Opini
Opini: Calon bukan Balon
Di sudut-sudut kota, foto dan baliho nyaris memiliki pola yang sama. Semua foto ditampilkan dengan tangan mengepal.
Oleh : Lasarus Jehamat
Dosen Sosiologi Fisip Undana Kupang
POS-KUPANG.COM - Hari-hari ini, riuh politik lokal nyaris melampaui gemuruh politik nasional. Sebab utamanya ialah karena perilaku aneh mereka yang ingin berkuasa.
Saat ini, mereka datang menemuai rakyat dengan berbagai cara dan model. Mereka yang tadinya berjarak, sekarang merapat. Yang tadi menjauh, sekarang mendekat. Menarik memang.
Di sudut-sudut kota, foto dan baliho nyaris memiliki pola yang sama. Semua foto ditampilkan dengan tangan mengepal. Antara menunjukkan sikap optimistis dengan perilaku menyerang beda-beda tipis. Intinya, semua seperti mau berkelahi. Kepalan tangan para pencari kekuasan kian hari kian membesar.
Mereka lupa bahwa dalam kaca mata semiotika, kepalan tangan seperti itu bisa saja dibaca sebagai kegemaran orang untuk berkonflik dengan yang lain.
Atau, dalam spektrum yang lain, kepalan tangan yang membesar tersebut seakan memberitahukan bahwa kekuasaannya nanti akan membesar dan jelas terpusat pada satu tangan. Kekuasaan pada satu tangan inilah yang justru dibenci dan tolak rakyat. Sudahlah.
Mari Kembali ke fokus tulisan ini. Calon bukan balon merupakan ungkapan kegundahan isi hati penulis terkait perilaku politik, terutama elite politik lokal akhir-akhir ini. Yang dimaksud ialah ragam janji Surga yang disampaikan ke publik.
Seperti dijelaskan di awal tulisan ini, para elite itu seakan sangat dekat dengan masyarakat sekarang. Di beberapa tempat, mereka mempertontonkan kekuasaan massa. Mereka lupa bahwa itu hanya massa.
Massa belum tentu pemilih. Massa bersifat irrasional dan pemilih, biasanya (bisa saja tidak), bersifat rasional.
Itulah alasan, mengapa saat deklarasi, banyak manusia hadir dan bergembira. Sesungguhnya, yang hadir di sana bukan karena kesadaran bahwa politik ini penting.
Silakan diperiksa. Dalam batas tertentu, massa hadir karena banyak alasan. Entah mencari suasana baru di tengah kesumpekan sosial dan ekonomi, entah karena alasan satu suku, alasan pertemanan, karena dijanjikan nasi bungkus, entah disebut satu agama, dan lain-lain.
Yang pasti, hanya sedikit saja yang benar-benar ingin mendengar isi deklarasi. Hanya segelintir saja yang menanti diskusi hal-hal penting yang akan dibuat para calon jika nanti terpilih.
Program tidak akan dibahas di acara dengan massa seluas lapangan itu. Yang terjadi hanya unjuk kekuatan yang tidak memiliki kekuatan politik apa-apa.
Politik kita memang demikian. Politik belum disebut politik kalau tidak ada pengumpulan massa. Padahal, diskusi mengeksplorasi ide bisa dilakukan tidak dengan massa banyak tetapi dengan beberapa elemen organik terkait di banyak tempat dan ragam kegiatan.
Politik Perlawanan
Opini: Prada Lucky dan Tentang Degenerasi Moral Kolektif |
![]() |
---|
Opini: Drama BBM Sabu Raijua, Antrean Panjang Solusi Pendek |
![]() |
---|
Opini: Kala Hoaks Menodai Taman Eden, Antara Bahasa dan Pikiran |
![]() |
---|
Opini: Korupsi K3, Nyawa Pekerja Jadi Taruhan |
![]() |
---|
Opini: FAFO Parenting, Apakah Anak Dibiarkan Merasakan Akibatnya Sendiri? |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.