Opini

Opini: Kota Bersih

Tidak boleh tanaman menderita kekeringan di musim kemarau. Ini tidak berat, hanya perlu keseriusan dari kita, masyarakat dan pemerintah kota. 

Editor: Dion DB Putra
POS-KUPANG.COM
Dr. Anton Bele, M.Si 

Oleh: Anton Bele
Warga Kelurahan Kolhua, Kota Kupang

POS-KUPANG.COM - Perbaharui niat itu manusiawi. Kita di Kota Kupang akan segera menyaksikan pelantikan Wali kota dan Wakil Wali kota baru. Ada niat baru, pasti. Ibarat merajut permadani, melanjutkan rajutan, yang baik dibuat semakin baik. 

Diri pribadi manusia ini diberi Tuhan empat unsur. Nafsu, nalar, naluri dan nurani. Nafsu dalam arti positif, ada dorongan untuk buat baik, hasilkan yang baik dan nikmati yang baik itu. 

Nalar dalam arti umum, kemampuan untuk mengalami dan memikirkan yang baik demi diri dan sesama. Naluri itu dorongan dalam diri manusia untuk hidup bersama sesama manusia. 

Nurani itu unsur terdalam dalam diri kita yang membuat diri kita manusia untuk sadar bahwa ada Pencipta Yang mengadakan kita, dari Dia kembali ke Dia. 

Inilah arti empat unsur dalam diri kita manusia yang menyatu tak terpisahkan satu sama lain selama hayat dikandung badan (4N, Kwadran Bele, 2011).

Pengalaman kecil penulis, tentang menata kota. Tahun 1986, selama enam bulan, Agustus sampai Desember, penulis mengikuti kursus Pastoral Ekonomi di Belanda, tinggal di kota Den Haag

Kota kecil, tidak sebesar Amsterdam. Kota Den Haag, sungguh-sungguh indah. Bersih. 

Tiap rumah tangga, termasuk yang tinggal di rumah susun, menyiapkan tiga kotak sampah, tiga warna, hijau untuk sisah makanan, hitam untuk kertas, merah untuk beling, pecahan kaca. 

Setiap pagi mobil-mobil sampah lewat dan langsung memisahkan sampah itu ke dalam tiga bagian di gerobak sampah, sesuai warna, hijau, hitam, merah. 

Setiap anak kecil di rumah dan tetangga yang penulis tinggal, sudah dilatih dan sadar untuk membuang sampah pada tempatnya. Penulis pun belajar dari anak-anak ini.

Pengalaman paling unik ialah pemilikan tanah dalam kota Den Haag. Jalur hijau, taman umum dalam kota dibagi-bagi kepada keluarga-keluarga, rata-rata satu keluarga mendapat kapling seluas sepuluh kali dua puluh meter. 

Dalam kota tidak ada tanah kosong yang dibiarkan terlantar. Setiap bidang tanah itu menjadi hak pakai dari keluarga-keluarga sesuai ketentuan yang berlaku. 

Bidang tanah itu dikuasai keluarga atas dasar hak pakai, tidak hak milik. Semua bidang tanah itu secara ketat ada di bawah pengawasan dinas tata kota. 

Setiap keluarga yang mendapat hak pakai itu berkewajiban menata bidang tanah itu sesuai petunjuk dinas tata kota. Atas jasa perawatan ini, setiap keluarga mendapat uang lelah yang wajar. Tanaman yang ditanam pun diatur. Tidak seenaknya saja. 

Ranting pohon pun tidak boleh dipangkas tanpa izin dari dinas.  Penulis sebagai peserta kursus, bertanya, mengapa peraturan begitu ketat? Dijawab, itu kita punya paru-paru, harus dijaga, dirawat. 

Kalau tiap orang bebas potong dahan kayu, maka penduduk kota yang waktu itu sekitar lima ratus ribu orang, terdiri dari anak-anak balita lima puluh ribu, berarti sekitar empat ratus lima puluh ribu orang yang sudah mampu mematahkan ranting pohon, dalam sehari bisa empat ratus lima puluh ribu ranting pohon dipatahkan. Dalam sekejap kota ini akan gundul. 

Keterangan ini terlalu berlebihan. Tapi penulis bersama beberapa peserta kursus dari Asia, cuma angguk-angguk. Lalu pemberi kursus  melanjutkan, kaleng bekas minuman pun tidak boleh dibuang sembarangan. 

Kalau tidak dilarang, maka dalam satu menit, kota ini akan dipenuhi dengan empat ratus lima puluh ribu kaleng bekas. Di situ kami peserta kursus semua tertawa terbahak-bahak. Pemberi kursus cuma tersenyum, puas bahwa keterangannya masuk otak orang Asia.

Maaf, penulis terlalu menerawang jauh ke Belanda sana. Mari kita pulang ke kota Kupang, kota Kasih, kota Sayang, entah nama apa lagi, terserah, asal jangan bilang Kota sampah. 

Itu penulis marah. Siapa yang berani bilang demikian, pasti penulis akan laporkan dia ke Bapak Wali kota. 

Kita penghuni Kota Kupang sekarang perbaharui niat, buat kota  ini memenuhi empat sifat: bersih, hijau, segar, sehat. Bersih karena kita ada nafsu untuk lepaskan diri dari bermacam sampah. 

Hijau karena kita semua ada nalar untuk tanam dan rawat tanaman,  pohon-pohon yang  ada dan yang baru ditanam. 

Segar karena naluri kita tertawa ria di bawah naungan dedaunan  hijau. Sehat karena nurani kita tenang sesuai kata orang Latin,  mens sana in corpore sano, budi yang sehat dalam badan yang sehat. Apa tindakan nyata kita?

Yang Mulia Uskup Agung Kupang, Mgr. Hironimus Pakaenoni dengan sangat serius berkata beberapa waktu lalu di depan penulis, “Kota Kupang ini bisa hijau sepanjang tahun kalau pohon-pohon yang ada dan yang ditanam nanti, dipelihara dengan baik. Untuk itu perlu air secukupnya untuk siram. Di mana-mana dibuat bak penampung dan tetap diisi dengan air pakai mobil-mobil tangki. Dari bak-bak itu air dialirkan ke bidang tanah sekitar lewat pipa-pipa dengan sistim irigasi tetes.” 

Ungkapan beliau ini hasil pengalaman beliau di luar negeri, terutama di kota Roma selama beliau studi di sana.

Beliau melanjutkan, “Kalau pohon-pohon sudah tumbuh, jaga jangan sampai terbakar. Usaha penghijauan dalam kota ini harus menjadi contoh untuk kota-kota lain, dan untuk seluruh wilayah NTT. Tidak boleh lagi ada tanah gersang. Tanaman dan ternak bisa hidup berkembang biak sebagai hasil masyarakat untuk hidup yang layak”. Ini suara gembala.

Penulis membayangkan kota Kupang yang hijau sepanjang tahun dan pohon-pohon yang tumbuh harus segar termasuk pohon buah-buahan berbagai jenis. Mulai sukun, mangga, nangka, jambu dan jeruk. 

Pohon hias, khususnya pohon sepe, flamboyan, harus diberi perhatian istimewa. Masalah air harus diperhatikan sungguh-sungguh. 

Tidak boleh tanaman menderita kekeringan di musim kemarau. Ini tidak berat, hanya perlu keseriusan dari kita, masyarakat dan pemerintah kota. 

Usulan Uskup Agung Kupang itu harus diperhatikan dengan serius oleh Pemerintah Kota. Kupang harus benar-benar jadi Ibu Kota Provinsi yang jadi teladan bagi semua kota dan kampung di NTT dalam empat sifat ini, bersih-hijau-segar-sehat.

Kota ini kita punya. Setiap kita harus merasa resah dan risih melihat kota kita tidak bersih. Tidak elok kalau warganya meliuk-liuk di Lipo Plaza dengan ibu-ibu bergincu tebal dan tuan-tuan berpakaian licin mengkilat sementara kotanya tidak bersih. 

Semua gedung dalam kota, entah itu rumah susun atau rumah tinggal, kantor, sekolah, rumah-rumah ibadat harus berada dalam naungan pohon-pohon apa pun saja, termasuk pohon sepe yang bunganya merah merona selama empat bulan, Oktober, November, Desember, Januari. Jadikan kota Kupang berciri khas, Kota Sepe.

Penulis dengan sangat gembira menulis artikel ini karena penulis sudah berada dalam bayangan kota idaman itu. Penulis membayangkan para mahasiswa-mahasiswi asyik membaca buku-buku ilmiah di bawah naungan pohon sepe. Mari semua kita jadikan Kota Kupang, Kota Bersih. (*)
 

Sumber: Pos Kupang
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved