Selasa, 2 Juni 2026

Berita NTT

Mengenal Glaukoma: Si Pencuri Penglihatan

Glaukoma sudut terbuka umumnya dapat terjadi kronis dan seringkali tanpa gejala, biasanya tekanan bola mata tidak terlalu ekstrim tinggi.

Tayang:
Editor: Oby Lewanmeru
POS-KUPANG.COM/HO
Ilustrasi Penyakit Glaukoma serang penglihatan 

Oleh: dr. Maria Claudya Bay

Alamat : Warsawe, Desa Cunca Wulang, Manggarai Barat NTT

POS-KUPANG.COM, KUPANG - Kebutaan masih merupakan masalah kesehatan di Indonesia. Salah satu penyebabnya adalah Glaukoma. Glaukoma adalah penyakit mata yang menyerang saraf penglihatan sehingga dapat menyebabkan kebutaan secara permanen.

Glaukoma sering disebut sebagai “si pencuri penglihatan” karena umumnya Glaukoma tidak memiliki gejala, selain itu penyakit glaucoma merupakan salah satu penyakit yang kurang familiar diantara masyarakat seperti katarak sehingga banyak kasus yang terlambat ditangani.

Glaukoma menimbulkan masalah kesehatan masyarakat yang signifikan karena merupakan penyebab kebutaan kedua setelah katarak, dan kebutaan ini biasanya tidak dapat disembuhkan. Data WHO memperkirakan 57,5 juta orang di seluruh dunia terkena glaukoma.  

Data Riskesdas tahun 2007 di Indonesia, 4 sampai 5 orang dari 1.000 orang menderita glaukoma.
    
Menurut American Optometric Association (AOA) penyebab pasti glaucoma tidak diketahui dan gejalanya juga bervariasi tergantung jenisnya.

Glaukoma dapat mengenai siapa saja, namun terdapat individu dengan risiko lebih tinggi, diantaranya usia lebih dari 40 tahun, memiliki keluarga yang menderita glaukoma, menggunakan kacamata minus atau plus tinggi, penderita kencing manis, tekanan darah tinggi, cedera pada mata, ataupun penggunaan obat anti-radang yang mengandung steroid secara jangka panjang baik berupa tetes, hirup, ataupun obat minum. 

Ditinjau dari segi anatomisnya glaucoma dibagi atas 2 yakni glaukoma sudut terbuka dan sudut tertutup sedangkan dari segi onset penyakit dibagi atas kasus akut dan kronis.

Glaukoma sudut terbuka umumnya dapat terjadi kronis dan seringkali tanpa gejala, biasanya tekanan bola mata tidak terlalu ekstrim tinggi.

Kronis terjadi secara perlahan tanpa rasa sakit dan tanpa gejala mata merah. Saat penyakit sudah berada di tahap lanjut, barulah penderita mulai merasakan gangguan penglihatan.

Awalnya, penglihatan tepi atau perifer mulai buram, kemudian lama kelamaan hilang, seperti sedang melihat di dalam lorong, di mana tidak terlihat apapun di sisi kiri maupun kanan.

Hingga pada akhirnya penglihatan bagian sentral pun akan hilang juga.  Sedangkan yang akut terjadi secara mendadak, terdapat keluhan berupa mata merah disertai nyeri dan buram penglihatan.

Baca juga: Kenali Penyakit Silent Killer Glaukoma

Selain itu terdapat keluhan seperti lapang pandang menyempit, melihat seperti ada pelangi di sekitar cahaya, dan apabila terjadi serangan akut, yaitu peningkatan tekanan bola mata yang terjadi tiba-tiba, dapat menimbulkan keluhan pusing, sakit kepala, mual, dan muntah yang terkadang dapat terdiagnosis sebagai penyakit lain seperti maag. Kalau yang sudut tertutup tekanan bola mata akan sangat tinggi sehingga menyebabkan rasa sakit atau tidak nyaman.

Beberapa pemeriksaan yang perlu dilakukan untuk mendiagnosa penyakit glaucoma, antara lain pemeriksaan tekanan bola mata, pemeriksaan struktur dan saraf mata, serta pemeriksaan lapang pandang. Beberapa pemeriksaan ini menggunakan alat khusus yang menilai secara obyektif.

Tujuan penanganan glaukoma adalah mencegah perburukan penyakit dengan cara mengontrol tekanan bola mata agar tetap normal/aman, sehingga dapat mencegah kerusakan pada saraf mata lebih lanjut.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved