Jumat, 17 April 2026

Renungan Harian Katolik

Renungan Harian Katolik 8 Februari 2024, Menjadi Pemimpin Menurut Kehendak Allah

Mari kita menyiapkan diri dan merawat hati agar bertumbuh dalam diri rasa empati dan bekerja demi kebaikan dan kesejahteraan hidup sesama.

Editor: Rosalina Woso
POS-KUPANG.COM/HO-PATER CHRIS SURINONO
Pater Chris Surinono, O.C.D menyampaikan Renungan Harian Katolik 8 Februari 2024 dengan judul Menjadi Pemimpin Menurut Kehendak Allah. 

POS-KUPANG.COM - Renungan Harian Katolik 8  Februari 2024 dengan judul Menjadi Pemimpin Menurut Kehendak Allah.

Renungan Harian Katolik 8  Februari 2024 dengan judul Menjadi Pemimpin Menurut Kehendak Allah di tulis oleh Pater  Chris Surinono, O.C.D dan mengacu dalam Bacaan: IRaj 11: 4-13 dan Injil Markus 7: 24-30

Renungan kita hari ini berdasar pada dua bacaan Kitab Suci, yakni Kitab Raja-Raja, 1Raj 11: 4-13 dan Injil Markus 7: 24-30.

Ada dua tokoh utama yang dikisahkan, yakni Salomo dan Yesus Kristus. Dari mereka kita bisa belajar banyak hal tentang menjadi pemimpin.

Baca juga: Renungan Harian Katolik Selasa 6 Februari 2024, Pergilah, Jadikanlah semua bangsa murid-Ku

Pemimpin dalam konteks ini bukan saja mereka yang mengepalai suatu bangsa atau wilayah daerah, atau satu oraganisasi sosial dan keagamaan, namun juga adalah semua mereka yang dipercayakan untuk mengatur sekelompok orang, termasuk yang terkecil, yakni keluarga.

Raja salomo dan Yesus memperlihatkan kepada kita ciri dan karakter seorang pemimpin yang baik dan benar.

Salomo diangkat menjadi Raja menggatikan Daud, ayauhnya. Ia termasuk sukses pada awal kepemimpinanya, namun tidak diakhir kepemimpinanya. Perlahan-lahan sebagaimana dikisahkan, pamor dan kepiwaiannya mulai pudar karena kecendrungan hati yang keliru.

Awal perikop ini dikatakan: “Ketika Raja Salomo menjadi tua, istri-istrinya mencondongkan hatinya kepada dewa-dewa, sehingga ia tidak dengan sepenuh hati berpaut kepada Tuhan Allahnya, seperti Daud, ayahnya”.

Istri Salomo yang banyak itu adalah perwakilan dari suku-suku Israel yang tentunya memiliki dewa-dewa sembahannya masing-masing.

Bertambahnya usia tidak diimbangi dengan kekuatan iman akan Tuhan Allahnya. Semakin tua, Salomotidak lebih mengandalkan Tuhan, melainkan justru lebih mendengar bisikan, rayuan dan desakan dari mereka yang tidak memiliki Allah yang benar.

Kedekatan dengan istri-istrinya tidak menjadi jembatan mengalami kebaikan Allah, tapi justru membuka kesempatan untuk bersandar pada yang bukan Allah dan kebaikkany-Nya. Salomo jadi lupa diri dan melupakan kebaikan Allah yang telah menjadikannya raja.

Kalau jauh dari Allah, maka setan pasti akan mendekat, membujuk dan menguasasi: “Salomon melakukan apa yang jahat dimata Tuhan dan tidak dengan sepenuh hati mengikuti Tuhan, seperti Daud, ayahnya”.

Beda dengan apa yang dijalani Yesus Kristus. Perikop ini berbicara soal seorang Allah yang peduli dengan keselamatan manusia. St. Markus menepatkan seorang wanita Siro-Fenisia sebagai wakil semua orang yang rindu untuk selamat dan siap menerima keselamatan yang ditawarkan Yesus. Wanita ini meminta agar Yesus menyembuhkan putrinya yang sedang dikuasai setan.

Baca juga: Renungan Harian Katolik Selasa 6 Februari 2024, "Peringatan Santo Paulus Miki, Imam dan Martir"

Yesus menanggapi permintaannya, namun dengan satu pernyataan yang menohok: “Biarlah anak-anak kenyang dahulu! Tidak patut mengambil roti yang disediakanbagi anak-anak dan dilemparkannya kepada anjing”.

Apa yang dikatakan Yesus sebenarnya juga sebuah kritikan kepada golongan tertentu yang mengklaim diselamatkan oleh Allah, sedangkan yang lain itu tidak masuk perhitungan Allah.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved