Opini

Opini: Pena dan Kecintaan

Saya diundang oleh Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Pandawa dan LPM Arjuna untuk menjabarkan apa itu opini dan kepenulisan yang lainnya.

Editor: Dion DB Putra
DOK PRIBADI
Ridwan Mahendra. 

Oleh: Ridwan Mahendra
Guru mata pelajaran Bahasa Indonesia di Surakarta, penulis buku Kumpulan Cerkak Ringan (2025), Tinta yang Terbuang (2023).

POS-KUPANG.COM - Pada 14 Februari 2025 lalu, saya diundang untuk menjadi narasumber di Universitas Islam Negeri Raden Mas Said Surakarta. 

Saya diundang oleh Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Pandawa dan LPM Arjuna untuk menjabarkan apa itu opini dan kepenulisan yang lainnya.

Saya memilih diksi pena karena saya anggap mewakili esensi yang akan saya sampaikan ke mahasiswa yang dalam wadah organisasi kejurnalistikan tersebut. 

Dalam diskusi kepenulisan yang kurang lebih satu jam tersebut, saya memaparkan beberapa materi yang berkaitan dengan penulisan opini yang baik dan dapat diterima di khalayak.

Salah satu peserta diskusi bertanya ke saya tentang bagaimana memulai untuk
menulis opini di media massa, dan waktu yang tepat untuk menulisnya. 

Karena waktu yang kebetulan bertepatan dengan Hari Valentine, lalu saya jawab menulis opini tentu dimulai dengan "cinta".

Sama halnya di tanggal 14 Februari tersebut, bahwa dengan cinta menulis opini tidaklah sulit. 

Setelahnya, menulis di waktu kapan yang terbaik? Saya jawab, menulis yang terbaik tidak tergantung pada waktu ataupun tempat.

Bagi saya pribadi, apabila ditentukan oleh waktu, maka akan lebih sulit rasanya dalam menulis opini. 

Saya jawab dengan pengalaman dan saya menganalogikan lingkungan sekitar.

Misalnya, saat saya sedang berkendara di jalan, lalu saya mendapat ide dan keresahan, langsung saya tulis saat itu juga.

Menulis di era sekarang dapat di media apa pun, kalau saya pribadi ketika mendapat ide atau gagasan, langsung saya tulis di gawai atau ponsel. Sebab, era sekarang mayoritas generasi sudah memakai ponsel pintar.

Oleh sebab itu, menulislah di ponsel dulu, lalu lanjutkanlah ketika waktu luang. Analogi yang kedua, saya menjawab dengan keresahan. 

Misal di dunia pendidikan yang saya amati setiap harinya, maka saya tulis di saat itu juga di ponsel, kemudian saya lanjutkan ketika waktu yang tepat atau Waktu luang.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved