Breaking News
Rabu, 22 April 2026

Paspor Ganda Pemain Naturalisasi

Liputan Khusus - Ada Jaminan Uang hingga Pekerjaan Bagi Pemain Naturalisasi

Naturalisasi merupakan diksi yang akhir-akhir ini menjadi sorotan masyarakat saat membicarakan Timnas Indonesia.

Editor: Alfons Nedabang
foto-pssi.org
Maarten Paes secara resmi telah menjadi Warga Negara Indonesia atau WNI setelah melakukan pengambilan sumpah di Jakarta, Selasa (30/4/2024). 

Kepada Tribunnews, Ketua Umum PSSI periode 2011-2015, Djohar Arifin Husin menceritakan bagaimana proses naturalisasi pemain di era kepemimpinannya.

Djohar mengungkapkan secara umum fakta yang berlangsung di era kepemimpinannya, para pemain asing calon WNI itu terlebih dahulu harus membuat perjanjian berupa kontrak dengan PSSI sebelum melakukan naturalisasi.

Dalam menyusun kontrak tersebut, pemain asing yang bersangkutan dapat menawarkan permintaan-permintaan yang dalam hal ini lebih cenderung berupa jaminan masa depan mereka di Indonesia kelak.

"Kontraknya itu harus memikirkan masa depannya (pemain asing calon warga negara Indonesia). Jangan kontrak hura-hura," kata Djohar kepada Tribunnews di Jakarta, Rabu (25/9).

Biasanya kata Djohar, para calon pemain naturalisasi itu meminta jaminan berupa dana (uang) atau pekerjaan.

"Ya tentu mereka akan memikirkan masa depannya. Mereka main bola ini kan, punya masa depannya jelas pasti. Tentu adalah sesuatu yang, apakah dana, apakah pekerjaan, segala macam," ungkapnya.

Baca juga: Hasil Kualifikasi Piala Asia U20, Timnas Indonesia U20 vs Yaman Skor Sementara 1-1

Permintaan-permintaan menurut Djohar tidak menjadi masalah bagi PSSI saat itu, asalkan pemain asing bersangkutan dinilai memiliki kualitas bermain sepak bola yang benar-benar bagus.

Sementara, soal pemain asing yang bersangkutan tersebut memiliki darah keturunan Indonesia atau tidak, itu bukan pertimbangan utama PSSI.

Apakah cara itu masih berlangsung saat ini, di PSSI periode kepemimpinan Erick Thohir, Djohar mengaku tak mengetahuinya. Hanya saja menurut mantan Ketua Umum PSSI itu, di dunia sepak bola praktik naturalisasi merupakan hal yang biasa. Sebab, cara itu juga dilakukan oleh beberapa negara besar sebelumnya.

Di Asia, praktik naturalisasi sudah banyak dilakukan. Misalnya, di Filipina. Selain itu di Eropa ada Prancis dan Inggris yang juga telah menjalankan praktik ini.

Bahkan, katanya, untuk Prancis, pemain-pemain sepak bola yang berusia anak-anak di Afrika sudah dipantau sejak kecil agar suatu saat dapat dinaturalisasi. 

"Lihatlah yang kulit hitam berapa banyak main di tim nasional di Eropa? Itu kan naturalisasi. Jadi enggak ada masalah," tuturnya.

Untuk di Indonesia sendiri, Djohar, menyebut praktik naturalisasi telah berlangsung sebelum PSSI era kepemimpinannya. Ada harapan, bahwa melalui naturalisasi pemain, prestasi Indonesia di cabang olahraga sepak bola akan menjadi lebih baik.

Meski demikian, ia juga menekankan agar pemain sepak bola di dalam negeri juga harus mendapatkan perhatian. Pemantauan pemain potensial harus dipantau sejak usia kanak-kanak. Misalnya, dari usia 12 tahun, 14 tahun, dan 18 tahun. 

Menurut Djohar, hal ini perlu dilakukan di Indonesia agar regenerasi pesepakbola terus bergulir. Apalagi, katanya, seorang pemain top yang dinaturalisasi hanya dapat bermain kira-kira paling lama selama tiga tahun. 

Sumber: Tribunnews
Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved