Berita NTT
Menikmati Pelayaran Termurah di NTT dengan KM Sabuk Nusantara
Para penumpang yang tengah berkemas untuk turun di pelabuhan, berjejal di semua sisi kapal ini. Sebagian menyaksikan ikan-ikan terbang
Penulis: Paul Burin | Editor: Eflin Rote
POS-KUPANG.COM - PANORAMA alam yang sungguh indah dan jamak terpampang di depan mata ketika KM Sabuk Nusantara 48 mulai memasuki perairan Lembata Selatan, Minggu, 29 Juni 2024 pagi. Kabut tipis tampak dari kejauhan memayungi Gunung Labalekan, gunung tertinggi di Pulau Lembata (1.622 mdpl). Dari balik mega, mentari pagi yang menyembul manja ditingkahi semilir angin pada geladak kapal ini. Sejuk dan damai nian.
Selama 12 jam penyeberangan yang melelahkan dari Pelabuhan Tenau, Kupang menuju Pelabuhan Wulandoni, serasa terbayarkan ketika menyaksikan semuanya ini. Hati menjadi sumringah.
Para penumpang yang tengah berkemas untuk turun di pelabuhan, berjejal di semua sisi kapal ini. Sebagian menyaksikan ikan-ikan terbang yang "menari-nari" seakan menyambut kedatangan kapal dan seisinya di Tanah Lepanbatan ini.
Sebagian lagi penumpang bercengkerama sembari menikmati panganan pop mie dan secangkir kopi hangat. Dan, betapa terdengar dialek-dialek bahasa di selatan pulau ini mendominasinya. Tiap kampung di wilayah ini punya langgam bahasa tersendiri. Hampir pasti saya boleh menyebut sang penutur dari kampung mana ia berasal jika mendengar ia bicara.
Saat ini warga dari selatan pulau ini sungguh menikmati perjalanan yang "to the point." Langsung menuju kampung halaman. Turun di Wulandoni dan dalam hitungan 10 sampai 15 menit sudah sampai di kampung halaman. Penumpang lain melanjutkan perjalanan menuju ke Menanga, Solor Timur dan Larantuka, Flores Timur. Sehari berikut, kapal ini akan pulang melewati Wulandoni menuju Kupang.
Tempo dulu, warga harus memutar jauh ke Lewoleba, jarak yang sungguh pula "high cost." Kini, cukup membayar tiket kapal cuma Rp 24.000 saja mereka sudah sampai ke kampung halaman atau boleh pergi ke Kupang atau kota lain di NTT dengan sumringah. Enteng, tak pikir biaya yang membebankan. Saya boleh bilang ini pelayaran termurah di NTT.
Mungkin saja dengan harga tiket yang "ramah-tamah" ini hanya untuk biaya asuransi perjalanan penumpang. Sedangkan baya-biaya lainnya masih nihil. Ke depan, pasti ada ongkos lainnya. Hanya menunggu tempo, waktu. Awalnya, Pelni memerkenalkan jalur atau lintasan ini kepada masyarakat. Jika sudah ramai, maka biaya-biaya lain akan disesuaikan.
Jika dengan fery atau kapal Pelni lainnya melintasi bagian utara pulau ini atau melewati Pelabuhan Laut Lewoleba, maka penumpang harus merogo kocek nyaris Rp 200 ribu per orang. Belum lagi menggunakan moda angkutan darat menuju ke kampung atau ke rumah masing-masing. Yang pasti ada tambahan ongkos lainnya.
Saya menikmati perjalanan ini sejak dari Kupang, Sabtu, pukul 20. 00 Wita. Wajar, baru pertama kali saya menyeberang ke Wulandoni dengan kapal perintis ini. Turun di dermaga, Minggu pukul 8.30 Wita pagi, tak membuat hati sebal. Cepat saja menuruni anak tangga kapal ini. Tak ada antrean panjang. Di bawah sana beberapa ponakan yang ganteng: Rio Pukan, Indra Pukan dan Eno Kobun sudah menunggu. Sejenak beristirahat pada sebuah kedai mungil kami menikmati nasi bungkus dan kopi manis sebelum menuju ke Lewoleba yang berjarak sekitar 35 kilometer.
Tiga orang anak muda tanggung yang datang dari Lewoleba pukul 06.00 Wita ini menggambarkan kondisi jalan yang masih "off the road" di titik menjelang Desa Watuwara. Itu saja. Setelah itu perjalanan menjadi sangat mulus dari Puor Meluwuti melewati Desa Kluang, Boto, Lamalewar, Belame, Belang hingga Kota Lewoleba.
Baca juga: Opini: Merindukan Guru Panutan
Seperti Mimpi
Seperti mimpi saja. Kaget sudah tiba di Lewoleba. Sempat jedah sebentar di Belame untuk menikmati suasana yang sejuk di bawah rimbunan pohon mete. Tapi, sinyal handphone yang buruk, putus-putus kami memutuskan menuju ke Belang.
Di sana, kami boleh melihat dengan leluasa trend informasi entah dari belahan bumi mana saja. Dan, anak-anak ini beralih mengubah status di media sosialnya.
Saya mencatat, mulusnya transportasi ini menjadikan wilayah selatan Lembata yang sebelumnya relatif tertinggal, kini telah berubah jauh. Geliat ekonomi dan pola kesibukan warga lebih memudahkan. Jika ke kebun, mereka menggunakan sepeda motor.
Saya hanya mau mengatakan mereka sudah tak berjalan kaki lagi terutama untuk menjangkau ladang atau kebun yang relatif jauh. Dengan dana desa, misalnya, pemerintah desa telah membangun ruas-ruas jalan usaha tani menuju ladang masyarakat. Dengan sepeda motor atau mobil pikap warga mengangkut berbagai kebutuhan rumahan.
| Wakil Ketua DPRD Rote Ndao Bantah Isu Perselingkuhan, Tempuh Jalur Hukum |
|
|---|
| Telkomsel, Wajah Baru Gaya Inovatif yang Menghipnotis |
|
|---|
| Sejarah Baru, Atlet Gymnastik Pertama dari NTT Langsung Naik Podium Juara di Jakarta |
|
|---|
| Pengamat Undana Nilai Hakim MK Tidak Berprinsip Hapus Parlemen Threshold |
|
|---|
| Pj Bupati Kupang Ajak Pemuda Katolik NTT Sinergi dengan Pemerintah Daerah |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/KM-Sabuk-Nusantara-48-setelah-tiba-di-Pelabuhan-Wulandoni-Minggu-29-Juni-2024.jpg)