Breaking News
Jumat, 1 Mei 2026

Liputan Khusus

Lipsus - Bantu Cronbook untuk 100 SD di Sikka

Ia menjelaskan, bantuan Cronbook dari Pemerintah baru berjalan sekitar tiga sampai empat tahun ini namun kuota setiap tahun hanya 30-an sekolah

Tayang:
Editor: Ryan Nong
POS KUPANG/ARNOLD WELIANTO
Konstantinus Wihelmus, Pengawas Pendamping Sekolah Dasar Gugus Habiratin 

Ia menambahkan, tidak ada komputer membuat para siswa harus membawa handphone (Hp) android sendiri dari rumah yang dipinjamkan dari keluarga dan tetangga dan para guru di sekolah itu. Jauh sebelum ujian, pihaknya sudah memberikan pelatihan beberapa kali sehingga saat ujian untuk anak-anak kelas 6 tersebut bisa melaksanakannya tanpa kendala berarti.

"Sebelumnya kami juga sudah menggelar simulasi terkait pengerjaan soal-soal dan cara mengoperasikan Hp android," jelasnya.

Namun demikian, ada juga siswa tidak punya Hp android hingga kesulitan mengoperasikannya saat ujian. Ia hanya berharap kepada pemerintah untuk membantu mengadakan komputer sehingga ke depannya siswa bisa mengetahui cara mengoperasikan komputer dan bisa mengikuti ujian online tanpa harus meminjam Hp android dari orang tua, tetangga dan para guru.

"Harapannya semoga ke depannya ada bantuan dari pemerintah semoga membantu kami laptop, dan cronbook," harapnya. Seraya menambahkan, di SDI Natarita hanya memiliki satu unit laptop untuk digunakan penginputan Data Pokok Pendidikan (Dapodik).

Ia menambahkan, para guru di sekolah itu pun terpaksa harus membuat arisan untuk membeli laptop untuk kebutuhan sekolah. "Kami bentuk arisan, sehingga saat ini kami sudah bisa membeli 5 unit laptop untuk digunakan bapa ibu guru," tutupnya

Diketahui, ujian asesmen sumatif akhir tahun berbasis android ini berlangsung di tingkat sekolah dasar mulai Senin, 6-10 Mei 2024.

PLT Kepala SDI Natarita, Yohanes Ento mengatakan, sekolahnya sudah memasuki tahun kedua mengikuti ujian secara online namun masih terkendala tidak tersedianya fasilitas komputer sehingga siswa harus meminjam Hp android dari orang tua, tetangga dan para guru.

"Kondisi seperti ini sudah tahun kedua kalau ujian online, Kendala kami tidak ada komputer sehingga anak-anak bawa Hp android dari rumah yang dipinjam dari keluarga, tetangga dan bapa ibu guru di sini," katanya.

Jauh sebelum ujian, tambah Yohanes, pihaknya sudah memberikan pelatihan beberapa kali sehingga saat pelaksanaan ujian untuk anak-anak kelas 6 tersebut bisa melaksanakannya tanpa kendala berarti.

"Sebelumnya kami juga sudah menggelar simulasi terkait pengerjaan soal-soal dan cara mengoperasikan Hp android," jelasnya

Namun demikian, ada juga siswa tidak punya HP android hingga kesulitan mengoperasikannya saat ujian. Sedangkan Hp android yang digunakan, sebagian dibawa anak-anak sendiri dari rumahnya. Sebagiannya lagi pinjam Hp para guru.

"Hampir semua anak-anak di kampung ini tidak memiliki Hp android sehingga sangat kesulitan untuk mengoperasikan, "ujarnya

Meski tidak ada komputer, jelasnya, namun pihak sekolah sudah membeli alat penguat sinyal sehingga selama ujian berlangsung dengan aman tanpa terkendala. Sebab, tahun-tahun sebelumnya pihak sekolah harus membawa anak-anak menempuh perjalanan 7 kilometer untuk mengikuti ujian secara online di sekolah tetangga di Ibu Kota Kecamatan Talibura.

Ia berharap kepada pemerintah untuk membantu mengadakan komputer sehingga ke depannya siswa bisa mengetahui cara mengoperasikan komputer dan bisa mengikuti ujian online tanpa harus meminjam Hp android orangtua, tetangga dan para guru.

"Harapannya semoga kedepannya ada bantuan dari pemerintah semoga membantu kami laptop, dan Cronbook,"harapnya. (cr4)

 

Ikuti Liputan Khusus POS-KUPANG.COM di GOOGLE NEWS

 

 

Halaman 3/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved