Liputan Khusus
Lipsus - Harga Rumput Laut Anjlok, Pergub NTT Jadi Penghambat?
Petani rumput laut juga kini semakin berkurang karena banyak petani rumput laut yang berlatih menjadi petani tambak garam.
POS-KUPANG.COM, SEBA - Rumput laut sangat membantu menopang perekonomian masyarakat Sabu Raijua khususnya masyarakat pesisir pantai Koloudju, Desa Menia, Kecamatan Sabu Barat, Kabupaten Sabu Raijua.
Rumput laut tidak hanya diolah menjadi sayuran, tetapi bisa juga diolah menjadi pangan lokal seperti kue dan juga minuman. Jika pedagang atau penadah dari Makassar dan Kupang masuk Pulau Sabu, mereka membeli rumput laut kering di petani dengan harga standar Rp25 ribu per kilogram tetapi saat ini sudah menyentuh Rp10 ribu per kilogram.
Agustina, warga Desa Raemedia selama 2024 telah mengumpulkan 4 karung 100 kilogram rumput laut kering di rumahnya. Belum ada niat untuk menjual rumput lautnya kepada pengepul karena hanya dijual dengan harga Rp10 ribu per kilogram.
Baca juga: Lipsus - Kasus Rabies di Kabupaten Kupang Merebak, Disnak Kupang Isolasi Desa Sahraen
Saat ini Agustina telah memiliki tiga jenis rumput laut yaitu rumput laut hijau, rumput laut merah dan rumput laut merah halus. Dalam pembudidayaan ini, ia belum pernah mendapatkan bantuan pemerintah karena ia tidak tergabung dalam kelompok tani. Satu kelompok tani terdapat 10 petani.
Menurutnya, petani rumput laut juga kini semakin berkurang karena banyak petani rumput laut yang berlatih menjadi petani tambak garam.
"Lebih banyak kerja tambak garam, sawah, kerja agar repot, tidak ada harga begini. Ini tahun saja yang tidak jual karena tidak ada harga. Karena orang minta sepuluh ribu,"ujarnya saat ditemui di desa Raemedia, Sabu Barat, Kabupaten Sabu Raijua.
Selain itu, hama juga menyerang rumput laut sehingga membuatnya semakin sulit dalam mengelola rumput laut apalagi selama ini ia belum mendapatkan bantuan pemerintah. Terus bekerja namun sudah sulit dijual. Ada pun pembeli yang menawarkan harga rumput laut Rp10 ribu per kilogram.
Mata pencaharian masyarakat di Sabu Raijua berbeda-beda tergantung kondisi desa masing-masing. Masyarakat pesisir di Koloudju, Desa Menia, Kecamatan Sabu Barat, Kabupaten Sabu Raijua mayoritas penduduknya bermatapencaharian petani untuk bertahan hidup.
Saat air laut surut, setiap hari Agustina bergegas ke pantai membawa karung untuk mencari rumput laut. Kalau beruntung, Agustina membawa pulang sedikit rumput laut, kalau tidak, ia akan membawa pulang karung kosong.
"Kalau ada agar yang rusak di pinggir, kita pilih. Kalau tidak ada, ya pulang kosong,"ujar Agustina, warga desa Menia kepada Pos Kupang, Senin (15/7).
Sejak adanya peraturan gubernur tentang pelarangan penjualan rumput laut ke luar daerah, petani rumput laut di Sabu Raijua merasa kesulitan untuk menjual rumput laut ini karena pembeli tidak masuk ke Sabu Raijua. Namun pada intinya mereka hanya menginginkan mereka kembali bisa menjual.
Mereka mengaku, tidak akan sulit memutar otak untuk terus bertahan hidup dengan rumput laut jika perusahaan pengolahan rumput laut yang diresmikan beberapa tahun di Sabu Raijua bisa beroperasi dengan baik. Namun hingga saat ini perusahaan ini tidak berjalan.
Sejumlah masyarakat yang tergabung dalam kelompok tani pembudidaya rumput laut ini mengaku kesulitan menjual rumput laut seperti dulu lagi karena adanya pelarangan ini. Selama dua tahun ini memang ada pembeli yang datang ke Sabu namun menawarkan dengan harga yang sangat murah.
Susah Cari Bibit
Biasanya mereka menjual rumput laut kering dengan harga standar kisaran Rp25 sampai Rp30 ribu per kilogram. Saat ini pembeli menawarkan dengan harga Rp10 ribu sampai dengan Rp15 ribu. Karena harga yang ditawarkan menurut mereka sangat murah, mereka memilih untuk menyimpan rumput laut mereka selama satu tahun ini.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Petani-rumput-laut-di-Desa-Menia-Sabu-Barat-Kabupaten-Sabu-Raijua-NTT.jpg)