tentunya. 

Dengan demikian maka tujuan Republik Indonesia tidak akan pernah tercapai tetapi tujuan Kingdom of Nepotism, Oligarchy and Hidden Ambition tercapai. Itulah negara Konoha yang selalu fallacy of composition. (*)

Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News

 

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved