Berita NTT

Mengenang Satu Tahun Erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki di Flores Timur NTT

kedamaian masih hangat dalam benak mereka bersamaan dengan perayaan ekaristi di Gereja Maria Ratu Semesta Alam Hokeng.

Editor: Rosalina Woso
POS-KUPANG.COM/PAUL KABELEN
Gunung Lewotobi Laki-laki di Kabupaten Flores Timur, NTT. Dokumentasi, Minggu, 15 Desember 2024 siang. 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Paul Kabelen

POS-KUPANG.COM, LARANTUKA-Tak terasa bencana erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki di Flores Timur, NTT, genap satu tahun.

Kejadian perdana tanggal 23 Desember 2023. Hingga saat ini, Senin, 23 Desember 2024, Lewotobi Laki-laki masih mengalami kegempaan dan sesekali erupsi.

Di tahun lalu itu, suasana ketenangan berubah mencekam kala material erupsi membumbung tinggi. Suara gemuruh menggelegar.

Wilayah Kecamatan Wulanggitang dan Ile Bura yang terdampak tampak gelap lantaran tertutup abu vulkanik yang keluar dari dalam perut gunung.

Warga sejumlah desa, termasuk Hokeng Jaya, Dulipali, Klatanlo, dan Nawokote berhamburan keluar rumah. Mereka lantas menyelamatkan diri ke perbatasan Flores Timur-Sikka yang jaraknya sekira 13 kilometer dari pusat erupsi.

Baca juga: Kasus Stunting di Flores Timur Tembus 2.997 Kasus, Salah Satu Penyebabnya Adalah Asap Rokok

Bencana perdana itu tak menimbulkan korban jiwa. Warga masih bisa pulang ke rumah untuk merayakan Natal bersama sanak keluarga. Canda, tawa, kedamaian masih hangat dalam benak mereka bersamaan dengan perayaan ekaristi di Gereja Maria Ratu Semesta Alam Hokeng.

Sebelum Gunung Lewotobi Laki-laki kembali mengamuk ketika detik-detik pergantian tahun 2023 ke 2024, warga masih bisa menggarap kebun, guru dan murid pergi ke sekolah, serta pengusaha yang menjual di Pasar Boru.

"Iya, waktu itu tengah malam, beberapa menit jelang pergantian tahun. 31 Desember 2023 ke 1 Januari 2024, kami semua lari, suasana saat itu mencekam, kami ketakutan," kata Trisno Riyanto, warga Hokeng Jaya yang kini mengungsi di Desa Bokang Wolomatang, Kecamatan Titehena. 

Erupsi berkepanjangan membuat warganya terbiasa. Hari-hari dikepung belerang, mereka tak lagi khawatir dengan apa yang diberikan Gunung Lewotobi Laki-laki. Namun, kerusakan parah amat terasa saat atap rumah bocor dan terjangan banjir lahar dingin yang meneror kampung.

Tanaman perlahan mati. Hasil panen kakao, mete, serta tanaman hortikultura kian merosot bahkan gagal total. 

Hidup semakin susah dan berat. Sepanjang erupsi, warga tak menikmati sayuran yang mereka tanam lantaran sudah terkontaminasi abu vulkanik.

Peliknya hidup warga dalam keadaan bencana yang sangat panjang itu sejatinya luput dari perhatian pemerintah setempat. Mereka pun kehilangan kepercayaan. Ribuan masyarakat bahkan tak menggunakan hak politiknya saat Pilkada 27 November 2024.

Hingga 3 November 2024, tengah malam, hal yang tak terduga akhirnya terjadi. Letusan bak kiamat membangunkan warga. Beberapa saat berselang, permukiman Klatanlo, Dulipali dan Hokeng Jaya dilanda hujan batu. 9 warganya meninggal, rumah terbakar, sekolah-sekolah hancur dihantam batu.

Yoseph Moti Namang, mengatakan peristiwa bencana 3 November menjadi catatan sejarah yang tak akan lekang. Letusan gunung yang menurunya amat "ganas" itu baru ia rasakan, berbeda dengan yang pernah terjadi sekira 20-an tahun silam.

Halaman
12
Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved