Berita Timor Tengah Utara
29 Ekor Babi Milik Warga Desa Oeolo Mati Mendadak Diduga Suspek ASF
Seorang Warga Desa Oeolo, Kabupaten Timor Tengah Utara, Provinsi NTT menyebut sebanyak 29 ekor ternak babi miliknya mati
Penulis: Dionisius Rebon | Editor: Kanis Jehola
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Dionisius Rebon
POS-KUPANG.COM, KEFAMENANU - Seorang Warga Desa Oeolo, Kecamatan Musi, Kabupaten Timor Tengah Utara, Provinsi NTT bernama Margareta Anunut menyebut sebanyak 29 ekor ternak babi miliknya mati. Kematian babi dalam jumlah fantastis ini diduga disebabkan oleh African Swine Fever (ASF) atau demam babi afrika.
Ia menuturkan, ternak babi miliknya tersebut diduga diserang ASF. Fenomena kematian babi miliknya ini terjadi sejak Bulan April 2024 lalu.
"Dalam waktu dua bulan ini saya punya babi 29 ekor sudah mati," ujarnya kepada POS-KUPANG.COM, Minggu, 19 Mei 2024.
Margareta mengaku mengalami kerugian yang luar biasa akibat kasus kematian ternak babi yang dialaminya. Kerugian diperkirakan mencapai 100.000.000.
Sebanyak 13 ekor ternak babi berukuran besar dengan taksasi harga mencapai Rp. 5.000.000 mati dalam kurun waktu dua bulan terakhir. Selain itu, sebanyak 16 ekor ternak babi dengan taksasi harga Rp. 1. 500.000 juga mati mendadak setelah nafsu makan menurun.
Sebagai seorang peternak babi, kata Margareta, dirinya baru pertama kali mengalami musibah kematian ternak babi dalam jumlah fantastis pada tahun 2024 ini.
Baca juga: Dinas Peternakan TTU Catat Puluhan Ternak Babi Mati Diduga Suspek ASF, Tersebar di Empat Kecamatan
Sementara itu, Kabid Keswan dan Kesmavet Dinas Peternakan Kabupaten TTU, drh Stefanus Tenis mengatakan, Dinas Peternakan Kabupaten TTU saat ini sudah menyediakan stok disinfektan untuk mencegah virus ASF.
Perihal penyaluran disinfektan dari Disnak TTU, lanjutnya, Disnak sudah menginformasikan hal ini kepada kepala resort peternakan di tingkat kecamatan agar mereka bisa mengambil disinfektan yang disiapkan Disnak TTU untuk didistribusikan kepada peternak babi.
Dalam upaya menindaklanjuti hal ini, Sekretaris Daerah TTU telah mengeluarkan surat imbauan agar camat, pemerintah desa desa dan peternak waspada serta antisipasi terhadap penyakit ASF.
Menurutnya, menjadi momok bagi Dinas Peternakan TTU. Pasalnya belum ditemukan vaksin dan obat untuk mengatasi penyakit yang menyerang ternak babi ini. Oleh karena itu, penerapan biosekuriti bisa dilakukan oleh peternak untuk mencegah penularan Virus ASF ini.
Selain itu, Kepala Resort peternakan di lapangan bisa memberikan Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE). Hal ini dimaksudkan agar peternak mengetahui KIE tersebut.
Ia juga mengimbau agar para peternak babi mesti menjaga Biosekuriti dimana peternak mesti menjaga agar lingkungan dan ternak babi miliknya tidak dikunjungi oleh pihak dari luar.
Baca juga: Sejumlah Ternak Babi Mati di Biboki Anleu dan Moenleu Timor Tengah Utara Terindikasi Suspek ASF
Apabila ditemukan kasus kematian ternak babi lagi maka, Veterainer TTU akan mengambil sampel pada babi yang mati untuk dikirim ke Veterainer Laboratorium Denpasar melalui UPTD Laboratorium di Kupang. (*)
Ikuti berita POS-KUPANG.com di GOOGLE NEWS
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/29-Ekor-Babi-Milik-Warga-Desa-Oeolo-Mati-Mendadak-Diduga-Suspek-ASF.jpg)