Breaking News
Rabu, 6 Mei 2026

Berita Sabu Raijua

Rumput Laut Topang Kehidupan Masyarakat di Pelosok Negeri Do Hawu

Wanita berkulit sawo matang dan berambut lurus itu, sudah puluhan tahun menjadi petani ladang

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Agustina Yulian Tasino Dhema | Editor: Edi Hayong
POS-KUPANG.COM/ASTI DHEMA
Yohana (40) mengangkat rumput laut  yang dipanennya di Pantai Lobohede Desa Lobohede, Kecamatan Hawu Mehara, Kabupaten Sabu Raijua, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Senin, 19 Agustus 2024. 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Asti Dhema

POS-KUPANG.COM, SEBA - Di ufuk barat, matahari  merona jingga keemasan seperti wajah Yohana (40) tampak ceria memamerkan senyumnya sambil melepas ikatan-ikatan rumput laut yang dipanennya di pantai Lobohede Desa Lobohede, Kecamatan Hawu Mehara, Kabupaten Sabu Raijua, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Senin, 19 Agustus 2024.

Di rumah daun khas Sabu Raijua  ditemani sang suami Markus (40), jari jemari Yohana dengan cekatan, memisahkan rumput laut merah dan hijau yang hampir selesai. Rumput laut segar ini memenuhi setengah lantai rumah daun yang terletak di belakang rumah Yohana.

Wanita berkulit sawo matang dan berambut lurus itu, sudah puluhan tahun menjadi petani ladang. Sejak melihat potensi rumput laut yang menjanjikan, Yohana beralih menjadi petani rumput laut.

Yohana budidaya rumput laut dengan metode lepas dasar. Metode lepas dasar merupakan metode penanaman rumput laut dengan cara pemasangan patok-patok (tiang kayu) pada dasar perairan.

Baginya, budidaya rumput laut lebih menjanjikan dibandingkan menjadi petani kebun di desanya ini. Rumput laut menjadi lahan basah untuk menopang kehidupannya sehari-hari dengan modal awal sebesar Rp 1 juta. Kemudian dari hasil rumput laut ini, Yohana menambah bibit rumput laut dan jumlah tali pengikat.

Setiap hari Yohana merawat rumput laut seperti merawat anaknya sendiri. Kendati demikian, bukan hal mudah baginya untuk menghasilkan rumput laut yang baik untuk dijual.

Setiap hari saat air laut surut atau lebih dikenal dengan istilah meting dalam bahasa orang Sabu, ia dan suaminya mengarungi lautan untuk merawat rumput laut dengan membersihkan tali, dan membersihkan lumut yang menempel pada rumput laut.

Cuaca yang kurang mendukung tentu sangat berpengaruh pada hasil rumput laut. Cuaca ekstrem dan gelombang tinggi di laut Sawu bukan hanya berkat tetapi juga petaka baginya.

Baca juga: Dukung Pengembangan Rumput Laut di Sabu Raijua, Kementerian Kelautan Sediakan Bibit

Dulu, Yohana memiliki demplot pembibitan rumput laut sendiri namun pada 2021, Badai Seroja memporak-porandakan lahan miliknya. Demplot yang dibangunnya hancur tak berbekas. Kondisi ini membuatnya saat ini kesulitan mencari bibit rumput laut dan harus membeli bibit dari luar Sabu.

"Di sini dulu pembibitannya itu setiap tahun ada. Di sini kami biasa pengadaan bibit. tapi setelah Seroja sudah tidak bisa, hancur semua bibitnya. Makanya kami tidak punya bibit lagi di sini. Kita cari dari luar,"ujar ibu dua anak ini.

Saat ini Yohana membeli bibit dari Pulau Raijua, Kabupaten Rote Ndao, NTT bahkan Makassar, Sulawesi Selatan, dengan kisaran harga Rp 8.000 sampai dengan Rp 10.000 per kilogramnya.

Dalam sekali pembibitan, Yohana membeli rumput laut satu karung besar dengan harga Rp 200.000 ditambah biaya pengiriman Rp 20.000 per karungnya. Total sekali pembibitan, Yohana mengeluarkan uang Rp 220.000 per karungnya.

Saat kondisi normal, untuk sekali panen dalam sebulan, Yohana bisa menghasilkan 6-7 kilogram rumput laut kering yang biasa dijualnya dengan harga Rp 10.000 sampai dengan Rp 12.000 per kilogram.

Harga ini menurutnya turun drastis setelah Badai Seroja karena sebelumnya ia bisa menjual rumput laut kering dengan harga Rp 30.000 per kilogram ke pengepul.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved