Sabtu, 9 Mei 2026

Berita Sabu Raijua

Kelangkaan BBM Diduga Adanya Spekulan di Sabu Raijua

Kabupaten Sabu Raijua terkenal dengan sebutan Pulau Sejuta Lontar. Mayoritas mata pencaharian masyarakatnya adalah bertani.

Tayang:
Penulis: Agustina Yulian Tasino Dhema | Editor: Oby Lewanmeru
POS-KUPANG.COM/ASTI DHEMA
Sejumlah petani ikut antre di SPBU Roboaba, Sabu Raijua beberapa waktu lalu. 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Asti Dhema.

POS-KUPANG.COM, SEBA - Kabupaten Sabu Raijua Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) hampir setiap tahun terus terjadi. Apalagi memasuki musim kemarau.

Kabupaten Sabu Raijua terkenal dengan sebutan Pulau Sejuta Lontar. Mayoritas mata pencaharian masyarakatnya adalah bertani.

Salah satu mata pencaharian utama orang Sabu Raijua sejak nenek moyang adalah sadap lontar untuk dijadikan makanan utama orang Sabu yaitu gula Sabu atau gula air.

Seiring berjalannya waktu, mata pencaharian menyadap lontar ini lambat laut berkurang. Kini, masyarakat Sabu Raijua bertani sawah, garam dan rumput laut.

Kondisi geografis Pulau Sabu dengan kondisi tanah berongga tidak memungkinkan pulau Sabu menyimpan banyak cadangan air tanah. Bahkan pepohonan di Sabu Raijua sangat jarang.

Kering. Itulah gambaran Sabu Raijua sejak dulu. Kadar air yang sedikit dengan kualitas air bersih hanya 50 persen tentu membayangkan kondisi ini sangat sulit.

Sumber mata air di Sabu Raijua pun sangat minim, banyak ditemukan sumur, area penangkap air untuk mengairi sawah dan juga memenuhi kebutuhan MCK serta kebutuhan ternak mereka.

Untuk menjalankan pertanian, masyarakat Sabu Raijua harus menggunakan pompa air yang membutuhkan Bahan Bakar Minyak (BBM).

Harga BBM eceran yang dijual di pinggir jalan di pulau Sabu dibanderol dengan harga Rp20 ribu sampai dengan Rp35 ribu per botol kemasan air mineral 1,5 liter. Bahkan Pertalite dijual bebas di Sabu yang harganya sudah disubsidi pemerintah menjadi Rp10 ribu per liter.

Sudah tak menjadi rahasia umum, banyak masyarakat Sabu Raijua khususnya di Pulau Sabu beralih menjadi penjual BBM. Mereka rela setiap hari mengantre di sejumlah SPBU yang ada di Pulau salah satunya di SPBU Roboaba, Sabu Barat, Kabupaten Sabu Raijua.

POS-KUPANG.COM secara acak menemui sejumlah pengantre di salah satu SPBU di Pulau sabu, Ia mengatakan dirinya mengantre beli BBM untuk dijual kembali di desanya. Setiap hari dirinya mengantre di SPBU dengan menggunakan sepeda motor kemudian BBM ini dijual kembali.

Baca juga: Nikodemus Rihi Heke Siap Bertarung pada Pilkada Sabu Raijua

Setiap hari hampir ratusan kendaraan roda dua dan roda empat antre memanjang di SPBU Roboaba. Bahkan pengantre sabar menunggu hingga sore hari sampai kuota BBM untuk satu hari terpenuhi.

"Jangan tap dekat-dekat sini, tap jauh sedikit dari sini biar tidak ketahuan,"ungkapnya.

POS-KUPANG.COM mendapati seorang pengantre menenteng selang putih bening kekuningan dan corong setelah menyedot BBM dari tangki kendaraan. Terlihat sekitar dua botol kemasan air mineral 1,5 liter berisi BBM dimasukkannya dalam tas ransel ditutupi pakaian. Dikancingkannya tas itu tak lupa menyimpan selang di saku tas kemudian beranjak pergi.

Seorang warga juga mengungkapkan bahwa adanya dugaan  pengecer besar BBM ini membayar sejumlah warga untuk mengantre di SPBU kemudian diserahkannya kepada pengecer yang dimaksud untuk dijual kembali. Bagaimana tidak, antrean panjang di sejumlah SPBU di Sabu Raijua berlangsung setiap hari dari pagi hingga sore hari. Lalu, apa pekerjaan pengantre ini?

Bupati Sabu Raijua, Nikodemus Rihi Heke mengatakan, karakteristik Sabu Raijua berbeda dengan tempat lain. Oleh karena itu, kebijakan yang diambil juga harus berbeda.

Melihat kondisi SPBU yang setiap hari dipenuhi lautan pengantre, Heke mengungkapkan ada kemungkinan terjadinya spekulan. Spekulan ini sengaja menciptakan kondisi ini agar menimbulkan keresahan dan kepanikan masyarakat mendapatkan BBM. Akibatnya masyarakat akan membeli BBM dengan harga berapa pun bahkan BBM subsidi.

"Berbeda dalam arti dalam pelayanan kepada masyarakat. Saat adanya Sub Penyalur BBM, pelayanan aman. Itu juga menutup kemungkinan untuk spekulan ambil. Sekarang ini bisa saja mungkin orang akan mengatakan tidak ada spekulan tapi kalau saya lihat, kemungkinan itu akan terjadi. Orang antre berulang-ulang,"ungkap Heke pada Kamis, 4 Juli 2024.

Menurut Heke, dengan Sub Penyalur (SP) di pulau Sabu, penyaluran BBM kepada masyarakat lebih jelas karena tercatat jelas seperti nomor kendaraan yang menjadi pelanggan pada Sub Penyalur.

"Kalau misalnya ada seribu di situ, dia layani seribu. Kalau ada kelebihan nanti baru dia layani yang lain tapi dia dahulukan. Jadi orang tidak lagi antre di situ, dia tidak lagi beli di tempat lain, si SP di sana sudah punya pelanggan karena dia punya catatan,"ujar Heke. (dhe)

Ikuti berita POS-KUPANG.COM lainnya di GOOGLE NEWS

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved