Breaking News
Jumat, 8 Mei 2026

Renungan Harian Katolik

Renungan Harian Katolik Rabu 14 Agustus 2024, "Tegurlah Dia di Bawah Empat Mata"

Ketika tindakan menegur itu terjadi maka  sebenarnya tindakan itu adalah sebuah tindakan untuk menyelamatkan orang tersebut pada kesalahan yang lebih

Tayang:
Editor: Eflin Rote
POS-KUPANG.COM/HO
Bruder Pio Hayon SVD menulis Renungan Harian Katolik 

Renungan Harian Br. Pio Hayon, SVD. 
Hari Rabu Biasa Pekan XIX
Rabu, 13 Agustus 2024.
PW Sto. Maksimilianus Maria Kolbe

Bacaan I:  Yeh. 9: 1-7;10:18-22
Injil : Mat. 18: 15-20

 “…tegurlah dia di bawah empat mata”

Saudari/a yang terkasih dalam Kristus

Salam damai  sejahtera untuk kita semua. Saling  tegur menegur kepada orang yang bersalah adalah bagian dari usaha untuk mengubah prilaku yang salah untuk menjadi lebih baik lagi.

Ketika tindakan menegur itu terjadi maka  sebenarnya tindakan itu adalah sebuah tindakan untuk menyelamatkan orang tersebut pada kesalahan yang lebih besar lagi sehingga dia terselamatkan dari kecenderungan itu. Maka tindakan menegur itu sebenarnya sebuah tindakan kebajikan antar yang menegur dan yang ditegur. 

Saudari/a yang terkasih dalam Kristus

Hari ini, gereja sejagat memperingati Peringatan Santo Maksimilianus Maria Kolbe, seorang imam dan martir. Maximilian Kolbe lahir di Zdunska-Wola, dekat Lodz Polandia pada tanggal 7 Januari 1894. Setelah dewasa, ia masuk biara Fransiskan dan mengambil nama Maximilianus. 

Kaul kebiaraannya yang pertama diucapkannya pada tahun 1911. Sebagai seorang biarawan Fransiskan, Maximilian dikenal sebagai seorang yang saleh.

Pada tahun 1917, ia mendirikan Militia Maria Immaculata di Roma untuk memajukan kebaktian kepada Bunda Maria yang dikandung tanpa noda. Pada tahun 1918, Maximilian ditabhiskan menjadi imam dan kemudian kembali ke Polandia untuk berkarya disana.

Selain itu ia mendirikan biara di Niepokalanov pada tahun 1927 untuk memberi tempat pada 800 biarawan. Tuhan mencobai Maximilian yang saleh dan setia ini melibihi orang-orang lain. Pada tahun 1939 Gespato, Jerman yang keji itu memasuki wilayah Polandia.

Diktator Jerman itu yakin bahwa untuk mematahkan semangat orang Polandia perlulah menahan, memenjarakan dan membunuh para pemimpinnya, baik politik, maupun keagamaan dan para ahlinya. Maximilian Kolbe dikenal sebagai seorang penulis dan editor majalah.

Pernah ia dilepaskan, tetapi kemudian ditangkap lagi pada tahun 1941, dan dipenjarakan di Pawiak, lalu dipindahkan ke kamp konsentrasi Auscwitz. Di kamp konsentrasi ini, Maximilian dengan diam-diam menjalankan tugasnya sebagai imam bagi para tahanan yang ada disana. Dengan kondisi tubuh yang kurus kering, Maximilian turut serta dalam kerja paksa.

Pada suatu hari seorang sersan bernama Gajowniczek dijatuhi hukuman mati. Mendengar teriakan sersan itu, Maximilian Kolbe maju dengan tegap untuk meminta menggantikan sersan malang itu. Karena toh saya tidak beranak-istri", kata Maximilian.

Bersama dengan para sandera lainnya, Maximilian tidak diberi makan dan minum. Namun ia bisa bertahan sebagai korban terakhir, dan baru mati setelah disuntik dengan carbolic acid. Sepenggal kisah Santo Maksimilianus Kolbe ini mengingatkan kita akan keteguhan iman semua martir yang telah dengan sukarela mengorbankan diri mereka demi menyelamatkan  orang lain.

Pengorbanan hidup mereka adalah salah satu bentuk paling nyata betapa mereka sangat mencintai Tuhan lebih dari pada diri mereka sendiri.

Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved