Renungan Harian Kristen
Renungan Harian Kristen Rabu 14 Agustus 2024, "Kristus Dasar Penciptaan Alam Semesta"
Pandangan teosentris memandang Allah sebagai pusat dari alam semesta. Nilai dan ciptaan lainnya hanya memiliki nilai dalam lingkung ciptaan Allah.
Di dalam PL memakai tiga kata untuk menunjuk nabi, yaitu nabhi, ro’eh, dan chozeh. Artinya dari kata nahbi tidaklah diketahui dengan pasti, tetapi terbukti dari ayat-ayat seperti (Kel. 7:1; Ul. 18:18) bahwa kata itu menunjuk arti seorang yang datang dengan sebuah berita dari Allah kepada umat-Nya.
Kedua, Yesus Kristus, Tuhan, atas seluruh kosmos, termasuk kuasa-kuasa supranatural yang dianggap menguasai kehidupan dan nasib manusia. Segala sesuatu di dalam dunia ini memperoleh eksistensinya melalui karya Allah, kreatif Allah di dalam Kristus. Dalam Kejadian 1 kita membaca bahwa Allah menciptakan segala sesuatu dengan firman (maka berfirmanlah Allah jadilah…….). Firman Allah itu menjadi manusia di dalam Yesus Kristus (Yoh. 1:1-3).
Baca juga: Renungan Harian Kristen Selasa 13 Agustus 2024, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab
Di mana segala sesuatu yang ada di bumi dan ada di surga, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, semuanya tanpa terkecuali diciptakan di dalam Dia, melalui Dia, dan di dalam Dia. Di sini terlihat dengan jelas fungsi atau peran agensi Kristus di dalam seluruh proses penciptaan dan pemeliharaan (keberlangsungan), sekaligus Ia menjadi tujuan (akhir) semua ciptaan.
Yesus Kristus dalam ayat 2 “Oleh Dia Allah telah menjadikan alam semesta.” Tertuang dalam Kitab Yohanes 1:3 “Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada seorang pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan”. Sedangkan seorang nabi (Musa) hanya seorang manusia ciptaan, yang hidupnya bergantung penuh kepada sang pencipta.
Yesus Kristus juga digambarkan sebagai ahli bangunan dan Musa digambarkan sebagai bangunannya (Ibr 3:3). Ini jelas penggambaran bahwa Yesus Kristus pencipta dan nabi adalah ciptaan dari pencipta.
Ketiga, Yesus Kristus adalah cahaya kemuliaan Allah. Yesus Kristus juga disebut sebagai cahaya wujud Allah dan gambar Allah (Ibr 1:3).
Dia merupakan cerminan kemuliaan yang bersifat kekal sedangkan nabi memancarkan cahaya kemuliaan yang bersifat sementara. Yesus Kristus memberikan terang bagi dunia ini sehingga umat-Nya tidak hidup di dalam kegelapan. Semua kehidupan ada di dalam genggaman tangan-Nya. Dialah yang mengatur segalanya, dan Ia berkuasa atas mereka.
Bahkan Dialah yang dapat menyelamatkan manusia yang berdosa. Dia adalah Allah yang penuh kasih dan keadilan berinisiatif sendiri untuk menyelamatkan manusia dengan kematian di kayu salib untuk pendamaian dan penyucian dosa manusia.
Pengakuan orang Kristen bahwa Yesus Kristus adalah dasar penciptaan merupakan pengakuan bahwa Yesus Kristus adalah Raja alam semesta (Minggu Kristus Raja).
Pengakuan tersebut seharusnya membuat manusia tidak merasa superior, yakni “tuhan” bagi ciptaan yang lainnya. Ketika manusia merasa bahwa ia berkuasa di atas alam, maka dengan sesuka hati dan nafsunya untuk merusak alam. Mahatma Gandi mengatakan bahwa isi alam bisa mencukupi kebutuhan manusia tetapi alam tidak cukup memenuhi kerakusan manusia. Pengakuan tentang Kristus adalah Raja, maka menekankan aspek kehambaan manusia di bumi ciptaan-Nya. Sikap hamba adalah melayani bukan menjadi tuan. Ia mengerjakan apa yang diperintahkan oleh tuannya.
Sang Raja, Kristus, dalam penciptaan telah meletakan dasar ciptaan. Kejadian 1:31 menyatakan bahwa setelah Allah selesai penciptaan, Ia melihat “sungguh amat baik”. Setelah itu Ia menciptakan manusia untuk mengusahakan dan merawat (Kej. 2:15).
Kita adalah hamba yang bekerja di dalam rumah (Bumi ini) Tuan kita, yaitu Allah, sesuaikan dengan aturan yang berlaku dalam rumah tersebut. Apa aturannya dalam penciptaan? Kejadian 1 memberi tahu kepada kita bahwa Allah menciptakan dalam keteraturan, ketertiban. Bumi yang kacau balau ditata dan diatur dengan sangat baik.
Tidak ada hamba yang bekerja semaunya, merubah dan merusak aturan dalam rumah tuannya. Kerusakan alam karena manusia merasa berkuasa atas alam semesta. Ia dengan sesuka hatinya mengelola alam.
Pertanyaan adalah: bagaimana selama ini sikap kita terhadap alam, seperti seorang hamba atau tuan? Apakah kita membangun terus di atas dasar ciptaan? Jika kita merusak alam sama dengan kita merusak dasar yang telah diletakan dalam penciptaan.
Jika kita menebang pohon sembarangan, membakar hutan, cara bertani yang tidak ramah terhadap tanah (menggunakan pestisida) membuang sampah di laut, dst., maka kita bersikap seperti Tuhan. Manusia memberhalakan dirinya, itu adalah dosa yang sangat menjijikkan. Bertobatlah!.
Renungan Harian Kristen Kamis 28 Agustus 2025, Pendoa Bagi Indonesia |
![]() |
---|
Renungan Harian Kristen Rabu 27 Agustus 2025, Doakan Pertobatan Bangsa |
![]() |
---|
Renungan Harian Kristen Selasa 26 Agustus 2025, Garam dan Terang Bagi Bangsa |
![]() |
---|
Renungan Harian Kristen Senin 25 Agustus 2025, Negeri Yang Diberkati Allah |
![]() |
---|
Renungan Harian Kristen Minggu 24 Agustus 2025, Harapan: Negeri Yang Makmur |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.