Berita NTT
Menatap Jauh ke Ambeno dari Ketinggian Napan Timor Tengah Utara
kita boleh melihat kawanan rusa atau babi hutan bahkan sapi liar bertengger di celah-celah bukit yang terjal pada ketinggian
Penulis: Paul Burin | Editor: Rosalina Woso
Sesuai skedul, sesungguhnya pembangunan fisik sudah selesai pada tahun 2023 lalu, namun diperpanjang hingga tahun 2024.
Rieke mengatakan, kekerabatan antara warga Ambeno dan TTU sangat erat dan kental. Juga budaya serta bahasa yang sama, yakni Dawan meski penduduk di sana menggunakan juga bahasa Tetum dan Portugis. Untuk memertemukan mereka pemerintah pusat punya konsep untuk membuat sebuah pasar mingguan di titik tertentu wilayah perbatasan.
Di sana, kata dia, mereka saling mengisi dan saling melangkapi bahan dagangan sekaligus juga dapat meminimalisir black market (pasar gelap) atau kartel lain di wilayah itu.
Hari itu terlukis sungguh indah ketika berada pada ketinggian Napan, memandang jauh ke sudut-sudut negara tetangga itu. Ada begitu banyak kisah yang terekam di sini. Tak hanya kepingan kisah kelam seperti praktik black market serta tapal batas negara yang kerap dipindahtempatkan atau digeser sehingga menimbulkan gejolak.
Di Napan, sekarang, warga telah menyadari posisi tawarnya yang sungguh strategis itu. Dan, karena itu mereka patut memanfaatkan beranda negeri ini untuk kemajuan mereka. Dari sisi ekonomi, mereka patut merebutnya.
Ada kisah lainnya, yakni menjelang rembang malam Plt PLBN Rieke, menyebut, "Kita dapat menyaksikan keindahan sunset yang sungguh sempurna dan memesona mata." Sebuah Enclave Distrik Ambeno dengan ibukota Oecussie melalui pintu PLBN Napan maupun PLBN Wini merupakan sebuah enclave (kantong) negara itu.
Kota Oecussie dapat dijangkau dari PLBN Napan sejauh 24 kilometer atau kurang lebih 45 kilometer dari Kota Kefamenanu. Ia berada di satu titik lain, pisah dengan wilayah lain negara itu.
Secara geografis letaknya berada di wilayah NTT, berbatasan langsung dengan TTU dan Kabupaten Kupang. Jika melalui darat dari belahan lain negeri Timor Leste menuju ke Kota Oecussie, pasti melewati dua wilayah kabupaten, yakni Belu dan TTU di wilayah Indonesia.
Dengan kata lain, warga negara Timor Leste wajib “permisi” dulu pada penduduk di dua wilayah ini jika hendak menuju ke Oecussie, dan sebaliknya. Kita jangan pernah membayangkan sebuah ketertinggalan lagi. Sebagai daerah sabuk merah, jalur transportasinya sungguh amat “tol.”
Jalan ber-hotmix dan lebar sungguh pula menjadikan siapa saja menyenangi lintasan itu. Mulus, lancar dan tentu saja mengubah perspektif kita bahwa wilayah yang dulunya tertinggal, kondisi jalan yang "compang-camping," tambal sulam serta sempit kini tak ada lagi. Yang buruk-buruk itu telah pergi. Negara telah menatanya menjadi sungguh terhormat.
Jika PLBN Wini masih cukup jauh, sekitar 60 kilometer, maka PLBN Napan menjadi pilihan yang lebih “ringan” dari sisi letak dan waktu. Karena itu, siapa pun akan lebih memilih berwisata ke PLBN Napan yang dibangun di atas lahan seluas 16 hektar itu.
Dari segi jarak memang PLBN Wini butuh waktu sejam lebih, tapi ia menawarkan view gunung-gemunung serta pebukitan yang sungguh indah pula. Kita akan menyaksikan bukit-bukit nan terjal yang mengapit bahkan seakan memayungi badan jalan. Dalam waktu yang mujur kita boleh melihat kawanan rusa atau babi hutan bahkan sapi liar bertengger di celah-celah bukit yang terjal pada ketinggian tertentu sembari merumput.
Sebuah pemandangan yang tak lasim, namun sungguh elok dan membuat hati bahagia. Dari situ kita akan menuju ke Pelabuhan Laut Wini dengan seribu satu panorama alam sebelum ke PLBN Wini. Pun tempat wisata bahari Tanjung Bastian di bagian timur yang selama ini menjadi obyek wisata bahari andalan di daerah itu.
Dari wilayah TTU panorama alam akan kita saksikan dengan lugas dan transparan hingga Pelabuhan Laut Atapupu di Kabupaten Belu. Pada area sabuk merah ini ada satu di antara obyek wisata lain yang tak kalah menarik adalah pesona alam Bukit Tuamese di Kecamatan Biboki Anleu.
Banyak orang menyamakannya dengan gugusan Pulau Raja Ampat di Papua sana. Selain Bukit Tuamese juga ada Sumnali yang letaknya di pesisir pantai bersebelahan dengan Tanjung Bastian.
Sumnali (dalam dialek warga setempat yang kurang lebih bermakna seminari itu diyakini sebagai titik pertama atau lokasi seminari perdana di Pulau Timor tempo dulu. Sejumlah spot pariwisata ini tentu saja memberi khazanah pengetahuan yang menggembirakan siapa saja, tak terkecuali.
Karena itu, silakan Anda datangi! (Paul Burin)
Ikuti Berita POS-KUPANG.COM Lainnya di GOOGLE NEWS
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.