Konflik Israel Hizbullah

Hizbullah Targetkan Brigade Timur Tentara Israel dengan Artileri Berat dan Roket

Sirene terdengar di beberapa kota, termasuk Kiryat Shmona, Margaliot, dan Tel Hai, pada Rabu sore, lapor stasiun televisi Israel Channel 12.

Editor: Agustinus Sape
AFP/RABIH DAHER
Asap mengepul dari area yang digempur artileri Israel di Desa Deir Mimas, Lebanon selatan, 15 Juni 2024. 

Media Inggris, The Guardian, melaporkan bahwa retorika yang memanas antara Hezbollah dan Israel itu terjadi setelah Hezbollah merilis video berdurasi lebih dari sembilan menit. Rekaman video ini merupakan kumpulan dari gambar-gambar yang diambil dengan pesawat nirawak pengintai milik Hezbollah dari sejumlah lokasi di Israel, termasuk pelabuhan dan kota Haifa di Israel utara.

Kemampuan Hezbollah

Dalam rekaman video itu terlihat gambar-gambar fasilitas militer, pertahanan, dan energi Israel, serta infrastruktur sipil dan militer. Penayangan rekaman video itu ditafsirkan sebagai ancaman dan kemampuan Hezbollah untuk menyerang Haifa. Kota ini hanya berjarak 27 kilometer dari perbatasan Lebanon.

Selain itu, Pemimpin Hezbollah Sayyed Hassan Nasrallah juga memperingatkan akan kemampuan persenjataannya untuk menjangkau Pelabuhan Haifa yang dioperasikan perusahaan China dan India. Pekan lalu, Hezbollah mengatakan telah melancarkan lebih dari 2.100 serangan militer terhadap Israel sejak 8 Oktober.

Kantor Berita AFP mencatat, baku serang antara Hezbollah dan Israel telah menewaskan sedikitnya 473 orang di pihak Lebanon. Sebagian besar dari mereka adalah pejuang Hezbollah. Adapun di kalangan sipil, 92 warga sipil menjadi korban. Sementara Israel mengatakan, sedikitnya 15 tentaranya dan 11 warga sipil tewas di wilayah utara yang berbatasan dengan Lebanon.

Wali kota Haifa, Yona Yahav, mengatakan, video Hizbullah merupakan teror psikologis terhadap penduduk Haifa dan wilayah utara Israel. “Baik secara diplomatik maupun militer, kami akan memastikan warga Israel kembali ke rumah mereka di Israel utara dengan aman dan terjamin. Itu tidak bisa dinegosiasikan,” tegas Yahav.

Penayangan rekaman itu merupakan bagian dari rentetan saling serang antara Hezbollah dan Israel yang kian meningkat sepekan ini. Peningkatan serangan ini terjadi setelah gempuran Israel atas sasaran di Lebanon selatan pada Rabu (12/6/2024) menewaskan empat petinggi Hezbollah, salah satunya adalah Komandan Hezbollah Talib Sami Abdullah.

Hezbollah kemudian menyerang balik Israel. Hezbollah menembakkan 170 rudal ke sejumlah sasaran di wilayah Israel, terutama di Israel utara, Dataran Tinggi Golan, dan daerah pertanian Shebaa. Ini merupakan serangan terberat Hezbollah. Israel lantas mengerahkan pesawat tempurnya ke Lebanon selatan untuk menggempur sejumlah sasaran.

Saling serang itu hanya berjeda hari raya Idul Adha. Pada Selasa (18/6/2024) sore, Hezbollah kembali mengumumkan serangan pesawat nirawak kelompok itu terhadap tank Israel. Adapun Israel menargetkan unit udara Hezbollah.

Seorang pejabat PBB di Lebanon memperingatkan kedua pihak akan bahaya dari salah perhitungan yang bisa mengarah kepada konflik terbuka dan lebih luas.

Terkait ancaman pemimpin Hezbollah, Katz dalam unggahan di media sosial X menyatakan, ”Israel makin dekat dengan kesempatan untuk mengubah aturan main melawan Hezbollah dan Lebanon.”

Ia juga menulis, ”Melalui perang habis-habisan, Hezbollah akan dihancurkan dan Lebanon akan kalah telak.”

Israel, kata Katz, akan membayar harga yang mahal untuk memulihkan keamanan di utara. Sementara Hezbollah mengatakan tidak akan menghentikan serangannya kecuali ada gencatan senjata di Jalur Gaza.

Misi Utusan Khusus AS

Di tengah retorika yang memanas, AS mengirim Utusan Khusus Amos Hochstein ke Israel dan Lebanon. Pengiriman utusan itu bertujuan meredakan ketegangan antara Israel dan Lebanon. Hochstein mengatakan telah melakukan pembicaraan dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di Jerusalem awal pekan ini.

Halaman
123
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved