Sabtu, 11 April 2026

Renungan Harian Katolik

Renungan Harian Katolik Senin 21 Oktober 2024, "Waspada Terhadap Ketamakan"

Dan ketika menamatkan pendidikan di STM jumlah uang yang disimpan sebanyak dua juta. Uang itu dipakai untuk perjalanan pulang kampung.

Editor: Eflin Rote
POS-KUPANG.COM/HO-DOK
Pastor John Lewar, SVD 

Suara Pagi
Bersama
Pastor John Lewar SVD
Biara Soverdi St. Yosef Freinademetz
STM Nenuk Atambua Timor
Senin, 21 Oktober 2024
Hari Biasa Pekan XXIX
Lectio: Efesus 2:1-10; Mazmur 100:2.3.4.5; Lukas 12:13-21

Waspada terhadap Ketamakan

Meditatio:

Ada seorang siswa STM Nenuk Atambua Timor, terbilang anak yang hemat uang saku. Dia berasal dari seberang pulau. Selama mengenyam pendidikan di STM, dia bisa menghemat uang jajan.

Dia tidak pernah pulang kampung lebih senang tinggal di asrama. Simpanan uang sakunya di pembina sebanyak Rp 500.000 tapi hampir tidak pernah digunakan bahkan kalau ada kiriman uang dari orangtuanya selalu disimpannya.

Dan ketika menamatkan pendidikan di STM jumlah uang yang disimpan sebanyak dua juta. Uang itu dipakai untuk perjalanan pulang kampung.

Hebat hemat sekali. Dia telah berlatih ugahari. Lawan kata ugahari adalah ketamakan. Bicara soal ketamakan, tak jarang
dijumpai bahwa hubungan kekeluargaan retak karena antar saudara saling berebut harta warisan orangtuanya. Yang satu merasa berhak memiliki sawah warisan orangtua yang lebih luas. Tetapi yang lain juga merasa lebih berhak.

Bahkan ada adik tega membunuh kakaknya. Si adik merasa diperlakukan secara tidak adil karena hewan di kandang yang dipercayakan orangtua kepadanya untuk menjaga dan memelihara, diambil begitu saja oleh sang kakak untuk urusan adat dan terakhir adat perkawinan anaknya.

Daripada hanya menjadi hamba dalam keluarga, lebih baik masuk penjara dan makan enak. Sang kakak dibunuh dan si
adik setelah kejadian itu menyerahkan diri di pihak keamanan setempat.

Ketamakan akan harta seringkali menjadi penyebab retak atau pecahnya sebuah keluarga besar. Betapa ironis ketika sebuah warisan yang ditinggalkan orangtua seharusnya disyukuri dan menjadi perekat keluarga, tetapi malah menjadi sumber pertikaian yang tidak jarang sampai berujung maut. Di sana ada ketamakan seseorang atas harta kekayaan.

Penginjil Lukas pada hari ini mengisahkan ajaran Tuhan Yesus tentang kekayaan. Tuhan Yesus menasihati, “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu.”

Tuhan Yesus memberikan cara pandang yang benar terhadap harta kekayaan. Harta kekayaan sebagai sarana untuk mengabdi Tuhan dan mencintai sesama/saudara. Orang harus bijak terhadap harta kekayaan.

Jangan sampai orang menjadi tamak dan diperbudak oleh harta kekayaan. Orang harus hati-hati terhadap sikap tamak, karena ketamakan adalah salah satu dosa pokok. Dosa pokok adalah dosa yang bisa menyebabkan dosa-dosa yang lain.

Ketamakan (bahasa Latin: avaritia) adalah keinginan tak terkendali atas materi atau harta duniawi. Dalam Kitab Suci tertulis bahwa orang yang tamak tidak pernah memiliki uang yang cukup dan tidak pernah penghasilannya terpuaskan (Pengkhotbah 5:9). Santo Paulus mengatakan bahwa cinta akan uang adalah akar segala kejahatan dan menyebabkan seseorang dapat menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya sendiri (1 Tim 6:10). Hal ini mau menegaskan betapa seriusnya dosa pokok ketamakan ini.

Kita seringkali tergiur akan harta dan mengira bahwa itu akan mampu membuat kita bahagia. Kita lupa bahwa pada hakekatnya apapun yang kita punya bukanlah milik kita sendiri. Tetapi Tuhanlah sesungguhnya

Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved