Timor Leste

Timor Leste dari KTT Khusus Australia-ASEAN: Gagal Memanfaatkan Momen Ini

Para pembuat kebijakan di Eropa saat ini belum memanfaatkan potensi penuh dari kemitraan UE-ASEAN. Mereka harus belajar dari pendekatan Australia.

Editor: Agustinus Sape
AP/HAMISH BLAIR
Menlu Australia dan para menlu negara ASEAN foto bersama pada KTT Istimewa ASEAN-Australia. Hubungan antara keduanya semakin erat seiring dengan banyaknya komitmen baru untuk memperdalam kerja sama di bidang perdagangan, energi ramah lingkungan, dan keamanan maritim. 

Prestasi penting lainnya termasuk kemitraan komprehensif dengan Laos, perjanjian pertahanan baru dengan Timor Leste, serta meningkatkan hubungan diplomatik dengan Vietnam, Filipina, dan Brunei.

Penyelenggaraan KTT Khusus ASEAN (4-6 Maret) di Melbourne menandai puncak dari upaya tersebut.

Baca juga: Timor Leste Dapat Perhatian, PM Albanese Tutup KTT Khusus ASEAN-Australia dengan Seruan Destiny

Australia menunjukkan bahwa Eropa dapat berbuat lebih banyak untuk terlibat dengan ASEAN. Peningkatan aktivitas baru-baru ini, seperti kunjungan Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen ke Filipina atau pertemuan puncak tingkat menteri UE-ASEAN dan Indo-Pasifik pada bulan Februari, merupakan awal yang baik.

Namun, mengingat penekanan ASEAN pada dialog dan keterlibatan pribadi, ketidakhadiran tokoh-tokoh penting seperti menteri luar negeri Perancis dan Jerman dalam pertemuan-pertemuan penting multilateral melemahkan upaya untuk memperkuat hubungan bilateral. Upaya Eropa harus ditingkatkan dan dipertahankan untuk meningkatkan hubungan antar blok.

Australia juga telah memperkuat hubungannya dengan kawasan ini dengan menetapkan agenda kerja sama yang jelas, sambil secara hati-hati menyesuaikan kebijakannya dengan kebutuhan kawasan.

Peluncuran strategi ekonomi Asia Tenggara tahun lalu dan pengumuman fasilitas investasi sebesar AU$ 2 miliar pada pertemuan puncak tersebut memberikan peta jalan yang jelas untuk meningkatkan perdagangan dan investasi dua arah.

Ini merupakan langkah penting, seiring upaya anggota ASEAN untuk mengurangi ketergantungan ekonomi mereka pada Tiongkok.

Langkah-langkah ini juga merespons secara langsung kesenjangan pendanaan di bidang-bidang seperti transisi energi dan dengan demikian menggarisbawahi komitmen Australia untuk mendengarkan mitra-mitranya dan memberikan dampak yang ditargetkan.

Sebaliknya, terdapat skeptisisme di Asia Tenggara mengenai kapasitas UE dalam menerjemahkan komitmen prinsip menjadi inisiatif nyata yang memberikan manfaat bagi kawasan.

Misalnya, dari €10 miliar yang dijanjikan UE untuk proyek konektivitas pada KTT Peringatan UE-ASEAN 2022, lebih dari setengahnya masih perlu dimobilisasi dua tahun kemudian.

Perselisihan dengan Malaysia dan Indonesia mengenai peraturan biofuel UE dan ancaman untuk mencabut hak istimewa perdagangan terkait isu hak asasi manusia di negara-negara anggota lainnya telah semakin memicu persepsi ambivalen terhadap Brussels di ASEAN.

UE saat ini dipandang terutama sebagai aktor normatif dan kolaborator dalam tantangan keamanan non-tradisional seperti perubahan iklim, lebih dari sekedar ‘cara ketiga’ yang strategis di tengah persaingan AS-Tiongkok di Indo-Pasifik.

Perang di Ukraina semakin memperkuat pandangan bahwa Eropa terganggu oleh lingkungannya dan akan memprioritaskan kolaborasi erat dengan Amerika dibandingkan otonomi strategis di Indo-Pasifik.

Oleh karena itu, untuk membangun kredibilitasnya sebagai mitra ASEAN, penting bagi Eropa untuk menindaklanjuti prinsip-prinsipnya secara nyata.

Menavigasi perbedaan geopolitik

Halaman
123
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved