Berita NTT
Kenali Perbedaan Serangan Jantung dan Henti Jantung
Dokter Magma menjelaskan, secara medis perlu dibedakan antara serangan jantung dan henti jantung.
Penulis: Michaella Uzurasi | Editor: Oby Lewanmeru
Laporan Reporter POS-KUPANG.CON, Michaella Uzurasi
POS-KUPANG.COM, KUPANG - Penyakit serangan jantung saat ini sudah bukan lagi menjadi sesuatu yang baru.
Dari yang sebelumnya hanya ditemukan pada orang-orang usia lanjut, kini banyak orang-orang usia produktif juga bisa terkena serangan jantung kapan saja terutama dengan menjalani pola hidup yang serba instan.
Hal ini diungkapkan dr. Magma Purnawan Putra, SpJP (K) selaku Dokter Spesialis Jantung & Pembuluh Darah RS Siloam Kupang dalam Podcast Pos Kupang bersama Head of Outpatient RS Siloam Kupang dr. Lita Afrianty, Rabu, 24/04/2024.
Dokter Magma menjelaskan, secara medis perlu dibedakan antara serangan jantung dan henti jantung.
"Kalau kita analogikan di tubuh itu jantung sebagai pompa dan ada pembuluh darah sebagai pipa-pipanya untuk mengalirkan darah ke seluruh tubuh, karena seluruh tubuh kita dari ujung rambut sampai ujung kaki, mata, otak, hidung, semua butuh darah untuk bisa tetap hidup. Nah jantung di sini sebagai pompa tetapi sebagai pompa itu sebagaimana pompa listrik yang kita tahu dia tidak saja berfungsi sebagai pompa tetapi ada kelistrikan juga. Disebut sebagai henti jantung itu lebih ke masalah kelistrikan jantung. Jantung berhenti memompa karena masalah kelistrikan. Disebut serangan jantung itu lebih ke arah pipa, pembuluh darah yang memberi makan jantung itu sendiri ada tersumbat. Itu yang disebut dengan serangan jantung kalau kita konversi ke istilah dunia medis. Kita sebutnya Sindrom Koroner Akut," jelasnya.
Untuk gejalanya sendiri, lanjut dia, pada penderita henti jantung otomatis sesuai namanya, jantung berhenti, tidak memompa dan pasiennya pasti tidak sadar.
"Jadi tiba-tiba pasien tidak sadar kita periksa jantungnya berhenti, tidak berdetak lagi. Tidak ada gejala apapun lainnya selain pasien tidak sadarkan diri kalau kita lihat dari luar nanti sebagai medis kita perlu kenali iramanya yang mana ada yang perlu kejut listrik, ada yang tidak perlu kejut listrik," katanya.
Baca juga: Bank NTT Percayakan RS Siloam Kupang untuk Layanan Kesehatan Karyawan
Sementara pada serangan jantung, karena awalnya jantung belum berhenti berdetak tetapi dimulai dengan berkurangnya aliran ke pembuluh darah yang memberi makan jantung, pasien bisa mengeluhkan beberapa gejala walaupun gejalanya tidak spesifik di semua pasien tetapi pada umumnya yang dirasakan adalah rasa tidak nyaman di dada.
"Ada yang menceritakan sebagai tertimpa beban berat, ada yang menceritakan sebagai keselek bakso, ada yang merasakan seperti ada gajah yang menduduki, ada menceritakan seperti diikat, tetapi bukan diiris, bukan tertusuk-tusuk. Kalau pasien sakit jantung seperti itu. Ada juga yang mengeluhkan nyeri ulu hati," ungkapnya.
Pada gejalanya, kata dr. Magma, tidak ada kriteria khusus misalnya yang nyeri ulu hati hanya pada perempuan saja tetapi pada pasien-pasien tertentu misalnya perempuan usia lanjut, pasien dengan penyakit gula, pasien dengan penyakit ginjal, keluhannya tidak khas.
"Yang saya sebut khas adalah nyeri di dada, tertekan seperti diikat kadang menjalar sampai di lengan, kadang sampai nyeri seperti tercekik, itu yang khas. Tapi pada pasien-pasien dengan sakit seperti yang tadi saya jelaskan, penyakit gula, penyakit ginjal, usia lanjut, itu kadang tidak khas, bisa sakit ulu hati saja, tidak enak perasaan saja," ujarnya.
Pertolongan pertama yang bisa dilakukan, jelas dr. Magma, berbeda antara pasien yang sama sekali belum pernah ada riwayat jantung sebelumnya dan pasien yang sudah ada riwayat jantung sebelumnya tapi tetap stabil.
"Kalau pada pasien yang sudah ada riwayat sebelumnya dan stabil, penanganan pertama saat serangan bisa dua hal. Yang pertama mengunyah pengencer darah, bisa dua sampai empat tablet, lalu yang kedua adalah penggunaan obat di bawah lidah, untuk membuka pembuluh darah mengurangi beban jantung. Kalau untuk obat di bawah lidah memang ada syarat khususnya, kita tidak bisa berikan kepada pasien-pasien yang tekanan darahnya rendah tapi kalau yang kunyah obat pengencer darah itu relatif lebih mudah dan tidak ada kontra indikasi atau larangan khusus kecuali pasiennya sedang mengalami pendarahan," kata dr. Magma.
"Tapi pada pasien yang tidak tahu, sehat-sehat tidak ada gangguan apa-apa, yang bisa dilakukan pertama kali adalah memposisikan diri senyaman mungkin. Kalau pasien nyaman dengan berbaring ya berbaring. Kalau pasien nyamannya duduk atau setengah duduk ya duduk atau setengah duduk sambil menunggu ke fasilitas kesehatan yang ada EKGnya, syukur-syukur kalau bisa ke rumah sakit ya karena dalam sepuluh menit diagnosa serangan jantung sudah bisa ditegakkan lalu kita bisa melakukan tata laksana lebih cepat lebih baik," jelasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Jantung.jpg)