Minggu, 12 April 2026

Renungan Harian Katolik

Renungan Harian Katolik Senin 26 Agustus 2024, Manis di Bibir lain di Hati

Gunakan hidup Anda untuk bisa menjadi berkat baik melalui tutur kata maupun perbuatan. Manis di bibir lain di hati

|
Editor: Rosalina Woso
POS-KUPANG.COM/HO-DOK
Pater John Lewar, SVD menyampaikan Renungan Harian Katolik Senin 26 Agustus 2024, Manis di Bibir lain di Hati 

Oleh: Pastor John Lewar, SVD

POS-KUPANG.COM - Renungan Harian Katolik Senin 26 Agustus 2024, Manis di Bibir lain di Hati

Biara Soverdi St. Yosef Freinademetz STM Nenuk Atambua Timor

Hari Biasa Pekan XXI

Lectio:
2Tesalonika 1:1-5.11b-12; Mazmur 96:1-2a.2b-3.4-5;
Injil: Matius 23:13-22.

Meditatio:
Ungkapan “manis di bibir lain di hati” tentunya kita sudah sering mendengarnya. Apa yang dikatakan belum tentu sama dengan apa yang ada dalam hati.

Baca juga: Renungan Harian Katolik Sabtu 24 Agustus 2024, "Sikap Hati yang Murni Tanpa Kepalsuan"

Ucapannya bisa begitu manis terdengar, tetapi isi hatinya penuh dengan kebencian atau kemarahan. Setiap kita membutuhkan kejujuran. Apa yang dikatakan selaras dengan apa yang ada di hati. Apa yang ada di dalam hati itulah yang dinyatakan. Mereka yang konsisten, tidak hidup dalam kepura-puraan adalah pribadi yang berintegritas.

Saya punya seorang sahabat bernama Brayen. Dia sedang bergumul dengan salah satu anak bimbingannya. Dalam penuturannya ketika bercakap-cakap dengan saya, dia menceritakan bahwa anak bimbingannya ini bisa dikatakan bermuka dua. Ketika berhadapan dengannya dia seakan patuh dan menurut. Tetapi saat dia sudah pergi, anak itu tidak mau melakukan apa yang dia katakan.

Tentu saja Brayen dibuat pusing karena tidak tahu apa maunya anak ini, karena di satu sisi kelihatannya dia menurut, namun disisi lain dia membantah komitmennya. Mendengar ceritanya, saya hanya bisa berkata sabar saja,
ini ujian buat kamu agar lebih tabah karena orang dengan tipe unik namun menyebalkan seperti ini akan membuat kita belajar memiliki karakter kesabaran.

Tuhan Yesus dalam bacaan injil pada hari ini, mengecam para ahli taurat dan orang farisi. Ia mengkritik perilaku, cara hidup mereka yang tidak sesuai dengan apa yang mereka katakan. Orang Farisi dan ahli-ahli Taurat mengajarkan Kitab Suci dan mengajak orang untuk percaya kepada Allah, tetapi perilaku mereka sendiri tidak sesuai dengan apa yang mereka ajarkan.

Mereka bersikap munafik dan meletakkan beban pada orang-orang yang mendengarkan pengajaran mereka. Mereka hanya pandai berbicara, tetapi tidak mampu memberikan contoh yang baik. Bahkan, mereka sering mencari keuntungan diri dengan kedok pengajaran isi Kitab Taurat.

Akibatnya, mereka menjadi batu sandungan bagi pertumbuhan iman dan kekudusan orang-orang pada masa itu. Akar dari semua masalah itu adalah kemunafikan. Yesus menemukan kesenjangan antara penampilan dan kenyataan, antara apa yang mereka katakan dan apa yang mereka lakukan.

Perilaku seperti ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi ini masih sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari, bahkan mungkin kita sendiri pernah atau malah sering melakukannya.

Seruan-seruan kritis Yesus itu dapat kita jadikan checklist pemeriksaan batin untuk melihat kehidupan iman kita. Apakah tutur kata dan tingkah laku kita di hadapan sesama sejalan dengan iman yang kita yakini? Apakah kita sungguh-sungguh menghidupi iman kita dalam kata dan perbuatan?

Sayangnya, dewasa ini banyak orang menghayati kehidupan keagamaan yang dikomersialkan, tanpa antusiasme dan kemurahan hati, tanpa sukacita dan keterbukaan. Ini adalah kultus kosong yang memuliakan Allah dengan bibir, sementara hati mereka sebenarnya sangat jauh dari-Nya.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved