Liputan Khusus
Lipsus - Bantu Cronbook untuk 100 SD di Sikka
Ia menjelaskan, bantuan Cronbook dari Pemerintah baru berjalan sekitar tiga sampai empat tahun ini namun kuota setiap tahun hanya 30-an sekolah
Seperti yang dialami, Laurensius Lewuk Da ipir (50), orangtua dari Laurenstia Claretia Bara Putri Laga(12) yang merupakan salah satu peserta ujian asesmen sumatif akhir tahun berbasis android.
Awalnya pria paruh baya ini sempat kebingungan. Ia pun pusing tujuh keliling untuk memenuhi keinginan anaknya. Ia sehari-hari bekerja sebagai petani di Kampung Natarita. Satu anaknya bersekolah di SDI Natarita. Sekitar sebulan lalu, anaknya meminta membelikan handphone (Hp) android untuk ikut ujian. "Waktu itu saya bingung. Sebab, ekonomi kami pas-pasan," ujarnya.
Ia mengaku belum bisa mengumpulkan uang paling tidak Rp 2 juta untuk membeli satu Hp android yang bisa dipakai anaknya untuk ujian. Kendati masih bingung, namun, kepada anaknya, ia berjanji akan mencari jalan keluar supaya bisa membeli Hp android sehingga bisa ikut ujian.
Dikatakannya, Ia memberi harapan agar anaknya tidak putus asa. Tapi, di sisi lain pria tersebut sempat meminta bantuan keluarga yang ada di kampung dan di perantauan.
Laurensius menuturkan, karena kondisi ekonomi, ia terpaksa harus patungan bersama keluarga agar bisa membeli Hp android untuk anaknya bisa mengikuti ujian tersebut.
"Kan tidak semua mampu untuk beli Hp. Sebagai petani, pendapatan kami sangat tidak cukup untuk membeli Hp android sehingga kami harus patungan," ujarnya.
Kata dia, Hp android yang digunakan anaknya untuk mengikuti ujian tersebut merupakan Hp bekas yang dibeli seharga Rp 800 ribu hasil patungan dari keluarga di kampung dan di perantauan.
"HP yang digunakan ini, kami patungan dengan kaka dan adik yang di sini dan di perantauan untuk membeli Hp ini," jelasnya
Kata dia, progam pemerintah untuk menyelenggarakan ujian berbasis android namun harus memperhatikan kondisi ekonomi masyarakat untuk membeli Hp android ketika sekolah tidak mempunyai komputer.
"Progam pemerintah ini boleh dilanjutkan tapi lihat juga dengan kemampuan orangtua. Semua orangtua memiliki kemampuan ekonominya berbeda-beda. Ada yang mampu beli Hp tetapi ada banyak yang tidak bisa beli Hp," katanya.
Ia hanya berharap kepada pemerintah agar memperhatikan sarana dan prasarana di sekolah tersebut agar siswa bisa mengikuti ujian asesmen sumatif akhir tahun berbasis android dengan nyaman tanpa harus meminjam HP android.
Arisan Beli Laptop
Claus Audius Philipus, Guru PJOK mengaku mengaku kasihan dengan siswi tersebut, karena harus menghadapi ujian asesmen sumatif akhir tahun berbasis android. Sebagai seorang guru mereka sangat prihatin dan ikut bertanggung jawab demi keberhasilan siswanya.
Dikatakan, orangtua siswi ini keduanya bekerja sebagai petani dan tidak memiliki handphone. Untuk mengatasi kesulitan tersebut, ia menawarkan agar siswi tersebut datang ke sekolah menggunakan Hp androidnya agar mengikuti ujian asesmen sumatif akhir tahun berbasis android.
"Kita turut prihatin dengan keadaan begini, tapi mau bagaimana lagi,", ujarnya
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Konstantinus-Wihelmus.jpg)