Berita NTT
Bioetanol dari Sorgum Manis untuk Gantikan Energi Fosil
Kalau untuk bioetanol ini yang digunakan adalah batangnya karena batangnya ini yang mengandung gula. Rasanya manis, bisa dimakan.
Penulis: Michaella Uzurasi | Editor: Oby Lewanmeru
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Michaella Uzurasi
POS-KUPANG.COM, KUPANG - Energi terbarukan yang bisa menjadi alternatif sebagai pengganti energi fosil adalah bioetanol yang ramah lingkungan karena bahan bakunya dapat diperbaharui dengan cara ditanam.
Prof. Dr. Jasman, S.Pd., M.Si., yang adalah pakar ilmu Biokimia Fermentasi Program Studi Pendidikan Kimia FKIP Undana Kupang menjelaskan seperti apa proses pembentukan bioetanol sebagai sumber energi terbarukan dari sorgum manis yang juga dikenal masyarakat NTT sebagai pangan lokal pengganti nasi.
Seperti apa penjelasannya? Berikut cuplikan wawancara eksklusif dalam Undana Talk, Selasa, 10/12/2024.
Dari mana ide Bioetanol untuk menggantikan energi fosil?
Kalau ide bagaimana menggantikan energi fosil dengan bioetanol itu memang sudah lama karena kita ketahui bahwa etanol itu adalah bahan yang mudah terbakar. Namun saya sendiri tertarik ke bioetanol baru sekitar dibawah tahun 2010, ketika itu saya membaca artikel dan salah satu bahan bakar alternatif itu adalah bioetanol. Yang menarik bagi saya waktu itu adalah bioetanol ini bisa dibuat dari bahan-bahan yang murah antara lain dari sampah-sampah tanaman misalnya daun, dari jerami, tongkol jagung dan macam-macam. Prinsipnya bahan itu harus mengandung karbohidrat karena yang diubah menjadi alkohol melalui proses fermentasi itu adalah karbohidrat. Waktu itu ide pertama saya adalah mau menggunakan jerami. Pokoknya bahan-bahan yang berasal dari limbah, tetapi kebetulan waktu saya ajukan itu, oleh pembimbing saya dikatakan, kalau bahan-bahan ini bisa menghasilkan etanol tetapi prosesnya sedikit lebih sulit. Kemudian waktu itu sementara mereka ada proyek yang dalam proyek itu menggunakan sorgum manis, ada kerjasama dengan salah satu universitas di Jepang. Saya ditawarkan untuk terlibat di situ maka jadilah saya meneliti penggunaan sorgum manis ini untuk pembuatan bioetanol.
Ketika ide itu ada dan bahannya juga ada, kapan anda mulai proses penelitian?
Penelitian saya karena saya ini orang Kimia, pembimbing saya itu orang Pertanian. Tahun 2012 mulainya, saya diminta untuk tidak sekedar langsung membuat bioetanol dari sorgum manis tapi mulai dari menanam karena waktu itu terkendala dengan bahan baku jadi saya diminta dari awal karena bahan baku kita tidak punya jadi harus ditanam. Jadi mulailah saya dari menanam, memelihara sampai panen. Kemudian hasilnya itu dipakai untuk pembuatan sorgum manis.
Yang digunakan itu bijinya, batang atau daun sorgum?
Kalau untuk bioetanol ini yang digunakan adalah batangnya karena batangnya ini yang mengandung gula. Rasanya manis, bisa dimakan.
Bagaimana proses penelitian itu berjalan akhirnya?
Setelah panen, batangnya kita ambil, diperas, saya juga mencari alat untuk bagaimana memeras karena dalam jumlah yang cukup banyak tidak mungkin kita peras dengan tangan. Setelah diperas kemudian cairan yang kita peroleh, kita sebut dengan nira, kalau kita mau menyimpan untuk bisa digunakan kemudian itu kita perlu semacam freezer untuk pengawetan. Sebaiknya begitu diperas langsung dipakai sebenarnya tapi karena ini penelitian di laboratorium kita perlu persiapkan bahan-bahan lain, kadang kita datangkan dari luar negeri. Sambil menunggu itu bahan ini kita awetkan dulu.
Itu berpengaruh tidak terhadap penelitiannya?
Ada pengaruhnya, kadar gula itu sedikit berkurang setelah penyimpanan tapi memang di freezer itu supaya kadar gulanya tidak jauh berkurang karena kalau disimpan begitu saja, kadar gulanya akan cepat berkurang karena itu kita harus dinginkan.
Baca juga: Kembali Kukuhkan Empat Guru Besar, Undana Hingga Kini Miliki 59 Guru Besar
Bagaimana prosesnya hingga menjadi bioetanol?
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Undana-Talk-bersama-Prof-Jasman.jpg)