Berita Sabu Raijua
Desa Menia Sabu Raijua Dapat Bantuan Rp 8,5 Miliar Perbaik Mesin Air PAM
Sepanjang tahun itu juga masyarakat Sabu Raijua mengandalkan air sumur dan beli air tangki untuk memenuhi kebutuhan mereka.
Penulis: Agustina Yulian Tasino Dhema | Editor: Oby Lewanmeru
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Asti Dhema
POS-KUPANG.COM, SEBA - Desa Menia, Kecamatan Sabu Barat, Kabupaten Sabu Raijua merupakan satu-satunya desa di Sabu Barat yang memilki sumber mata air yang besar namun karena beberapa tahun ini curah hujan berkurang sehingga terjadi penurunan debit air.
Mata air Ei Mada Bubu menjadi mata air abadi bagi warga desa ibukota kabupaten Sabu Raijua ini. Ei Mada Bubu selama ini menjadi sumber air bagi pertanian, mandi, cuci dan kebutuhan konsumsi lainnya.
Penjabat Kepala Desa Menia, Yohanis Logo Buke mengatakan, potensi air Ei Mada Bubu cukup untuk memenuhi kebutuhan air masyarakat desa Menia dan bisa menjangkau desa-desa tetangga yang ada di sekitar desa Menia bahkan bisa menjangkau wilayah Seba di Kelurahan Mebba.
Bahkan air PAM yang pernah beroperasi di Sabu Raijua bersumber dari Ei Mada Bubu. Air PAM ini ada sejak Sabu belum menjadi kabupaten sendiri. Karena sudah terlalu lama sehingga mesin air rusak dan belum diperbaiki seperti yang diungkapkan Yohanis pada Jumat, 27 September 2024. Artinya, selama sekitar 14 tahun itu air PAM hilang dari Sabu Raijua.
"Air PAM sempat beroperasi mungkin karena usia mesin asah tua sehingga alami kerusakan. Seingat saya, air PAM tidak beroperasi lagi sekitar tahun 2010 hingga saat ini," ujarnya.
Sepanjang tahun itu juga masyarakat Sabu Raijua mengandalkan air sumur dan beli air tangki untuk memenuhi kebutuhan mereka.
"Di area tambak garam itu ada beberapa keluarga pengeluhan sumur galiannya sudah merasa asin,"lanjutnya.
Selama ini, untuk memenuhi kebutuhan air bersih, pemerintah Sabu Raijua melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) memberikan bantuan air bersih bagi masyarakat yang membutuhkan. Untuk tahun ini, Desa Menia mendapatkan bantuan 31 air tangki.
Tentu pemerintah melihat kemampuan dana mereka. Dengan kesempatan ini juga kami sebenarnya merasa kurang tetapi kami serahkan kepada pemerintah karena di desa-desa lain juga daerah-daerah pesisir Menia dulu airnya masih tawar tetapi sekarang asin kemungkinan disebabkan debit air tawar sudah berkurang sehingga yang terasa hanya air laut,"jelasnya lagi.
Penjabat Kepala Desa Menia ini mengungkapkan, tahun ini Pemerintah Kabupaten Sabu Raijua berkoordinasi dengan Kementerian Desa untuk perbaikan mesin air PAM yang rusak dengan dana senilai Rp 8,5 miliar. Setelah perbaikan selesai dikerjakan kemudian diserahkan kepada BUMDes untuk pengelolaan air.
Selama ini belum ada pemberlakuan tarif air PAM atau dilayani gratis dan saat ini juga Kementerian juga belum dilakukan tarif. Nanti akan digratiskan dulu biar masyarakat terbiasa setelah itu baru BUMDes bersama masyarakat menentukan tarif bersama dengan dinas-dinas terkait.
"Kami dan saya sebagai Kepala Desa sudah menandatangani kesepakatan itu. Dana sudah ada dan sementara proses surat-surat dan akan mulai pengerjaan pompa air itu," tandasnya.
Baca juga: BUMDes Desa Menia Sabu Raijua Tekankan Sektor Pariwisata dan Ekonomi Keluarga
Sebenarnya di desa Menia juga ada 3 sumur bor bantuan Pemerintah Pusat namun sumur bor itu hanya dipakai sekitar dua sampai tiga tahun saja, bukan karena sumur kering tetapi karena mesin dinamo yang rusak. Pemerintah Desa tidak memiliki wewenang untuk melakukan perbaikan mesin sementara masyarakat Desa Menia sangat membutuhkan air.
"Apabila ada mesin sudah beroperasi kami tentu akan menjaga'itu tetapi uluran tangan Pemda maupun pusat ada secara terus menerus sehingga kejadian sebelumnya itu mesin ada, tetapi kurang perawatan," ungkapnya lagi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Kades-Menia-Sabu-Barat.jpg)