Selasa, 14 April 2026

Makan Bergizi Gratis

Anggota DPR RI Optimis Anggaran MBG Tidak Terdampak Efisiensi

 Anggaran Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebesar Rp 71 triliun disebut tidak terdampak efisiensi.

Editor: Ryan Nong
FOTO KBRN
PROGRAM SOSIALISASI MBG - Anggota Komisi IX DPR RI, Nurhadi saat menjadi pemateri dalam Sosialisasi Program MBG di SMK PGRI 2 Kota Kediri, Senin (24/3/2025). 

POS-KUPANG.COM, KEDIRI - Anggaran Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebesar Rp 71 triliun disebut tidak terdampak efisiensi.

Optimisme itu disampaikan anggota Komisi IX DPR RI, Nurhadi S.Pd., M.H saa menghadiri Sosialisasi Program MBG di SMK PGRI 2 Kota Kediri, Senin (24/3/2025).

"Anggaran MBG Rp 71 triliun ini tetap aman dan tidak akan terkena imbas kebijakan efisiensi. Sebab, MBG ini prioritas pemerintah untuk meningkatkan gizi masyarakat, terutama agar anak-anak Indonesia tidak stunting," kata Nurhadi dikutip dari KBRN.

Menurutnya, besaran anggaran MBG senilai Rp 71 triliun itu digunakan secara nasional hingga bulan Juni tahun 2025. Setelah itu, pemerintah akan menyalurkan anggaran berikutnya menjadi Rp 200 triliun dan diperuntukkan hingga akhir tahun 2025.

"MBG ini merupakan bagian dari strategi nasional menuju Indonesia Emas 2045. Jadi, program ini bukan hanya soal makanan bergizi, tapi juga tentang pemerataan pembangunan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Dengan melibatkan petani, peternak, nelayan, dan UMKM lokal, kita memastikan rantai pasok pangan yang kuat dan berkelanjutan," katanya.

Nurhadi meyakini, dengan pendirian dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) akan berdampak luas pada kearifan lokal. Misalnya, untuk bahan baku sayur-mayur, buah, maupun protein lainnya bisa didapatkan dari wilayah setempat.

"Satu dapur SPPG ini bisa memasak untuk 3.000-3.500 penerima manfaat," katanya.

Untuk di Kediri, tambah Nurhadi, targetnya ke depan ada 250 dapur SPPG di Kabupaten Kediri, sedangkan di wilayah Kota Kediri ada 43 dapur SPPG. Dengan banyaknya jumlah dapur ini, diyakini sektor ekonomi semakin bergerak dan ditunjang dengan pembukaan lapangan pekerjaan.

"Contoh saja, di satu dapur SPPG itu membutuhkan 50 orang tenaga kerja. Dari jumlah itu, 3 orang di antaranya PPPK dari Badan Gizi Nasional (BGN) sedangkan lainnya bisa merekrut juru masak, cleaning service, sopir, maupun petugas yang belanja bahan pokok," katanya.

Di tempat sama, tampak, Tenaga Ahli Sekretaris Promosi Gizi dan Kerja Sama BGN RI, Kolonel Andy Charman Gartika. Ia menyampaikan, Program MBG ini membidik banyak anak usia dini yang kekurangan gizi. Dari hasil penelitian tentang tingkat kecerdasan di 11 negara Asia Tenggara, seperti yang dijelaskan Anggota Komisi IX DPR RI, Nurhadi negara Indonesia ranking 10, dari 11 negara, dan negara ke-11 adalah Timor Leste.

"Tingkat kecerdasan ini berkaitan dengan asupan gizi. Jadi nanti dengan MBG, maka gizi anak di tingkat Paud hingga SMA akan ditingkatkan," katanya.

Ia berharap, dengan hadirnya Program MBG ini maka bisa mencapai Indonesia Emas pada tahun 2045, sehingga dapat mengejar ketertinggalan 10-20 tahun lalu. Terlebih lagi, sebanyak 106 negara di dunia sudah memulai program MBG yang memberi banyak manfaat bagi generasi muda.

Hadir di tempat sama, Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur, Khusnul Arif, S.Sos, Ketua YPLP PGRI Kota Kediri, Dr. Atrup, M.Pd., M.M, Kepala Sekolah SMK PGRI 2 Kota Kediri, Ulul Mustagfirin, S.Pd., M.Pd, dan Kasub Koordinator Kesehatan Keluarga dan Gizi Masyarakat Dinas Kesehatan Kota Kediri. (*)

 

Ikuti berita POS-KUPANG.COM di GOOGLE NEWS

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved