Selasa, 19 Mei 2026

Renungan Harian Katolik

Renungan Harian Katolik Kamis 23 Januari 2025, Benih dan Tanah

Benih pada umumnya menunjuk pada hal-hal yang positif, misalnya keunggulan atau sesuatu yang berkualitas.

Tayang:
Editor: Rosalina Woso
POS-KUPANG.COM/HO-DOK
Pater John Lewar, SVD menyampaikan Renungan Harian Katolik Kamis (23/1/2025), Benih dan Tanah 

Oleh : Pastor John Lewar SVD

POS-KUPANG.COM - Renungan Harian Katolik Kamis 23 Januari 2025, Benih dan Tanah

Biara Soverdi St. Yosef Freinademetz, STM Nenuk Atambua Timor

Hari ke-6 Pekan Doa Sedunia
Lectio: Keluaran 16:1-5,9-15; Mazmur 78:18-19,23-24,25-26,27-28;
Injil : Matius 13:1-9

Meditatio:
Israel adalah salah satu negara yang paling maju dalam bidang industri pertanian. Kita angkat jempol untuk kemajuan yang sangat pesat ini.

Baca juga: Renungan Harian Katolik Selasa 21 Januari 2025, “Tuhan Atas Hari Sabat” 

Tanah yang tandus, padang gurun dapat diubah menjadi sebuah daerah yang hijau untuk dihuni. Tetapi lebih menarik adalah daerah Galilea yang sangat subur dengan pohon buah-buahan, sayur mayur dan gandum.

Tentu sistem pertanian saat ini sangat modern dan berbeda dengan zaman dahulu sehingga daerah Galilea dapat memberi makan kepada para penghuninya sepanjang tahun.

Di dalam bacaan Injil Matius (13: 1-9 ) hari ini Yesus mengatakan diriNya sebagai sang Penabur yang menaburkan benih sesuai seleraNya. Benih adalah SabdaNya dan merupakan tanda nyata hadirNya Kerajaan Allah.

Tempat jatuhnya benih adalah hati setiap pribadi yang mendengar Sabda dan melihat pribadi Yesus.

Dua pokok penting dalam perikop injil hari ini adalah benih dan tanah (Lidwina Suprapti PBHK, LBI,2020/07/12).

Benih pada umumnya menunjuk pada hal-hal yang positif, misalnya keunggulan atau sesuatu
yang berkualitas.

Seorang petani sering kali menyisihkan benih yang bagus untuk ditanam kembali. Benih tersebut berpotensi tumbuh dengan baik, sehingga melestarikan kehidupan selanjutnya. Benih yang dimaksudkan Yesus dalam perumpamaan hari ini adalah Firman Allah.

Firman Allah memiliki daya tumbuh yang luar biasa serta mengandung inti sari kehidupan. Benih yang ditaburkan di atas tanah akan melebur dan menyatu dengan tanah demi kehidupan yang baru. Demikian juga
halnya dengan firman Allah yang diwartakan kepada manusia.

Selanjutnya adalah tanah. Berbagai macam tanah ada di bumi: Ada yang berbatu-batu; ada yang kering dan tandus; ada yang gembur, subur, dan penuh humus.

Pada zaman sekarang, tanah bisa diolah dengan teknologi modern sehingga yang tandus berubah menjadi subur.

Namun sebaliknya, karena kelalaian manusia, bisa saja tanah yang tadinya subur berubah menjadi tandus karena kehilangan humus. Kesuburan tanah hilang misalnya karena pemakaian berbagai macam zat kimia sehingga kemudian tanah itu tidak bisa ditanami tumbuhan lagi.

Di mana-mana banyak petani membersihkan rumput di ladang atau kebun dengan obat pestisida dan Runduf.

Perumpamaan yang kita dengar hari ini menjelaskan bahwa firman Tuhan ditaburkan kepada siapa saja. Sang penabur tidak pilih-pilih pribadi. Siapa pun bisa menerima apa yang ditaburkan olehnya.

Sementara itu, tanah adalah situasi pribadi manusia dalam menanggapi firman itu.

Manusia sendirilah yang menjadi penentu apakah dirinya seperti tanah yang tandus, keras, dan berbatu-batu, sehingga firman Tuhan tidak bisa tinggal dan tumbuh padanya; ataukah seperti tanah yang ditumbuhi semak berduri, yakni pribadi yang penuh dengan dosa, iri hati, kemarahan, dan kebencian, sehingga firman Tuhan tumbuh sebentar di atasnya, tetapi kemudian layu dan mati.

Kita pun bisa memilih untuk menjadi tanah yang subur. Memang sebagai manusia, kita selalu penuh dengan kekurangan.

Namun, meskipun memang kita sekarang ini layaknya tanah yang tandus atau berbatu atau penuh duri, kesempatan tetap terbuka bagi kita untuk berubah dan memperbaiki diri.

Sebagai pengikut Kristus, kita dapat membersihkan tanah kita, tidak lain diri kita sendiri, dengan memupuknya menggunakan kekayaan Gereja, yakni sakramen-sakramen.

Namun, di zaman modern ini, tidak jarang tanah kita terkena polusi egoisme. Iman menjadi luntur karena manusia menganggap dirinya berkuasa dan melakukan apa saja. Ini membuat tanah kita menjadi kering oleh kesombongan dan hedonisme.

Kita menjauhkan Allah dari kehidupan kita. Marilah kita mendukung semangat sang penabur agar benih yang ditaburkannya dapat menghasilkan buah yang banyak.

Kalau tanah kita sudah subur, mari kita jaga kesuburannya. Kalau tanah kita masih kering, mari kita berusaha mencari humus agar benih yang telah ditaburkan itu tidak mati sia-sia.

Missio:
Mari kita pupuk tanah hati kita untuk selalu membaca, mendengarkan dan melaksanakan Sabda Tuhan agar bertumbuh subur dalam hidup kita.

Doa: Tuhan Yesus Kristus, sabda-Mu takkan kembali kepada-Mu dengan sia-sia, melainkan menumbuhkan iman berlipat ganda.

Semoga kami mau menjadi tanah yang subur sehingga dapat Kaugunakan untuk mengalirkan rahmat-Mu kepada dunia... Amin.

Sahabatku yang terkasih, selamat Hari Kamis, Hari ke 6 Pekan Doa sedunia bagi persatuan umat Kristen.

Salam doa dan berkatku untukmu dan keluarga di mana saja berada: Bapa dan Putera dan Roh
Kudus...Amin.(*)

Ikuti Berita POS-KUPANG.COM Lainnya di GOOGLE NEWS

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved