Opini
Opini: Keberanian Mengkritik
Cara paling elegan menghadapi kritik adalah meningkatkan kecerdasan, yang hanya dapat diraih lewat belajar.
Kedua, tingkat peradaban bangsa AS sudah maju (tergolong dalam negara-negara G7). Sudah umum pula diketahui bahwa AS, dengan julukan negeri Paman Sam, adalah salah satu negara maju (tergolong dalam negara-negara G7), bahkan disebut negara adidaya. Tak kalah menariknya juga adalah AS menjadi negeri impian banyak orang.
Sedangkan Indonesia masih ‘merasa nyaman’ dengan predikat ‘negara berkembang’. Meskipun sejumlah pemimpin (pejabat) seringkali mendengungkan Indonesia Emas 2045 sebagai cita-cita mulia, namun ucapan itu cuma sekadar ‘pembangkit’ emosi massa yang sedang terpana dalam keasyikan menikmati kata-kata ‘indah’ sang pemimpin yang penuh gelora.
Penanda lain yang mengafirmasi kondisi tersebut adalah setiap kali pergantian Menteri Pendidikan, bersamaan dengan itu pula kurikulum pendidikan pun diganti. Seolah-olah kurikulum pendidikan sebelumnya kurang bermutu, harus diganti. Seakan-akan pula kurikulum baru dipandang lebih berkualitas, yang diyakini dapat meningkatkan mutu pendidikan, menuntaskan kompleksitas permasalahan pendidikan yang karut-marut.
Yang tak kalah menghebohkan juga adalah banyaknya pekerja Indonesia yang pergi ke luar negeri hanya untuk menjadi pembantu rumah tangga atau menjadi buruh kasar semakin mempertegas kenyamanan atribut, Indonesia sebagai negara berkembang. Lalu sebutan eufemistis, yang bernada sanjungan, dilekatkan pada mereka sebagai ‘pahlawan’ devisa, yang membuat para pekerja ‘terhipnotis’.
Walaupun nanti di antara mereka ada yang mengalami penyiksaan oleh majikan yang bahkan berujung pada kematian, namun tidak membatalkan niat mereka untuk berbondong-bondong pergi mencari kerja di luar negeri dengan bekal pengetahuan seadanya. Anehnya, peristiwa itu tidak mengganggu nurani pejabat.
Lagipula, bila melihat kondisi faktual saat ini, pendidikan tidak mendapat prioritas utama dan urgen. Dengan kata lain, bukan pendidikan yang menjadi panglima, tetapi politiklah yang menjadi panglima. Akibatnya adalah sumber daya manusia para pekerja kita hanya mampu menjual tenaga, para pejabat pun hanya mempertontonkan debat kusir yang dibalut sentimen, bukan argumen. .
Alam Demokrasi
Dalam negara demokrasi modern, prinsip kebebasan dan kesetaraan adalah dua point yang mendapat aksentuasi dalam kehidupan bernegara. Prinsip ini menjadi dasar bagi Pemimpin di Negeri Paman Sam, yang secara konsisten menerapkan sistem demokrasi yang memberi ruang bagi rakyatnya untuk mengoreksi, mengkritik dan malah menggugat kebijakan Presidennya sendiri. Bahkan gugatan yang lebih radikal lagi adalah para pengkritik mempengaruhi pemimpin negara lain untuk tidak menerima rencana program pemimpinnya.
Lebih dari itu, pemimpinnya tidak bersikap ‘alergi’ terhadap para pengkritik itu, tetapi ia mengajak mereka untuk berdialog. Dialog memungkinkan kedua belah pihak saling bertukar pikiran, beradu argumen. Dialog membongkar sekat-sekat prasangka.
Sekaligus, yang jauh lebih bermakna adalah mereka menunjukkan sikap penghargaan. Dasarnya adalah keberagaman. Dari asalnya, manusia hidup dalam keberagaman. Sebab manusia diciptakan berbeda satu dengan yang lain.
Dengan demikian berbeda pula pikirannya. Maka, dalam formula yang sederhana, dialog adalah jalan untuk mempertemukan mereka yang saling berbeda pandangan, menemukan solusi, serentak dengan itu pula menjadikan penghargaan terhadap perbedaan sebagai nilai yang patut dilestarikan.
Andaikata peristiwa itu terjadi di Indonesia, maka dapat dipastikan bahwa kelompok tersebut akan dituduh melawan Pemerintah yang sah, subversif, menghambat pembangunan, melakukan makar. Seolah-olah para pengkritik itu bukan warga negara yang sah, yang juga memiliki hak untuk melakukan kritik. Lalu atas dasar alasan tersebut para pengkritik dapat saja ditangkap dan dijebloskan ke dalam penjara. Nasib naas itu pernah dialami oleh para pengkritik yang tergabung dalam Petisi 50, misalnya.
Bangkitnya Kesadaran Kritis
Dengan frasa kebangkitan kesadaran kritis, saya tidak bermaksud mengatakan, pada masa sebelumnya para akademisi tidak kritis, karena mereka terbuai oleh kenikmatan rasa ‘nyaman’ di ruang kuliah, mereka terlena dalam ’tidur lelap’ di menara gading keilmuwanannya, atau mereka tersanjung oleh deretan gelar yang berjejer apik di depan dan di belakang namanya. Atau pun bersikap apatis. Mungkin saja pembaca dapat beranggapan demikian, tapi sekali lagi saya tidak bermaksud demikian.
Justru seluruh rasa nyaman di atas ditinggalkan oleh para akademisi untuk ‘turun gunung’ dan menyuarakan suara dari orang-orang yang tak mampu bersuara. Kegelisahan mereka tidak lagi tersembunyi dalam diskursus di ruang-ruang kuliah. Mereka mendemonstrasikan kegelisahan dan kerisauannya secara terbuka dan lantang di depan publik.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/arnoldus-nggorong_001.jpg)