Opini
Jangan Gelisah dan Resah
Semua tunggu tanggal empat belas Februari. Entah itu tanggal kelam atau hari cerah, sulit dibayangkan. Hari itu hari Rabu.
Oleh Anton Bele
Pemerhati masalah sosial-politik, tinggal di Kupang
POS-KUPANG.COM - Tanggal 14 Februari 2024 ini menjadi tanggal yang sangat penting untuk kita semua Bangsa Indonesia. Pemilihan Umum. Para caleg, calon legislatif, jangan gelisah, apalagi resah.
Langsung dijawab, “Mana mungkin kami tidak gelisah dan resah. Berapa banyak dana, tenaga dan waktu yang kami gunakan untuk cari dan kumpul suara bakal pencoblos gambar kami di kertas suara dalam bilik di tempat pemungutan suara. Jantung ini rasa mau putus.”
Mengapa gelisah, mengapa resah? Ada harus. Contoh. Daerah pemilihan tertentu mendapat jatah tujuh kursi. Berarti tujuh orang yang pasti akan duduk di kursi itu.
Lalu yang menjadi caleg untuk meperebutkan tujuh kursi terhormat itu, tujuh belas partai kali tujuh kursi sama dengan seratus sembilan belas calon. Itu berarti, seratus dua belas calon pasti tidak dapat kursi.
“Saya yang calon ini penuh harap untuk masuk dalam kelompok tujuh orang itu dan tidak masuk dalam kelompok seratus dua belas orang itu”. Ini terungkap dari mulut seorang caleg.
Kita simak di sini matematika sederhana. Tujuh kursi tersedia untuk tujuh calon terpilih. Ada tujuh belas partai, maka tujuh belas partai kali tujuh calon maka terdaftarlah seratus sembilan belas caleg.
Nama mereka diumumkan kepada masyarakat. Sang caleg sendiri dengan segala upaya memperkenalkan diri entah baru mulai, pemula atau yang sedang menduduki kursi dewan dan masih mau terus, atau yang sudah lama dan pernah lima tahun silam mencalonkan diri tapi gagal.
Semua ramai-ramai memenuhi tempat-tempat khusus dalam kota atau desa, malah di jalan-jalan, menegakkan baliho berupa potret raksasa bertuliskan nama dan Partai serta nomor urut.
Ribuan mata mendapat santapan pandangan khusus, tampilnya calon-calon dari daerah pemilihan atau dapil masing-masing. Begitu banyak calon, nanti yang jadi, sebagai contoh, dari seratus sembilan belas caleg hanya tujuh orang yang jadi.
Berarti, seratus sembilan belas caleg dikurangi tujuh orang yang nanti jadi duduk di kusi Dewan, sama dengan seratus dua belas orang yang tidak dapat kursi. Tragis. Ini contoh kecil.
Kalau ditotal untuk seluruh Indonesia? Dari tingkat Kabupaten, Kota, Provinsi sampai Pusat? Berapa ribu orang yang masuk dan berapa ribu yang tidak masuk? Mana mungkin tidak gelisah dan resah?
Semua tunggu tanggal empat belas Februari. Entah itu tanggal kelam atau hari cerah, sulit dibayangkan. Hari itu hari Rabu, entah Rabu yang abu atau Rabu yang baru. Yang menang jadi arang karena sudah parah.
Cari untuk pulihkan dalam lima tahun mendatang. Tutup lubang kalau sempat gali. Kalau utang, kerja keras lunas utang. Dalam hari-hari menanti hari pencoblosan ini, nanti yang menang pun gelisah dan resah, yang nanti kalah apa lagi.
Sama-sama gelisah dan resah. Memang Pemilu itu bukan pertandingan, bukan perlombaan. Tidak ada kalah atau menang. Tapi nyatanya demikian.Yang jadi anggaplah menang. Yang tidak jadi, yah, kalah.
Baca juga: Bawaslu Hentikan Penelusuran Kasus Dugaan Kampanye Oknum Caleg di Rumah Jabatan Bupati Malaka
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/ilustrasi-pemilu.jpg)