Renungan Harian Katolik
Renungan Harian Katolik Sabtu 22 Maret 2025, "Aku Telah Berdosa Terhadap Sorga dan Bapa"
Ketaatan semu ini sesungguhnya adalah satu sikap hidup tidak jujur kepada diri, sesama dan Tuhan. Perlukah kita memupuk sikap seperti ini?
SUARA PAGI
Bersama
Pastor John Lewar SVD
Biara Soverdi St. Yosef Freinademetz
STM Nenuk Atambua Timor
Sabtu, 22 Maret 2025
Hari biasa Pekan II Prapaskah
Lectio: Mikha 7:14-15,18-20; Mazmur 103:1-2,3-4,9-10,11-12;
Lukas 15:1-3.11-32
Aku telah berdosa terhadap Sorga dan Bapa
Meditatio:
Injil Lukas hari ini sungguh melukiskan tingkahlaku manusia dan cinta Tuhan kepada manusia ciptaan-Nya. Tingkah laku anak yang hilang/anak bungsu ini mau melukiskan tingkahlaku kita, bahwa betapa sering kita menuntut apa yang menjadi hak kita dan mempraktekan kebebasan kita sesuai dengan keinginan kita tanpa memikirkan akibatnya.
Kebebasan inilah yang mendatangkan malapetaka bagi diri kita sendiri. Tetapi sesudah kita jatuh dan rasakan keterpurukan kita baru kita sadar akan kesalahan diri dan kebaikan orangtua atau Tuhan dan berniat untuk
kembali dan memperbaiki diri.
Terberkatilah kita kalau kita kembali bertobat. Sikap seperti inilah yang selalu didambakan Tuhan.
Jatuh dan bangun kembali. Tetapi ada yang malu untuk kembali atau bangkit. Semakin kita malu bertemu Tuhan, itu berarti kita dengan sadar menjauhkan diri dari Tuhan.
Dengan memupuk sikap ini berarti dengan sadar kita sudah menjerumuskan jiwa kita ke dalam kegelapan untuk selamanya. Betapa sering kita juga mengikuti tingkah-laku anak sulung dalam Injil hari ini.
Ada ketaatan semu agar dipuji atau agar tidak menyakiti orang lain. Tetapi sesungguhnya masih ada kejengkelan, kecemburuan dan kepalsuan di dalam diri kita.
Kita rajin datang Misa, ikut kegiatan doa, tetapi terkadang mulut kita senang sekali membicarakan keburukan orang lain; kita cepat sekali marah dan tidak mau membantu orang yang sangat membutuhkan pertolongan.
Ketaatan semu ini sesungguhnya adalah satu sikap hidup tidak jujur kepada diri, sesama dan Tuhan. Perlukah kita memupuk sikap seperti ini?
Sebagai anak-anak Allah pasti kita tidak mau memupuk sikap seperti ini. Tuhan menghendaki agar kita harus taat dengan tulus hati dan benar.
Ketaatan sejati tidak memerlukan orang lain untuk mengingatkan kita, tetapi selalu keluar dari kesadaran akan pentingnya nilai dari ketaatan itu. Nabi Mikha menggambarkan hebatnya Allah kita sebagai Bapa yang
maharahim. Allah bagi Mikha adalah seorang gembala yang baik.
Gembala yang mengampuni dosa-dosa dan memaafkan pelanggaran yang dilakukan umatNya. Ia tidak murka tetapi penuh kasih setia.
Allah yang kita imani menurut Mikha adalah Allah yang penyayang. Ia menghapus dosa-dosa kita, melempar semua dosa ke dalam tubir-tubir laut. Hanya Dialah yang mampu melupakan kesalahan-kesalahan kita. Dalam Injil Lukas hari ini kita juga bisa melihat sifat Tuhan, yang selalu mendengarkan permohonan manusia dan selalu siap mengabulkannya.
Baca juga: Renungan Harian Katolik Sabtu 22 Maret 2025, "Anak Sulung dan Bungsu"
| Renungan Harian Katolik Jumat 1 Mei 2026, "Akulah Jalan dan Kebenaran dan Hidup" |
|
|---|
| Renungan Harian Katolik Jumat 1 Mei 2026, “Jalan, Kebenaran, dan Hidup” |
|
|---|
| Renungan Harian Katolik Jumat 1 Mei 2026, "Hati Gelisah: Menggapai Kepastian Dalam Ketidakpastian |
|
|---|
| Renungan Harian Katolik Kamis 30 April 2026, "Musuh Dalam Selimut" |
|
|---|
| Renungan Harian Katolik Kamis 30 April 2026, "Akulah Dia" |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/John-Lewar-SVD.jpg)