Amerika Serikat
Joe Biden Gelisah Konsentrasi Kekuasaan Berada di Tangan Orang Superkaya Amerika
Presiden Joe Biden merujuk pada peringatan Presiden Dwight Eisenhower dalam pidato perpisahannya tahun 1961. Ketika itu Presiden Eisenhower ...
POS-KUPANG.COM, WASHINGTON - Presiden Amerika Serikat ( AS), Joe Biden mengungkapkan kegelisahannya dalam pidato perpisahan dari Ruang Oval Gedung Putih, Rabu 15 Januari 2025 waktu setempat.
Joe Biden yang segera mengakhiri masa jabatannya pada 20 Januari 2025, prihatin dengan konsentrasi kekuasaan berbahaya di tangan segelintir orang superkaya di Amerika Serikat.
“Sebuah oligarki sedang terbentuk di Amerika, dengan kekayaan, kekuasaan, dan pengaruh yang luar biasa, yang benar-benar mengancam demokrasi kita, hak-hak dasar dan kebebasan kita, serta kesempatan yang adil bagi semua orang untuk maju,” kata Presiden Joe Biden dalam pidato perpisahannya.
Joe Biden, seorang penganut Katolik yang taat, menyampaikan hal itu di tengah persiapan menyerahkan kekuasaan kepada presiden terpilih Donald Trump pada Senin 20 Januari 2025.
Presiden Joe Biden merujuk pada peringatan Presiden Dwight Eisenhower dalam pidato perpisahannya tahun 1961. Ketika itu Presiden Eisenhower memperkenalkan istilah military-industrial complex.
Istilah itu menggambarkan hubungan erat antara militer, industri persenjataan, dan pemerintah Amerika Serikat.
Eisenhower memperingatkan, jika hubungan itu tidak diawasi, maka akan terjadi konsentrasi kekuasaan yang berbahaya.
Hal ini berpotensi mendorong peningkatan pengeluaran militer yang berlebihan dan kebijakan yang dipengaruhi oleh kepentingan ekonomi dan politik, bukan oleh kepentingan rakyat Amerika Serikat.
"Saya memiliki kekhawatiran serupa terhadap kemungkinan munculnya tech-industrial complex yang dapat menjadi ancaman serius bagi negara kita," kata Joe Biden, presiden AS dari Partai Demokrat yang mengalahkan Trump di Pilpres 2020.
Joe Biden menyuarakan kekhawatirannya itu saat sejumlah orang superkaya di dunia dan para raksasa industri teknologi berbondong-bondong mendukung Donald Trump dalam beberapa bulan terakhir, terutama setelah kemenangan Trump pada 5 November 2024 lalu.
Miliarder, Elon Musk menggelontorkan dana lebih dari 100 juta dollar (Rp 1,6 triliun) untuk membantu Trump terpilih.
Tokoh superkaya seperti Mark Zuckerberg dari Meta dan Jeff Bezos dari Amazon menyumbang untuk komite pelantikan Trump serta melakukan kunjungan ke klub pribadi Trump di Florida untuk bertemu dengan presiden terpilih itu.
Joe Biden telah mengusulkan amandemen konstitusi untuk mengakhiri kekebalan hukum bagi presiden yang menjabat, setelah Mahkamah Agung AS tahun lalu memberikan perlindungan luas kepada Trump dari tanggung jawab pidana atas perannya dalam upaya menentang kekalahannya dalam pemilu tahun 2020 melawan Joe Biden.
Sumber: Kompas.com
Joe Biden
Presiden Amerika Serikat
Ruang Oval Gedung :Putih
Elon Musk
Jeff Bezos
Mark Zuckerberg
superkaya
oligarki politik
Korban Tewas dalam Musibah Banjir di Texas Mencapai 78 Orang, Pencarian Berlanjut |
![]() |
---|
Banjir Bandang Melanda Bumi Perkemahan di Texas, 20 Anak Perempuan Hilang |
![]() |
---|
Perseteruan Elon Musk dan Trump Makin Memanas, Singgung Rencana Pemakzulan |
![]() |
---|
Elon Musk Hadir di Gedung Putih dengan Mata Lebam, Ada Apa Gerangan? |
![]() |
---|
Universitas Harvard Menang Gugatan atas Pemerintahan Donald Trump |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.