Sabtu, 25 April 2026

Berita Flores Timur

JPIC Bersama Gereja, Pemerintah dan Polisi Perangi TPPO di Flores Timur

Justice Peace and Integrity of Creation (JPIC) SSpS Flores Bagian Timur mengajak gereja, pemerintah, aparat penegak hukum, dan para relawan

Editor: Eflin Rote
POS-KUPANG.COM/PAUL KABELEN
Pernyataan sikap Pemkab Flores Timur, Polres Flores Timur, pihak gereja, pemerintah desa, dan relawan JPIC terkait TPPO, Sabtu, 17 Februari 2024. 

Wakapolres Flores Timur, Kompol Anak Agung Gede Ngurah Surya, mengajak semua unsur dan elemen masyarakat selalu bekerjasama dengan kepolisian. Jika ditemukan perekrutan tidak jelas asal-usulnya, maka segera lapor ke aparat setempat agar dapat diselidiki.

Ia menerangkan, baru-baru ini dua oknum perekrut tenaga kerja ilegal dijatuhi hukuman penjara karena terbukti ikut melakukan TPPO. Keduanya adalah warga dari Titehena dan Tanjung Bunga.

Mantan Wakapolres Nagekeo ini menuturkan, faktor TPPO terjadi akibat masalah ekonomi, pendidikan, dan relasi keluarga yang tergolong rentan. Tak sedikit anak putus sekolah pergi merantau melalui jalur non prosedural alias ilegal.

"Kalau ada hal seperti itu, mohon kasih informasi ke kami. Persoalan ini tidak ada ampun untuk kita proses hukum. Mohon dukungan suster, pastor, dan semua kita" ujarnya.

Pastor Paroki Maria Ratu Semesta Alam Hokeng, Maxi Seno, SVD, menggaris bawahi point yang disampaikan Wakapolres terkait relasi keluarga.

Dia menerangkan, perdagangan orang biasa terjadi karena relasi atau hubungan dalam keluarga yang sangat buruk. Ketika hal itu terjadi, anggota keluarga bisanya mencari informasi di tempat yang salah.

"Ketika dia berangkat, maka dia jadi korban. Lalu yang berikut tentang skill atau keterampilan. Saya seorang sarjana, tapi kalau tidak punya keterampilan, saya akan jadi korban, misalnya korban permainan orang," ucapnya.

Pentingnya Keterampilan

Kepala Dinas Nakertrans Flores Timur, Ramon Piran, mengatakan pemerintah daerah pasti punya komitmen untuk memusnahkan human trafficking. 

Dia menjelaskan, keinginan merantau selalu melekat bahkan menjadi budaya masyarakat Flores Timur. Banyak aspek bisa terpenuhi, misal biaya pendidikan dan membangun rumah.

Akan tetapi, tutur Ramon, budaya merantau kebanyakan tidak melalui prosedur yang jelas. Warga pergi secara mendadak tanpa dibekali keterampilan dan kompetensi saat bekerja.

Dia mencontohkan, calon PMI yang ingin bekerja sebagai asisten rumah tangga belum tahu bahwa majikan di tempat perantauan sudah menggunakan tekhnologi modern untuk urusan mencuci dan memasak.

"Contoh, kalau kita di rumah cuci pakaian pakai sikat, sementara majikan di Malaysia sudah pakai mesin yang lebih canggih. Maka sebelum anda berangkat harus ada skill," ucapnya.

Baca juga: Petugas KPPS di Flores Timur Pingsan dan Muntah-muntah Usai Pemilu 2024

Ramon menjelaskan, Dinas Nakertrans Flores Timur sudah membangun kerja sama dengan Perusahaan Pemberangkatan Pekerja Migran Indonesia (P3MI) atau dulunya dikenal PJTKI. Perusahaan tersebut sudah berbadan hukum dan resmi.

Dia mengarahkan calon PMI mendownload aplikasi SIAPkerja yang memberikan layanan informasi terkait ketenagakerjaan. Aplikasi itu menyediakan pelbagai jenis pekerjaan. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved