Berita Ende

Lagu "Tuan Leret" Bawa Musik Kampung Lalamapa Juara 3 Festival Desa 2024 di Jakarta

Dalam festival yang diselenggarakan oleh Badan Kebudayaan Nasional PDI Perjuangan, musik kampung Lalamapa berhasil menduduki posisi ketiga

Editor: Edi Hayong
POS-KUPANG.COM/HO.ISTIMEWA
Ambrosius Royland Moan Laka, atau yang lebih dikenal dengan Troy Art, selaku manajer kelompok musik Lalamapa, saat menerima piala juara 3 Festival Desa 2024 yang diselenggarakan oleh Badan Kebudayaan Nasional PDI Perjuangan di Jakarta. 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Albert Aquinaldo

POS-KUPANG.COM, ENDE - Kelompok musik kampung Lalamapa asal Desa Langir, Kecamatan Kangae, Kabupaten Sikka, Pulau Flores, berhasil meraih prestasi gemilang pada ajang Festival Desa 2024

Dalam festival yang diselenggarakan oleh Badan Kebudayaan Nasional PDI Perjuangan, musik kampung Lalamapa berhasil menduduki posisi ketiga di kategori musik.

Ini menjadi satu-satunya perwakilan dari Nusa Tenggara Timur (NTT) yang sukses menembus persaingan ketat di tingkat nasional yang diikuti kurang lebih 185 peserta dari seluruh Indonesia.

Pada ajang bergengsi tersebut, kelompok musik Lalamapa membawakan lagu "Tuan Leret", sebuah karya yang diciptakan oleh almarhumah Yolanda, putri asli Desa Langir. 

Lagu ini menggambarkan kerinduan mendalam seorang perantau terhadap kampung halaman.

Merindukan moke Kuwu Wetak yang khas, serta ingin mengenakan sarung buatan ibu dengan motif Tuen Leret yang menjadi ciri khas Kampung Kamet. 

Lagu ini mampu menyentuh hati juri dengan lirik yang sarat makna tentang budaya lokal, kekeluargaan, dan nostalgia akan kampung halaman.

Menurut Ambrosius Royland Moan Laka, atau yang lebih dikenal dengan Troy Art, selaku manajer kelompok musik Lalamapa, ajang Festival Desa 2024 diadakan secara virtual. 

Proses persiapan dimulai pada bulan September 2024, dengan pengiriman hasil karya pada bulan Oktober, meskipun pengumuman pemenang baru dilaksanakan pada Desember 2024 akibat penundaan yang disebabkan oleh Pilkada.

Troy menjelaskan, kategori musik dalam festival ini bersifat bebas, tetapi harus tetap mengedepankan unsur musik etnik. 

"Semua karya yang dikirimkan melalui virtual. Kami membuat rekaman terlebih dahulu, lalu mengirimkan hasilnya, termasuk video, yang sudah dalam bentuk jadi," ujarnya.

Baca juga: Warga Sikka Laporkan Dugaan Pelanggaran Pilkada ke Bawaslu NTT

Keunikan yang membedakan musik kampung Lalamapa dengan peserta lainnya adalah penggunaan alat musik tradisional yang disebut teren bas.

Alat musik ini terbuat dari tanah yang digali dan dipakai untuk membuat bas, dengan senar yang terbuat dari tali jemuran. 

Teren bas adalah warisan nenek moyang yang masih dilestarikan oleh masyarakat Desa Langir, dan menjadi ciri khas dalam penampilan mereka. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved