Pilpres 2024

Banyak Kampus Kritik Presiden Jokowi, Anies Baswedan: Sikap Itu Tidak Datang Tiba-tiba

Belakangan ini, kritikan terhadap Presiden Jokowi datang silih berganti. Kali ini sorotan tersebut mengalir dari sejumlah kampus ternama di Indonesia.

Penulis: Frans Krowin | Editor: Frans Krowin
ISTIMEWA/POS-KUPANG.COM
TIDAK TIBA-TIBA – Anies Baswedan calon presiden nomor urut 1 menyambut gembira sikap kalangan kampus terhadap demokrasi di Indonesia. Bahwa kritikan kampus itu tidak datang begitu saja. 

POS-KUPANG.COM – Belakangan ini, kritikan terhadap Presiden Jokowi datang silih berganti. Kali ini sorotan tersebut mengalir dari sejumlah kampus ternama di Indonesia.  Ada UGM, Universitas Indonesia, Universitas Padjadjaran (Bandung), Universitas Hasanuddin

Makassar juga Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin.

Kalangan kampus itu menguliti habis Presiden Jokowi lantaran dinilai tidak netral dalam Pilpres 2024 ini. Ketidaknetralan itu terlihat dari sejumlah pernyataan, termasuk menyebutkan bahwa presiden, para menteri dan pejabat negara boleh turun dan berkampanye.

Atas fakta itulah, calon presiden nomor urut 1, Anies Baswedan angkat bicara. Ia juga mengkritisi Presiden Jokowi namun dengan pernyataan yang soft. Ia menyebutkan bahwa apa yang disampaikan itu telah disampaikannya selama ini.

Dikatakannya, bahwa kritikan dari kalangan kampus itu tidak muncul begitu saja. Ia juga berterima kasih, karena sikap kampus itu sesungguhnya yang diharapkan selama ini.

"Jadi, kalangan kampus itu berbicara karena menangkap apa yang sesungguhnya terjadi di masyarakat," kata Anies Baswedan, Jumat 2 Februari 2024.

Menurut dia, sudah sejak lama dirinya menggaungkan ketidaknetralan para pihak yang terjadi menjelang Pilpres 2024 yang kini sedang berproses.

Ia pun berulang kali menekankan agar pemerintah harus selalu menjaga netralitas, sehingga proses penyelenggaraan negara tetap berjalan adil.

"Kami sudah menyampaikan pesan ini sejak lama, menjaga netralitas, menjaga keadilan, wasit supaya menjadi wasit yang fair. Wasit yang tidak merangkap pemain, wasit yang tidak merangkap promotor," ujarnya.

Anies juga menilai bahwa petisi dari para akademisi Universitas Gadjah Mada merupakan bentuk kepedulian terhadap demokrasi di negeri ini.

Ia pun mengaku senang, karena akademisi tak lagi diam menyaksikan kondisi kenegaraan di Indonesia saat ini. "Kami senang bahwa kampus menyuarakan dan itu menunjukkan bahwa kampus peduli, kampus tidak diam menyaksikan kondisi bangsa," ujarnya.

Anies pun menegaskan bahwa inilah saatnya masyarakat Indonesia menentukan, apakah negara ini akan menjadi negara hukum atau negara kekuasaan.

Dengan adanya petisi dari para akademisi, Anies pun yakin Indonesia akan tetap terjaga sebagai negara hukum.

"Saya berkeyakinan insyaallah kita akan bisa menjaga untuk menjadi negara hukum," ujarnya.

Hal senada disampaikan Muhaimin Iskandar. Dia mengatakan kritik yang dilakukan kampus Indonesia merupakan evaluasi terhadap pemerintahan Jokowi.

Halaman
123
Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved