Berita NTT

Pusat Pemulihan Gizi di NTT Resmi Diluncurkan 

Menurut mantan Kepala Badan Perbatasan ini, salah satu kunci keberhasilan dalam menurunkan stunting adalah dengan memperbaiki pola makan anak. 

Penulis: Irfan Hoi | Editor: Oby Lewanmeru
POS-KUPANG.COM/HO
Pemerintah Provinsi NTT dan Pemkot Kupang saat meluncurkan Pusat Pemulihan Gizi di Kelurahan Oesapa. 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Irfan Hoi

POS-KUPANG.COM, KUPANG  -- Pusat Pemulihan Gizi atau Theurapheutic Feeding Centre (TFC) di Provinsi NTT resmi diluncurkan. 

Selain itu, turut dilakukan peluncuran dua aplikasi inovatif yakni Anting Orta (Tangani Stunting melalui Orang Tua Asuh) dan Anting Mutiara (Tangani Stunting melalui penanganan Imunisasi Anak, Tubercolosis dan Malaria) serta Posyandu Integrasi Layanan Primer Bougenville X. 

Adapun peluncuran itu berlangsung di Puskesmas Oesapa, Kecamatan Kelapa Lima, Kota Kupang, pada Jumat, 25 Oktober 2024.

Penjabat Gubernur NTT, Dr Andriko Noto Susanto melaunching agenda tersebut. Hadir dalam kesempatan itu, Penjabat Wali Kota Kupang Linus Lusi, Staf Khusus Penjabat Gubernur NTT, Ben deRosari, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTT, drg. Iien Adriany, serta Ketua TP PKK Kota Kupang, Angela Lusi Deran.

Dalam keterangannya, Sabtu 26 Oktober 2024, Penjabat Gubernur NTT Andriko Susanto menyebut, hal itu merupakan bagian dari komitmen kuat pemerintah dalam mempercepat penanganan stunting secara terintegrasi di wilayah NTT.

Stunting merupakan krisis gizi yang harus diatasi dengan segera. Masalah itu tidak hanya berdampak pada tumbuh kembang anak, tetapi juga menurunkan kualitas sumber daya manusia dan berisiko meningkatkan angka kemiskinan. 

"Tahun 2045 merupakan momentum bonus demografi yang tidak akan terulang. Untuk itu, anak-anak NTT harus tumbuh menjadi generasi berkualitas dan kompetitif,” ujar Pj. Gubernur Andriko Susanto.

Melalui inisiatif bertajuk Gerakan Kemanusiaan Percepatan Penanganan Stunting Terintegrasi (GKP2ST) dengan tagline Anting Berlian (Tangani Stunting Lindungi Anak), pemerintah memperkenalkan dua aplikasi baru. 

Pertama, kata dia, Anting Orta. Konsep itu mendorong peran aktif orang tua asuh dalam mengentaskan gizi buruk. Setiap Perangkat Daerah Provinsi NTT akan berperan sebagai orang tua asuh bagi anak-anak yang mengalami masalah gizi.  

Kedua, Anting Mutiara. Bagian itu menekankan pentingnya integrasi layanan kesehatan, termasuk imunisasi, serta pencegahan TBC dan malaria, untuk memastikan anak-anak mendapatkan imunisasi lengkap dan terbebas dari penyakit.

“Peluncuran TFC di Puskesmas Oesapa merupakan langkah nyata dalam menangani gizi buruk dengan menyediakan perawatan dan pemberian makanan intensif yang sesuai usia anak. TFC juga akan melibatkan orang tua dalam proses pemulihan agar mereka dapat mandiri dalam merawat anak di rumah,” ujarnya. 

Andriko Susanto mengapresiasi seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam percepatan penanganan stunting. Dia berharap, inisiatif ini menjadi contoh bagi daerah lain dan mendukung pencapaian target penurunan stunting di NTT serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Penjabat Wali Kota Kupang, Linus Lusi, menyampaikan apresiasi kepada Penjabat Gubernur NTT beserta jajarannya atas pemilihan Puskesmas Oesapa sebagai lokasi peluncuran TFC dan aplikasi Anting Orta dan Anting Mutiara. 

"Pilihan ini merupakan kehormatan dan kebanggaan bagi kami serta menjadi motivasi tambahan bagi masyarakat dan tenaga kesehatan di Kota Kupang untuk terus berupaya menanggulangi masalah gizi buruk dan stunting," kata mantan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT ini.  

Staf Ahli Bidang Ekonomi Pembangunan Setda Provinsi NTT ini menyatakan dukungan penuh terhadap GKP2ST. Linus Lusi menegaskan komitmennya untuk mencatatkan penurunan signifikan stunting selama enam bulan masa jabatannya. 

“Saat ini terdapat sekitar 4.000 anak di Kota Kupang yang mengalami stunting. Dengan kerja keras dan kolaborasi pemerintah daerah, lembaga kesehatan, masyarakat, serta berbagai pihak terkait, saya yakin kita bisa menurunkan angka tersebut hingga 2.000 anak, atau bahkan lebih rendah,” kata Linus Lusi.

Baca juga: Dosen UKAW Kupang Bekali Pembuatan Pupuk Organik Bagi Siswa di SMPN 3 Fatuleu Kabupaten Kupang NTT

Menurut mantan Kepala Badan Perbatasan ini, salah satu kunci keberhasilan dalam menurunkan stunting adalah dengan memperbaiki pola makan anak. 

Dikatakan, potensi pangan lokal seperti jagung hingga umbian dan ikan bisa dimanfaatkan untuk penambahan gizi. Pola makan yang baik dan seimbang akan sangat berpengaruh dalam pertumbuhan dan perkembangan anak-anak. 

"Oleh karena itu, mari kita bekerja sama, berkolaborasi, bersinergi, karena masa depan anak-anak kita ada di tangan kita semua," tambah dia. (fan) 

Ikuti Berita POS-KUPANG.COM lainnya di GOOGLE NEWS

Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved