Berita Flores Timur
30 Peserta Perlindungan Anak dan Dukungan Psikososial Diberi Materi Reaksi Stres Bencana
Ia memantik peserta dengan pertanyaan dalam diskusi kelompok. Salah satunya soal reaksi individu terhadap bencana/kekerasan
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Paul Kabelen
POS-KUPANG.COM, LARANTUKA - Pelatihan perlindungan anak dan dukungan psikososial bagi relawan memasuki hari kedua.
Kegiatan berlangsung di Desa Kobasoma, Kecamatan Titehena, Kabupaten Flores Timur, sejak Rabu, 18 Desember dan berakhir hari ini Kamis, 19 Desember 2024.
Kegiatan untuk meningkatkan kapasitas para relawan ini diinisiasi oleh Yayasan FREN dan ChildFund, berkolaborasi dengan pihak Dinas P2KBP3A Flores Timur, Universitas Nusa Nipa (Unipa) Prodi Psikologi, PKBI, dan UNICEF.
Setelah dibekali materi hari pertama, termasuk pemahaman tentang safegaurding oleh FREN, 30 peserta diantaranya 22 penyintas bencana Gunung Lewotobi Laki-laki kembali menerima pembekalan dari dosen Unipa Maumere, Maria Nona Nancy.
Dekan Fakultas Ilmu Sosial ini membawakan materi tentang permasalahan psikososial bagi peserta yang juga relawan melalui tayangan infokus. Garis besarnya yaitu 'Permasalahan Psikososial Bencana Program Dukungan Psikososial Terstruktur'.
Nona Nancy mengawalinya dengan situasi bencana yang di dalamnya menyangkut tahap tanggap darurat, tahap pemulihan, dan tahap rekonstruksi. Saat tanggap darurat, pelbagai bantuan difokuskan pada penyelamatan para penyintas dan berusaha untuk menstabilkan situasi.
Sementara tahap pemulihan, setelah melewati beberapa pekan usai bencana, para penyintas biasanya melewati fase "bulan madu", ditandai dengan perasaan yang aman dan optimisme tentang masa depan. Tetapi dalam tahap ini, mereka harus membuat pilihan yang lebih realistis tentang hidupnya.
"Tahap rekonstruksi, satu tahun atau lebih setelah bencana, fokus bergeser lagi. Pola kehidupan yang stabil mungkin muncul lagi," katanya dalam materi yang ia paparkan.
Ia memantik peserta dengan pertanyaan dalam diskusi kelompok. Salah satunya soal reaksi individu terhadap bencana/kekerasan.
Terdapat tiga reaksi, diantaranya, reaksi stres emosional, reaksi stres fisik, dan reaksi stres kognitif dan perilaku.
Ia menuturkan, stres emosional dapat dilihat dari aspek emosional seperti lumpuh mental, gangguan tidur, ingat kembali rasa ketakutan, merasa asing, gelisah, depresi, marah, bahkan rasa berdosa karena bertahan hidup.
Reaksi stres fisik bencana, lanjutnya, dapat ditunjukkan dengan sejumlah keluhan seperti sakit kepala, lemas pada kaki dan tangan, lalu merasa lelah, merasa sesak, mual, diare, nyeri dada, kurang nafsu makan, pusing hingga kesemutan.
Baca juga: Panglima TNI Sambangi Pengungsi Korban Erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki di Kecamatan Titehena
Sementara reaksi stres kognitif, ditunjukkan dengan daya pikir yang lumpuh, apatis serta hilangnya ingatan jangka pendek. Kemudian kemampuan untuk mengambil tindakan atau keputusan dan pertimbangan terus menurun, bahkan tidak dapat menentukan pilihan dan urutan prioritas.
Setelah menjelaskan materi dalam durasi 20 menit, termasuk risiko kerentanan dan faktor pelindung, kegiatan pun dilanjutkan ke diskusi kelompok. Berdasarkan definisi dan contoh sebelumnya, peserta diminta membahasnya dalam kelompok masing-masing berdasarkan realitas yang sedang terjadi.
Mereka diarahkan untuk menuliskan berbagai risiko perlindungan anak-anak yang ada di lingkungan masing-masing, baik sebelum dan sesudah bencana.
Berdasarkan risiko tersebut, peserta diajak mengungkapkan kerentanan perlindungan anak di wilayahnya, kemudian faktor-faktor pelindung yang dapat mengurangi risiko dan kerentanan perlindungan anak. (*)
Ikuti Berita POS-KUPANG.COM lainnya di GOOGLE NEWS
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.