Anker
Merawat Kaki Lewotobi agar Tak Mati Ditinggal Mengungsi
Tak ada suara tegur sapa antar tetangga yang sekadar meminta garam dari bilik dapur.
POS-KUPANG.COM - Aktivitas kehidupan sejumlah kampung di kaki Gunung Lewotobi perlahan-lahan mulai terasa.
Seiring tanaman yang bertunas subur dan penurunan aktivitas gunung, warga pun semakin sering berdatangan dari tempat pengungsian untuk membersihkan permukiman.
Pada Jumat (7/2) pagi, Pemerintah Desa Hokeng Jaya bersama warga melaksanakan bakti sosial. Dengan membawa cangkul, skop, dan tofa, mereka mengeruk material di setiap sudut desa yang berada di Kecamatan Wulanggitang, Kabupaten Flores Timur (Flotim), Provinsi NTT.
Semangat gotong-royong ini dilakukan setelah tiga bulan tanpa aktivitas. Beberapa pekan usai bencana dahsyat 3 November 2024, segalanya seperti selesai. Hokeng Jaya masuk dalam zona bahaya atau kawasan rawan bencana (KRB).
Ditinggalkan pergi penghuninya, desa yang disebut "Miniatur Lembata" karena didominasi pendatang dari Pulau Lembata itu lantas sepi bak kota mati. Tak ada suara tegur sapa antar tetangga yang sekadar meminta garam dari bilik dapur. Namun segalanya terukir kembali lewat bakti Jumat bersih.
Bakti sosial untuk menghidupkan suasana kampung dimulai dari lorong-lorong setapak, jalan umum, dan rumah-rumah warga. Semua badan jalan tampak tertutup material pasir, kerikil, dan batu. Aroma belerang menyumbat hidung.
Sebelum bencana besar, kondisi Hokeng Jaya sangat asri dan rindang. Desa ini dikelilingi beragam jenis tanaman pohon yang berbuah segar. Tak heran Hokeng dijuluki "Kampung Buah", apapun bisa ditanam dan tumbuh subur.
Bencana 3 November 2024 silam mematikan sebagian besar kehidupan. Namun optimisme tetap tumbuh, bersamaan dengan tunas-tunas kakao yang menghijau. Mereka percaya bahwa Lembah Hokeng, sebutan Desa Hokeng Jaya dan Klatanlo, tetap berdiri kendati segalanya akan direlokasi.
Kepala Desa (Kades) Hokeng Jaya, Gabriel Bala Namang, mengatakan, Pemerintah Desa mengaktifkan kembali program Jumat Bersih yang sebelumnya terhenti akibat bencana. Hal itu demi mengembalikan wajah kampung agar tak mati akibat ditinggal mengungsi.
Gabriel menuturkan, warganya lebih banyak mengungsi ke Desa Bokang Wolomatang, Kecamatan Titehena. Di sana mereka tinggal terpusat pada camp-camp darurat dan ada yang tinggal mandiri di rumah warga.
Menurutnya, partisipasi masyarakat sangat tinggi. Hal ini menandakan kerinduan akan kampung halaman yang telah memberi kehidupan dan membesarkan generasi hingga sukses.
Dalam bakti sosial perdana pasca bencana itu, pihaknya menjalin kerjasama dengam lembaga YPPS dan CRS. Sesuai kesepakatan bersama, Jumat Bersih akan dilakukan secara rutin. Walaupun situasi gunung masih Level III (Siaga), tapi masyarakat sangat antusias dan semangat. Masyarakat selalu punya kerinduan untuk ke kampung.
“Jumat berikutnya, kami akan fokus di fasilitas lainnya, supaya Hokeng Jaya tetap terawat ketika ditinggalkan," ujarnya.
Gabriel dan warga merasakan situasi kampung meski waktunya terbatas. Gunung Lewotobi Laki-laki terpaut jarak sekira 5 kilometer dari tempat mereka berdiri. Tidak terdengar suara gemuruh, hanya tampak asap putih tipis yang muncul di atas puncak gunung.
Pemdes Hokeng Jaya sudah berkoordinasi dengan Polsek Wulanggitang dan Koramil 1624-06 Boru bahwa masyarakat kembali ke kampung untuk bakti sosial.
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.